JANTHO,KABARDAILY.COM – Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pelestarian budaya daerah. Pada Selasa, 16 September 2025, ISBI Aceh melaksanakan kegiatan pengabdian bertajuk “Pengembangan Potensi Rencong Melalui Pelatihan Electrochemical Etching with Stencil Masking” di Desa Baet, Kecamatan Sukamakmur, Aceh Besar.
Desa Baet selama ini dikenal sebagai salah satu sentra utama pengrajin rencong di Aceh. Keahlian membuat rencong diwariskan secara turun-temurun, dan menjadi sumber kebanggaan masyarakat setempat. Namun, tantangan zaman modern menuntut adanya inovasi agar rencong tetap diminati, baik oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Produk rencong yang dihasilkan selama ini cenderung sederhana, terutama pada bagian bilah logam yang masih polos tanpa ornamen. Hal ini membuat nilai estetik rencong belum maksimal, sehingga daya tarik di pasar juga terbatas.
Pelatihan yang digagas ISBI Aceh ini mencoba menjawab persoalan tersebut. Dengan menghadirkan teknik electrochemical etching with stencil masking, para pengrajin diperkenalkan pada metode modern untuk menambah ornamen pada bilah logam. Teknik etsa listrik ini relatif mudah, murah, serta ramah lingkungan, tetapi mampu menghasilkan ukiran detail yang memperkaya nilai artistik rencong.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala LPPM ISBI Aceh, Saniman Andi Kafri, M.Sn. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki kewajiban moral untuk hadir di tengah masyarakat melalui kegiatan yang berdampak nyata.
“Pengabdian masyarakat merupakan wujud kontribusi akademik yang tidak hanya mendukung pelestarian budaya, tetapi juga memberikan solusi bagi peningkatan keterampilan serta kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi titik awal kolaborasi antara pengrajin, akademisi, dan generasi muda dalam menjaga eksistensi rencong.
Pelatihan ini diikuti 35 peserta, terdiri atas para pengrajin rencong Desa Baet serta siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Mahyal Ulum Al Aziziyah. Kehadiran siswa SMK menjadi bagian penting dari program ini, karena pelestarian rencong membutuhkan keterlibatan generasi muda. Melalui pelatihan, siswa tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga pengetahuan tentang makna budaya rencong yang sarat nilai sejarah dan filosofi.
Sebagai narasumber utama, Reza Sastra Wijaya, M.Sn., menekankan pentingnya keseimbangan antara inovasi dan nilai tradisi. “Pelatihan ini tidak hanya berfokus pada teknik etsa, tetapi juga pada pemahaman tentang bagaimana tradisi dapat dikembangkan dengan pendekatan kontemporer. Inovasi diperlukan agar produk rencong mampu bersaing di pasar modern, tetapi nilai budaya dan filosofi yang melekat pada rencong harus tetap dijaga,” jelasnya.
Selama pelatihan, peserta mendapatkan pemahaman teoritis mengenai prinsip kerja electrochemical etching, sekaligus praktik langsung mulai dari pembuatan desain stencil hingga proses etsa pada logam. Para pengrajin diberikan keleluasaan untuk berkreasi dengan motif tradisional Aceh seperti pucok rebung, meucanek, dan motif geometris khas lainnya. Hasilnya, bilah rencong yang semula polos berhasil dihias dengan detail ornamen yang memperkaya tampilan artistik.
Kegiatan ini tidak hanya memberi pengalaman baru, tetapi juga membuka wawasan peserta tentang potensi pengembangan produk rencong. Dengan teknik modern, pengrajin dapat memperluas variasi desain sehingga produk rencong lebih diminati pasar, termasuk segmen wisatawan yang mencari cinderamata khas Aceh.
Program pengabdian ini terlaksana berkat dukungan dana dari PNBP ISBI Aceh. Kepala LPPM menegaskan bahwa keberlanjutan program akan terus didorong, baik melalui pendampingan lanjutan maupun kolaborasi lintas sektor.
“Kami ingin agar hasil pelatihan ini tidak berhenti di sini, melainkan berkembang menjadi gerakan bersama untuk menguatkan ekonomi kreatif berbasis budaya,” tambahnya. Rencong, yang selama ini dikenal sebagai simbol keberanian dan identitas masyarakat Aceh, kini diproyeksikan juga sebagai produk seni dan budaya yang memiliki nilai ekonomi.
Dengan inovasi yang ditawarkan, diharapkan rencong tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu bersaing di pasar modern tanpa kehilangan jati diri.
Kegiatan di Desa Baet ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, pengrajin, dan generasi muda dapat menciptakan inovasi berbasis tradisi. ISBI Aceh berharap pelatihan ini dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan produk budaya lainnya, sekaligus memperkuat posisi Aceh sebagai daerah yang kaya dengan warisan seni dan budaya.




















