Putri Gayo dari Rusia Jadi Juri Pawai Budaya HUT ke-80 RI di Banda Aceh

BANDA ACEH,KABARDAILY.COM – Semarak Pawai Budaya dalam rangka HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia yang digelar Pemerintah Kota Banda Aceh melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), Senin (18/8/2025), menghadirkan sosok istimewa di jajaran dewan juri. Ia adalah Gustira Monita, putri asal Bener Meriah yang kini tengah menempuh studi doktoral bidang filsafat seni dan estetika di Rusia.

Kehadiran Gustira sebagai juri bukan kali pertama. Tahun lalu, ia juga dipercaya menilai pawai budaya tingkat provinsi. Namun, tahun ini terasa lebih berkesan karena ia baru saja kembali dari Rusia untuk melanjutkan riset lapangannya, sekaligus ikut terlibat dalam perayaan seni dan budaya tanah kelahirannya.

Pawai budaya yang dimulai dari Stadion Lhong Raya dan berakhir di Taman Sari, depan Kantor Wali Kota Banda Aceh, diikuti ratusan peserta dari berbagai jenjang sekolah dasar hingga menengah atas. Kostum warna-warni, tarian tradisi, serta atraksi budaya khas Aceh memukau ribuan penonton yang memadati sepanjang rute pawai.

Bagi Gustira, kesempatan menjadi juri bukan hanya sekadar penilaian formalitas. Ia menilai pawai budaya sebagai ruang perjumpaan yang menghubungkan sejarah, seni, dan identitas masyarakat. “Saya melihatnya sebagai panggung terbuka di mana generasi muda belajar mencintai budaya mereka melalui ekspresi yang penuh semangat,” ujar Gustira.

Gustira dikenal sebagai seniman multidisiplin yang piawai menggabungkan tradisi dengan gagasan kontemporer. Pilihannya menempuh studi doktoral di Rusia memperkaya wawasannya, terutama dalam membandingkan filosofi estetika Timur dan Barat. Hal ini pula yang menurutnya penting untuk memperkuat posisi seni Aceh di tengah arus globalisasi.

Selain menilai pawai budaya, kepulangannya tahun ini juga dimanfaatkan untuk melakukan riset lapangan tentang estetika budaya lokal. Ia berencana menelusuri narasi visual dan performatif dari seni tradisi Gayo hingga pesisir Aceh, untuk kemudian dikaitkan dengan teori filsafat seni yang sedang digarapnya di kampus. “Saya ingin riset saya tidak hanya berhenti di ruang akademik, tetapi juga kembali ke masyarakat Aceh sebagai sumber pengetahuan,” tambahnya.

Pemerintah Kota Banda Aceh melalui Dispora menyambut baik kehadiran Gustira. Menurut mereka, figur akademisi muda diaspora Aceh yang terlibat langsung dalam kegiatan kebudayaan dapat menjadi teladan bagi generasi berikutnya. “Ini membuktikan bahwa anak Aceh di manapun berada tetap membawa pulang ilmunya untuk kemajuan daerah,” kata seorang pejabat Dispora.

Para peserta pawai pun merasa bangga mendapat perhatian dari juri yang tengah meniti karier akademik di luar negeri. Bagi mereka, keberadaan sosok seperti Gustira memberi semangat bahwa budaya Aceh tidak hanya dipandang indah di negeri sendiri, tetapi juga dapat dikaji, diapresiasi, dan diperbincangkan di panggung internasional.

Pawai budaya tahun ini bukan hanya selebrasi kemerdekaan, melainkan juga refleksi atas kekuatan budaya sebagai jembatan lintas generasi. Gustira Monita hadir sebagai simbol pertautan antara tradisi dan pengetahuan modern, sekaligus bukti bahwa Aceh memiliki potensi besar dalam melahirkan putra-putri daerah yang mampu berkiprah di level global tanpa melupakan akar budaya.

Dengan kehadirannya, HUT ke-80 RI di Banda Aceh semakin bermakna. “Setiap kali pulang, saya selalu merasa Aceh adalah ruang riset dan ruang hati saya. Budaya kita adalah identitas yang tidak boleh hilang, dan saya ingin terus menjadi bagian dari upaya menjaga serta merayakannya,” tutup Gustira penuh haru.