- Oleh Feri Irawan
KABARDAILY.COM – Mengutip berbagai sumber relevan, popularitas Portugal di Aceh sangat melekat melalui sejarah konflik abad ke-16 dan keberadaan komunitas unik “Bule Lamno” di Kabupaten Aceh Jaya.
Secara historis, Kesultanan Aceh dan bangsa Portugal adalah musuh bebuyutan yang saling menyerang selama sekitar satu abad. Mereka bersaing keras dalam menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka dan penyebaran agama.
Namun setiap klub dan negara yang dibela Ronaldo, masyarakat selalu mendukungnya.
Dukungan penuh dari anak muda Aceh terlihat sangat jelas di berbagai warung kopi di Aceh, di mana mereka berkumpul untuk menggelar nonton bareng (nobar). Setiap kali Ronaldo mencetak gol atau menunjukkan aksi gemilang, suasana warkop langsung bergemuruh dengan dukungan meriah.
Meskipun budaya lokal di Aceh memiliki nilai-nilai keislaman yang sangat kental dan terkadang memicu kontroversi mengenai fanatisme suporter sepak bola secara umum, pesona Ronaldo berhasil menembus batas-batas tersebut.
Simpati dan apresiasi kultural masyarakat Aceh terhadap CR7 bukan sekadar karena kepiawaiannya mengolah bola di lapangan, melainkan karena nilai kemanusiaan dan empati nyata yang ditunjukkannya saat Aceh berada di titik terendah.
Pemujaan Gen Z di Aceh terhadap Cristiano Ronaldo bukan sekadar karena kehebatannya di lapangan, tetapi berakar kuat pada ikatan emosional sejarah pasca-tsunami 2004. Kebaikan sang bintang yang datang langsung mengunjungi para korban, termasuk mengangkat Martunis sebagai anak angkat: meninggalkan warisan rasa hormat yang diwariskan turun-temurun.
Bahkan dukungan fanatik masyarakat Aceh terhadap Cristiano Ronaldo dan Timnas Portugal adalah fenomena nyata yang terus menguat. Meskipun permainan Portugal dinilai buruk atau gagal meyakinkan, basis penggemar di Serambi Mekkah tetap setia memberikan pembelaan dan dukungan penuh kepada sang legenda
Nama besar pemain bernomor punggung 7 tersebut sangat melekat di kalangan gen z Aceh, menjadikan Portugal sebagai tim favorit utama di berbagai warung kopi dan acara nonton bareng (nobar) di Aceh.
Aksi kemanusiaan sang megabintang pascabencana tersebut membekas di hati rakyat Aceh. Dukungan kepada pemain berjuluk CR7 itu bahkan menjadi bentuk apresiasi dan balas budi yang terus mengakar kuat. Kecintaan ini terlihat jelas di berbagai pelosok Aceh hingga saat ini, di mana masyarakat kerap memadati warung kopi untuk bersama-sama mendukung kiprah Portugal dan Ronaldo di ajang internasional seperti Piala Dunia tahun ini.
Namun sayang, perjalanan Timnas Portugal di Piala Dunia 2026 harus terhenti di babak 16 besar setelah kalah dramatis 0-1 dari Spanyol. Tersingkirnya tim ini sekaligus mengubur impian Cristiano Ronaldo untuk meraih trofi Piala Dunia, yang memicu kesedihan mendalam bagi bolamania Aceh, bahkan di seluruh dunia.
Ya, Portugal lewat Ronaldo-nya telah berhasil mengambil hati masyarakat Aceh.
Seperti petuah orang tua kita dahulu. Mengambil hati masyarakat Aceh paling efektif dilakukan melalui pendekatan empati, menghargai budaya, dan tulus menjalin silaturahmi. Karena kemanusiaan adalah fondasi sosial yang sangat dijunjung tinggi di Tanah Rencong.
Penulis adalah Penggemar Sepakbola dan Kepala SMKN 1 Gandapura




















