27.1 C
Banda Aceh
BerandaCerpenPenemuan Mesin

Penemuan Mesin

  •     Penulis : Ramli Lahaping*

Cerpen,kabardaily.com – “Kenapa kau ingin kuliah di pulau seberang? Apa kau tak mau tinggal di sini saja untuk mengurus sawah ayahmu?” tanya Jumi kepada Samsir, tiga tahun yang lalu, kala mereka tengah beristirahat di balai-balai sawah selepas menanam padi, saat mereka baru saja lulus SMA. “Jadi petani yang ulet, kan, bisa juga membuatmu kaya raya.”

Samsir tergelak pendek mendengar pertanyaan dan pernyataan teman dekatnya sepanjang masa sekolah itu. “Kukira, pendidikan itu penting. Akan lebih baik jika aku menjadi seorang petani yang berpendidikan, kan?”

Jumi pun mengangguk manyun. “Iya, sih. Asalkan kehidupan kota tidak malah membuatmu lupa pada kampung halaman dan tidak pula membuatmu ogah berurusan dengan persoalan pertanian.”

Samsir kembali tergelak. “Ya, pasti begitu. Aku bahkan berniat untuk membantu para petani di desa ini dengan ilmu yang akan kudapatkan di bangku kuliah,” tuturnya, memaksudkan keilmuan teknik mesin yang sedari dahulu ia cita-citakan.

“Bagaimana kau akan membantu masyarakat di sini? Bukankah nanti, setelah sarjana, kau malah akan mencari pekerjaan kantoran dengan gaji yang besar?” sidik Jumi, tampak meragukan.

Sekian detik, Samsir merenung-renung, kemudian menjawab, “Entahlah. Aku sendiri belum tahu. Tetapi aku memiliki tekad untuk itu,” balasnya, lantas balik bertanya, “Kau sendiri bagaimana? Apa kau benar-benar tak ingin lanjut kuliah.”

Jumi lantas mendengkus lesu. “Bukannya aku tak mau. Tetapi kau tahu sendiri kalau keadaan perekonomianku memang tidak memungkinkan. Selama ini, aku dan ibuku kan cuma menggantungkan hidup pada upah bekerja di lahan para warga sini, termasuk bekerja di lahan ayahmu ini.”

Samsir sontak bersedih atas pemahamannya perihal kenyataan itu.

“Seandainya saja almarhum ayahku dahulu bukan orang yang doyan menghambur-hamburkan uang untuk berjudi, dan ia tidak menjual lahan sawah kami, mungkin kami akan hidup berkecukupan, dan aku akan bisa kuliah,” ratap Jumi dengan raut muram.

“Bersabarlah,” tanggap Samsir, prihatin. “Besok-besok, kalau tabunganmu sudah cukup, kau masih punya kesempatan untuk lanjut kuliah, kok.”

Jumi pun mengangguk lemas.

Akhirnya, obrolan mereka kala itu berakhir.

Waktu demi waktu bergulir. Samsir dan Jumi terus berharap untuk kembali beriringan dalam jalur pendidikan. Tetapi sayang, jalan hidup mereka tetap berbeda. Jumi tak juga berkuliah karena faktor kemiskinan.

Tentu saja Samsir kasihan. Ia tahu kalau Jumi adalah sosok yang pintar dan mestinya berkuliah. Tetapi ia tak bisa apa-apa, sebab ia yang masih bergantung pada pendanaan orang tuanya, tak punya dasar untuk membantu. Karena itu, sepanjang waktu, ia hanya terus menggenggam janjinya kepada Jumi, bahwa ia tidak akan lupa diri untuk pulang kampung.

Tekad Samsir itu, benar-benar mendalam. Ia tidak bermaksud membual dan memberikan harapan palsu. Itu karena diam-diam, ia telah jatuh hati kepada Jumi. Ia bahkan telah menyusun rencana, bahwa di masa mendatang, ketika ia sudah sukses, ia akan meminang Jumi, sehingga pahit-manisnya kehidupan menjadi tanggungan mereka bersama.

Akhirnya, demi mimpi besar itu, Samsir berjuang keras sebagai seorang mahasiswa. Ia berusaha menciptakan inovasi yang bermanfaat untuk orang-orang di kampungnya, khususnya ayahnya. Ia bahkan tak ingin lulus kuliah tanpa menghasilkan penemuan yang berguna. Ia tak ingin menjadi sarjana yang egois, yang hanya ingin mendapatkan penghidupan yang menjamin dan melupakan peran sosialnya.

Demi cita-citanya itu, ia pun memikir-mikirkan kebutuhan para petani di kampungnya. Setelah sekian lama, ia kemudian menyadari persoalan ayahnya sebagai penggarap sawah. Ia tahu bahwa sang ayah dan para petani lainnya belum memiliki sokongan teknologi pada tahap penanaman. Karena itu, ia ingin menciptakan alat canggih yang mampu mengefisienkan pekerjaan tersebut.

Sepanjang waktu, ia pun berupaya mengonsepkan penciptaan teknologi khayalannya. Bersama dua orang temannya, juga dengan bantuan dosen pembimbingnya, ia akhirnya berhasil merancang mesin penanam padi yang andal. Setelah pengujian dan perbaruan terus-menerus, mereka pun menciptakan prototipe yang kemudian direplikasi menjadi beberapa rakitan.

Keberhasilannya itu akhirnya membawa ia dan timnya memperoleh juara pada sebuah ajang lomba inovasi teknologi antarmahasiswa tingkat nasional. Kemenangan mereka pun ramai diperbincangkan di media massa dan media sosial. Mereka dianggap sebagai mahasiswa cerdas yang memiliki kepedulian sosial untuk membantu menyelesaikan persoalan petani.

Sampai akhirnya, di tengah libur semester keenamnya, Samsir pulang kampung dengan prestasinya. Para warga yang mengetahui perihal keberhasilannya itu, akhirnya memberikan sambutan yang hangat. Mereka seolah turut berbangga atas keberhasilan anak kampung mereka tersebut. Mereka bahkan menjadikannya sebagai teladan bagi anak-anak mereka.

Atas kenyataan itu, Samsir merasa bersyukur. Ia merasa telah menjadi seseorang yang berguna, khususnya bagi ayahnya sendiri. Apalagi, sang ayah memang tampak sangat senang atas prestasinya. Sang ayah terlihat bangga sebab ia telah mengharumkan namanya sekeluarga. Sang ayah bahkan terus mengelu-elukannya, seolah-olah ia adalah anak terbaik di kampungnya.

Menyaksikan respons ayahnya, ia pun merasa bahagia. Ia merasa telah berhasil menyenangkan sang ayah. Apalagi, menyenangkan sang ayah yang kini merupakan orang tua tunggalnya, memang merupakan tujuan utama hidupnya. Itu karena ia sadar bahwa keberhasilannya tidak lepas dari kerja keras sang ayah sebagai petani demi mengongkosi pendidikannya.

Akhirnya, hari demi hari setelah ia membawa satu alat temuannya ke kampung, ayahnya dan para warga tampak antusias untuk mencobanya di sawah mereka. Pasalnya, dengan alat itu, mereka tak perlu lagi menghabiskan banyak waktu dan uang untuk pengupahan dalam proses penanaman. Itu karena bibit-bibit padi hanya perlu ditaruh di atas tatakan alat tersebut, yang kemudian digerakkan oleh mesin, hingga benih-benih tertanam dengan jarak yang tepat.

Dengan kedatangan Samsir membawa keberhasilannya, Jumi pun turut berbahagia. Ia merasa senang menyaksikan Samsir memenuhi janjinya untuk pulang dan berbakti kepada kampung halamannya. Apalagi, kepulangan Samsir merupakan wujud penantiannya untuk terus menjalin hubungan dengan teman semasa kecilnya tersebut. Itu karena diam-diam, ia juga telah lama memendam perasaan istimewa kepada Samsir.

Karena perasaannya pula, pagi tadi, di hari keenam kedatangan Samsir, Jumi memutuskan untuk bersua. Ia lantas mengunjungi dan menjumpai Samsir yang tengah menanam padi dengan menggunakan mesin canggihnya. Dengan senang hati, ia lalu sukarela membantu Samsir mengemas benih-benih padi dan menaruhnya di atas alat penanam itu. Ia seolah-olah ingin menunjukkan perhatiannya kepada Samsir.

“Aku senang kau kembali dengan prestasi luar biasamu ini. Kau memang hebat,” puji Jumi kemudian.

Samsir pun tersenyum. “Tak usah menyanjungku. Lagi pula, aku tidak akan seperti ini jika bukan karena kau. Sejak dahulu, sebelum berangkat ke kota seberang untuk berkuliah, aku telah meniatkan untuk pulang dan membawa keberhasilanku ke sini, sebagaimana yang pernah kuutarakan kepadamu,” tanggap Samsir, sambil terus mengemas benih-benih dari persemaian. “Jadi, bisa dibilang, selain ayahku, kau adalah alasan utamaku untuk melakukan semua ini.”

“Ah, kau bisa saja,” respons Jumi, dengan raut tersipu.

“Aku serius!” tegas Samsir.

Jumi pun melayangkan senyuman, kemudian memalingkan wajah dengan perasaan yang berbunga-bunga.

Atas sikap hangat Samsir, Jumi melalui momen kebersamaan mereka dengan suasana hati yang gembira. Diam-diam, ia pun mulai membaca bahwa Samsir punya perasaan yang sama terhadapnya. Karena itulah, detik-detik ia lalui dengan harapan yang makin besar, bahwa kelak, ia akan bersatu dengan Samsir sebagai sepasang kekasih sejati.

Hingga akhirnya, usai mengimpaskan rindunya kepada Samsir, Jumi lantas pulang dengan impian yang indah. Namun setelah sampai di rumahnya, ia lekas meredam raut bahagianya kala menyaksikan ibunya tengah duduk di teras depan dengan wajah murung, seolah mengesalkan sesuatu. Karena itu, ia lekas bertanya dengan sikap prihatin, “Ibu kenapa? Ibu sakit?”

Ibunya lantas menolehinya dengan raut datar. Sang ibu lalu menyidik tanpa menjawab pertanyaan terlebih dahulu, “Kau dari mana? Dari membantu Samsir menanam padi, kan?”

Jumi mengangguk saja dengan posisi berdiri di samping sang ibu.

“Memangnya, kau dapat upah berapa untuk membantunya bekerja dengan mesin itu?” tanya sang ibu lagi.

Jumi menggeleng. “Tidak ada, Bu.”

Sontak, sang ibu melengos. Tampak tidak berkenan. “Lalu kenapa kau mau ikut bekerja dengannya?”

Jumi pun kelimpungan meramu jawaban. Ia merasa tak sanggup dan tak sepantasnya berkata jujur bahwa ia punya perasaan lebih kepada Samsir. Karena itu, ia putuskan untuk balik bertanya, “Apa masalahnya kalau aku membantunya, Bu?”

Sang ibu lantas mendengkus sinis. “Ah, betapa bodohnya kau ini. Masak kau mau bekerja tanpa diupah?” jawabnya, kesal. “Kita ini buruh tani. Kita tidak akan bisa makan kalau kita tidak mendapatkan upah dari bekerja.”

Akhirnya, Jumi memahami alasan kemarahan ibunya.

“Pokoknya, mulai sekarang, kau jangan lagi dekat-dekat dan berurusan dengan anak itu,” tegas sang ibu, terdengar memerintah. “Bagaimanapun, ia telah membawa bencana bagi kita. Karena dia, kita telah kehilangan mata pencarian. Mesin sialannya itu telah membuat pekerja kita sebagai buruh, tak lagi dibutuhkan. Para warga desa lebih memilih untuk meminjam mesinnya daripada memakai tenaga kita untuk menanam padi mereka.”

Seketika, perasaan Jumi jadi kacau.

“Entah apa lagi yang bisa kita kerjakan untuk bertahan hidup. Dahulu, mesin-mesin telah mengambil pekerjaan kita pada masa panen padi. Dan sekarang, pada masa tanam juga. Ini gara-gara anak itu,” keluh sang ibu.

Jumi pun bingung untuk merespons. Ia lantas masuk ke dalam rumah sembari memikir-mikirkan masa depan hubungannya dengan Samsir.***

*Ramli Lahaping. Kelahiran Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Menulis di blog pribadi (sarubanglahaping.blogspot.com). Telah menerbitkan cerpen di sejumlah media daring. Bisa dihubungi melalui Twitter (@ramli_eksepsi) atau Instagram (@ramlilahaping).

spot_img
spot_img
spot_img
Banda Aceh
overcast clouds
27.1 ° C
27.1 °
27.1 °
78 %
0.6kmh
97 %
Sel
27 °
Rab
28 °
Kam
28 °
Jum
29 °
Sab
29 °

Last Artikel

spot_img