KABARDAILY.COM,ACEH BESAR – Tim peneliti Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh mengembangkan model digitalisasi dan musikalisasi syair Hamzah Fansuri sebagai upaya menghadirkan kembali warisan sastra sufistik Melayu-Aceh dalam medium yang lebih dekat dengan generasi masa kini.
Penelitian bertajuk “Pengembangan Model Digitalisasi dan Musikalisasi Syair Hamzah Fansuri dalam Musik Aceh untuk Pelestarian dan Pembelajaran” tersebut dilaksanakan melalui Skema Penelitian Lektor-Lektor Kepala Tahun 2026. Tim penelitian diketuai oleh Benny Andiko, S.Sn., M.Sn., dengan anggota Arismunandar, S.Pd.I., M.Ag. dan Surya Rahman, S.Sn., M.Sn., serta melibatkan mahasiswa Program Studi Seni Karawitan ISBI Aceh.
Penelitian ini berangkat dari pentingnya karya Hamzah Fansuri sebagai bagian dari sejarah intelektual, sastra, dan spiritualitas Melayu-Aceh. Selama ini, karya Hamzah Fansuri banyak dibahas dari perspektif tasawuf, filsafat, filologi, dan bahasa. Tim peneliti kemudian mencoba membawa kajian tersebut ke wilayah yang lebih aplikatif melalui pengembangan model digital dan penciptaan musik.
Benny Andiko menjelaskan bahwa penelitian tersebut tidak diarahkan sekadar untuk “memberikan musik” pada syair Hamzah Fansuri. Proses musikalisasi dilakukan melalui pembacaan dan pemetaan terhadap struktur teks, simbol, bunyi, pesan sufistik, serta kemungkinan transformasinya ke dalam ekspresi musikal.
“Syair terlebih dahulu dipahami sebagai teks. Setelah itu baru dipetakan karakter simboliknya, bunyi bahasanya, dan pesan sufistiknya. Dari proses tersebut kemudian dikembangkan pilihan ritme, frase vokal, struktur musik, hingga proses produksi audio digital,” jelasnya.
Dalam proses penelitian, tim memilih beberapa bagian karya Hamzah Fansuri sebagai korpus utama, antara lain Syair Perahu dan Syair Burung Pingai/Burung Unggas, serta episode Munkar wa Nakir yang terdapat dalam rangkaian Syair Perahu.
Syair Perahu dibaca sebagai metafora perjalanan manusia. Perahu ditempatkan sebagai simbol tubuh, sedangkan laut, ombak, kemudi, bekal, dan tujuan pelayaran menyampaikan gagasan mengenai kehidupan, pengendalian diri, ilmu, iman, dan perjalanan menuju kehidupan akhir.
Sementara itu, Syair Burung Pingai menawarkan karakter yang berbeda. Simbol burung dibaca sebagai representasi jiwa, kesucian, perjalanan spiritual, dan orientasi manusia menuju realitas Ilahi.
Perbedaan simbol tersebut kemudian melahirkan pendekatan musikal yang berbeda. Musikalisasi Syair Perahu cenderung dibangun melalui perkembangan naratif dan ritmis yang menggambarkan perjalanan. Adapun musikalisasi Burung Pingai lebih menonjolkan vokal melismatis, repetisi, respons kelompok, dan zikir untuk membangun suasana kontemplatif.
Proses penelitian juga melibatkan Medya Hus, seniman dan budayawan Aceh, sebagai narasumber dalam pembacaan tradisi tutur, karakter penyampaian syair, serta pertimbangan budaya dalam proses musikalisasi.
Menurut tim peneliti, keterlibatan praktisi budaya menjadi penting agar transformasi teks klasik ke medium musik tidak terlepas dari konteks sosial dan budaya Aceh.
Selain aspek musikal, penelitian ini juga mengembangkan model digitalisasi yang tidak hanya menyimpan rekaman akhir. Model tersebut dirancang untuk menghubungkan teks sumber, teks yang telah dinormalisasi, interpretasi simbolik, adaptasi pelafalan, anotasi musikal, dokumentasi audio-visual, proses produksi, hingga catatan validasi.
Dengan pendekatan tersebut, arsip digital diharapkan dapat memperlihatkan proses perubahan teks menjadi karya musikal secara lebih transparan.
“Yang ingin disimpan bukan hanya hasil akhirnya. Proses bagaimana teks dibaca, ditafsirkan, dilafalkan, dimusikalisasikan, direkam, dan diperbaiki juga merupakan pengetahuan yang penting untuk diwariskan,” kata Benny.
Tahapan produksi musik dilakukan melalui eksperimen vokal dan instrumental, perekaman multitrack, penyuntingan, mixing, serta mastering. Teknologi audio digital dalam penelitian ini diposisikan bukan hanya sebagai perangkat produksi, tetapi juga sebagai ruang eksperimentasi untuk membandingkan berbagai alternatif penyajian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa musikalisasi syair Hamzah Fansuri memiliki potensi besar sebagai bentuk pelestarian sekaligus pengembangan pembelajaran seni. Mahasiswa dapat mempelajari teks klasik tidak hanya melalui pembacaan, tetapi juga melalui analisis simbol, pelafalan, eksperimen vokal, penyusunan musik, hingga dokumentasi digital.
Penelitian ini juga menghasilkan draf artikel ilmiah bertema transformasi digital-musikal syair sufi Hamzah Fansuri dalam musik Aceh, prototipe model digital-musikal, dokumentasi audio, serta bahan yang dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai sumber pembelajaran dan pelestarian budaya.
Tim peneliti berharap pendekatan serupa nantinya dapat diterapkan pada karya sastra dan warisan budaya Aceh lainnya.
Melalui penelitian ini, ISBI Aceh berupaya menunjukkan bahwa pelestarian warisan budaya tidak harus berhenti pada penyimpanan manuskrip atau dokumentasi. Warisan lama juga dapat dihidupkan kembali melalui penelitian, kreativitas seni, teknologi digital, dan pembelajaran tanpa melepaskannya dari akar budaya yang membentuknya.




















