Nostalgia PSSB dan Harapan Bangkit Kembali

  • Oleh Feri Irawan, MPd*

KABARDAILY.COM  |   REPORTASE WARGA – Apa kabar klub sepakbola kebanggaan warga Kabupaten Bireuen, Persatuan Sepakbola Seluruh Bireuen (PSSB)? Sepakbola Aceh sebenarnya tidak hanya berporos kepada Persiraja Banda Aceh. Jangan lupakan PSSB yang pernah menancapkan prestasinya di gelandang persepakbolaan Indonesia. Tim berjulukan Laskar Bate Kureng itu memang di bawah bayang-bayang nama besar Persiraja dalam eksistensi dan pencapaian prestasi. Apalagi dalam kondisi sekarang, prestasi PSSB berbanding terbalik dengan Persiraja.

Sebagai fans PSSB sejak kecil, ketika ada pertandingan PSSB kontra tim lain, saya hampir selalu menyaksikan pertandingannya, mulai saat berada di divisi II sampai berada di kasta tertinggi sepakbola Indonesia. Diakui atau tidak, PSSB merupakan klub legendaris sepakbola kebanggaan Aceh dan Kabupaten Bireuen. Dulu Bireuen sangat terkenal ditingkat nasional karena PSSB, apalagi PSSB pernah menjadi juara Piala Soeratin dan pernah bermain di kompetisi paling tinggi di Indonesia masa itu, yaitu Divisi Utama PSSI.

Bagi saya sebagai penikmat sepak bola, sepak bola bukan hanya sebuah olahraga atau tontonan semata, sepak bola lebih dari itu. Sepak bola adalah drama terbaik, karena bisa terhibur lalu merasa senang ketika tim kesayangan menang, namun juga berlaku sebaliknya, bisa sedih apabila tim kesayangan kalah.

Selama puluhan tahun berjuang dari kasta bawah sejak tahun 90-an, wakil Aceh ini mampu promosi ke level teratas liga Indonesia saat Mustafa Geulanggang yang ketika itu menjabat Bupati Bireuen yang juga ketua umumnya.

Momen indah sempat dirasakan oleh publik pecinta PSSB kala tim kebanggaan mereka itu akhirnya lolos ke kompetisi Divisi Utama (sekarang Liga 1 namanya). Kala itu PSSB berhak atas satu tiket di kompetisi kasta tertinggi di persepakbolaan Indonesia bersama Persiraja .

Sebagai fans PSSB, akan sangat menyakitkan rasanya apabila tim kesayangan kalah di pertandingan krusial seperti melawan musuh bebuyutan, kesedihan bisa berlarut larut, membuat kita menjadi galau dan menjadi beban pikiran untuk beberapa waktu kedepan.

Namun bila tim kesayangan kita menang di pertandingan krusial, maka kita bisa menjadi orang paling bahagia di saat itu, kita bisa berselebrasi merayakan kemenangan melebihi selebrasi pemain sepak bola itu sendiri, dan euforia kemenangan tidak hanya sementara, namun akan ber efek untuk beberapa waktu kedepan.

Sejarah mencatat, PSSB Bireuen berhasil menempati Divisi II PSSI sampai 1990. Pada tahun 1991, PSSB menjadi satu-satunya tim dari kecamatan yang mampu meloloskan diri ke Divisi I PSSI. Ketika Kecamatan Bireuen merubah status menjadi kabupaten pada tahun 1999, klub PSSB termasuk tim sepak bola yang disegani di Sumatera.
Namun sayangnya setahun berada di level tertinggi sepakbola Indonesia, PSSB belum mampu bersaing menghadapi klub-klub tradisional seperti PSMS Medan, PSIS Semarang, Persija Jakarta, dan Persib Bandung. Inkonsistensi penampilan para pemain PSSB menjadi penyebab mengapa di musim itu mereka hanya bisa dibilang sebagai tim yang ‘numpang lewat’ di divisi utama.

Di satu sisi, minimnya dana dari pengurus, layak dijadikan muara dari inkonsistensi penampilan mereka itu. PSSB benar-benar menjalani musim anomali pada 2007/2008 di musim pertamanya di kasta tertinggi sepakbola Indonesia. PSSB harus terpuruk dan terjerembab di dasar klasemen dan kembali degadrasi ke kasta di bawahnya. Sejatinya, turun kasta itu sudah diprediksi sejak awal. Tidak ada yang mengagetkan melihat PSSB kalah dan kalah karena performa mereka memang minor pada musim pertamanya di level tertinggi liga Indonesia.

Menang tidak ada yang salah, bicara sepakbola, tak lepas dari bicara bisnis besar karena ini cabang olahraga paling banyak fans. Mengurus sepakbola susah-susah menyenangkan. Mengurus klub bola tidak cukup hanya dengan modal ‘niat baik’ saja tapi juga membutuhkan finansial yang tidak sedikit.

Sejak dilarang menggunakan dana APBD untuk membiayai sebuah klub sepakbola professional, para pemilik klub sepakbola di daerah-daerah yg notabene adalah kepala daerah yang sumber pendanaannya APBD berakhir kolaps, tak terkeculai PSSB. Bahkan ada klub yang diakuisisi dan dikelola secara penuh oleh para pengusaha, berpindah home-nya dan berganti nama.

Banyak sekali klub di Indonesia ini yg ambruk gara-gara masalah finansial karena hanya dikelola seadanya saja tanpa tujuan yang jelas di masa depan bahkan ada klub besar dulunya yg sampai sekarang tidak bisa move on dari bantuan pemerintah.

Klimaksnya, klub yang dijuluki Laskar Bate Kureng tidak lolos verifikasi klub peserta kompetisi divisi utama Liga Indonesia 2014. Dengan demikian, PSSB Bireuen pun dipastikan degradasi ke Liga Nusantara mulai musim 2015. Tim dari daerah yang dikenal dengan kuliner ‘mie pangsit’ dan ‘naga sari’ ini pun hanya sanggup berkutat di level bawah. Sejak degadrasi ke Liga Nusantara (liga 3 Indonesia sekarang), PSSB tak kunjung bangkit dan mengulangi kegemilangan masa lalu mereka.

Kini, PSSB bak hidup segan mati tak mau. justru kondisi PSSB kian terburuk. Alih-alih naik ke kasta teratas lagi, Nasibnya kian miris setelah mengundurkan diri dari Liga 3 Provinsi Aceh 2023/2024.. Bagi fans PSSB, atau penikmat sepak bola Bireuen, melihat PSSB absen di Liga 3 bukan pemandangan yang lazim. Nah, itulah yang terjadi pada musim 2023/2024.

Banyak pencinta sepak bola, termasuk saya ingin kembali menyaksikan kiprah PSSB Bireuen tampil di kasta tertinggi kompetisi Indonesia. Mengapa demikian? sebab PSSB yang pernah bertengger di Divisi Utama PSSI pada tahun 2007 silam, sudah menjadi bagian dari ‘denyut jantung’ Kabupaten Bireuen.

Tentunya kita sangat mengharapkan dukungan masyarakat Bireuen dan semua pihak, agar PSSB bisa bangkit kembali untuk membesarkan nama daerah khususnya bidang sepakbola.

Apa yang dialami PSSB musim ini, layak menjadi satu catatan penting sepanjang klub profesional itu berdiri sejak tahun 1970.
Akankah Nama besar PSSB hanya tinggal cerita di kancah sepak bola Indonesia? Semoga saja tidak.

Mengurus sepak bola tidak mudah dan butuh kemauan kuat agar sepak bola di Bireuen bisa berjalan dan tingkatkan prestasi. Butuh kepedulian dan loyalitas untuk memastikan klub tetap survive dalam mengarungi liga Indonesia.

Penulis penggemar bola dari Bireuen