Menakar Arah ISBI Aceh Empat Tahun ke Depan

  • Oleh: Ar. Zuhrahmi DE, S.T., M.T., Dosen dan Anggota Senat ISBI Aceh

KABARDAILY.COM – “Empat tahun ke depan bukan sekadar rentang waktu sebuah periode kepemimpinan. Bagi sebuah perguruan tinggi, empat tahun adalah ruang untuk menentukan arah: apa yang hendak dipertahankan, apa yang harus dibenahi, dan apa yang harus mulai dibangun.”

Pertanyaan itu menurut saya layak muncul dalam proses pemilihan Rektor ISBI Aceh periode 2026–2030. Sebab, pergantian rektor selalu membawa konsekuensi terhadap arah sebuah perguruan tinggi. Apalagi ISBI Aceh sedang berkembang. Sejak berdiri pada 2014, institusi ini telah memiliki dua jurusan dan 11 program studi. Pada 2026, Bahasa Mandarin dan Sejarah turut melengkapi bidang akademik yang tersedia. ISBI juga memiliki kawasan kampus seluas 30 hektare di Kota Jantho sebagai bagian dari pengembangan institusi.

Angka-angka tersebut menunjukkan perkembangan. Namun, perkembangan institusi tidak cukup dibaca dari jumlah program studi, luas lahan atau bertambahnya kegiatan. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah pertumbuhan itu sudah diikuti dengan penguatan kualitas akademik dan tata kelola? Apakah setiap program studi berkembang dengan arah yang jelas? Apakah fasilitas yang dibangun benar-benar mendukung pendidikan, penelitian dan penciptaan karya?

Pertanyaan semacam itu menjadi semakin relevan karena Senat kini telah menetapkan tiga calon rektor, yaitu Dr. Ir. Marwan, S.Si., M.T., Dr. Effendi Hasan, M.A., dan Dr. Mhd. Ikhsan Sulaiman, S.TP., M.Sc. Ketiganya tidak datang dari latar pengalaman yang sama. Justru perbedaan itulah yang menarik untuk dilihat ketika dikaitkan dengan kebutuhan ISBI Aceh.

Marwan memiliki pengalaman langsung di lingkungan ISBI Aceh. Ia pernah menjabat Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan dan Umum. Sebelumnya, ia berkarier sebagai akademisi di bidang fisika dan geofisika di Universitas Syiah Kuala. Pengalaman tersebut membuat rekam kerjanya bersentuhan dengan pengelolaan sumber daya sekaligus kehidupan akademik.

Effendi Hasan memiliki latar belakang ilmu politik dan pengalaman akademik di FISIP Universitas Syiah Kuala. Ia pernah menjabat Wakil Dekan Bidang Akademik. Pengalaman itu mempertemukannya dengan urusan akademik, kebijakan dan pengelolaan organisasi perguruan tinggi.

Mhd. Ikhsan Sulaiman berasal dari bidang Teknologi Hasil Pertanian dan menempuh pendidikan magister serta doktor di Georg-August University of Göttingen, Jerman. Ia memiliki pengalaman dalam monitoring dan evaluasi, penjaminan mutu, pengelolaan program studi dan pernah menjabat Wakil Direktur Bidang Akademik Sekolah Pascasarjana USK.

Saya tidak melihat perbedaan latar belakang tersebut sebagai alasan untuk menempatkan satu calon di atas calon lainnya. Yang lebih menarik justru pertanyaan tentang apa yang sedang dibutuhkan ISBI Aceh. Pengalaman di bidang perencanaan, tata kelola, akademik dan penjaminan mutu semuanya mempunyai relevansi, tetapi relevansi itu baru memiliki arti ketika diterjemahkan ke dalam program dan keputusan yang konkret.

ISBI Aceh sekarang bukan lagi institusi dengan jumlah program studi yang sedikit. Dengan 11 program studi, ada peluang besar untuk membangun hubungan antarbidang. Desain Interior, misalnya, dapat beririsan dengan Desain Komunikasi Visual, Kriya dan Seni Rupa. Seni Tari, Teater dan Karawitan memiliki ruang kerja bersama. Sejarah, Sastra dan Budaya, Bahasa Aceh dan Bahasa Mandarin juga dapat memperluas kajian mengenai kebudayaan.

Yang diperlukan bukan sekadar kegiatan bersama sesekali. Yang lebih penting adalah apakah hubungan antarprogram studi tersebut dapat menghasilkan penelitian, penciptaan karya, publikasi, pameran, pertunjukan atau inovasi yang menjadi ciri ISBI Aceh.

Begitu pula dengan kampus di Kota Jantho. Lahan yang luas merupakan modal, tetapi modal baru berarti ketika mampu menunjang kegiatan akademik. Studio harus digunakan. Laboratorium harus hidup. Ruang pertunjukan dan ruang pamer harus menjadi bagian dari aktivitas kampus. Mahasiswa harus merasakan bahwa fasilitas yang tersedia memang memberi ruang bagi mereka untuk belajar dan berkarya.

Di sisi lain, ISBI Aceh tidak boleh kehilangan alasan mengapa institusi ini hadir di Aceh. Seni dan budaya Aceh bukan sekadar ornamen identitas. Ia dapat menjadi sumber penelitian, penciptaan, inovasi dan kerja sama. Sejarah, bahasa, tradisi, seni pertunjukan, seni rupa dan desain Aceh memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan melalui pendekatan akademik dan dibawa ke tingkat nasional maupun internasional.

Arah tersebut sejalan dengan garis besar pengembangan yang tercermin dalam dokumen resmi ISBI Aceh, terutama mengenai peningkatan kualitas lulusan, dosen, kurikulum, pembelajaran dan tata kelola, serta pengembangan kreativitas seni dan budaya pada tingkat lokal, nasional dan internasional.

Ada satu hal yang perlu dibaca dengan hati-hati. Renstra ISBI Aceh yang tersedia secara terbuka adalah Renstra 2015–2019. Artinya, dokumen itu tidak dapat begitu saja disebut sebagai Renstra untuk periode 2026–2030. Justru kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya penyusunan arah strategis yang benar-benar sesuai dengan keadaan ISBI Aceh sekarang. Institusi sudah berkembang, jumlah program studi bertambah, kebutuhan SDM berubah, pembangunan kampus berjalan, dan tuntutan terhadap mutu perguruan tinggi semakin besar.

Di sinilah saya melihat inti dari Pilrek kali ini.

ISBI Aceh membutuhkan arah yang mampu menghubungkan apa yang sudah dimiliki dengan apa yang ingin dicapai. Bukan sekadar membuat daftar program baru, melainkan menentukan mana yang harus diperkuat lebih dahulu dan bagaimana keberhasilannya dapat dilihat.

Pada 21 September 2026, empat bakal calon telah memaparkan visi, misi dan program kerja. Setelah proses tersebut, Senat menetapkan tiga nama untuk melanjutkan tahapan pemilihan. Tahap berikutnya akan menentukan siapa yang mendapat mandat memimpin ISBI Aceh sampai 2030.

Sebagai anggota Senat, bagi saya, yang perlu dijaga dalam proses ini adalah agar perbincangan tidak berhenti pada figur. Setiap calon memiliki latar belakang dan pengalaman yang dapat dibaca secara terbuka. Yang kemudian perlu diperhatikan adalah bagaimana pengalaman tersebut diterjemahkan menjadi arah kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan ISBI Aceh

Empat tahun sebenarnya tidak panjang. Karena itu, kepemimpinan 2026–2030 perlu memiliki sasaran yang dapat dikenali. Pada akhir periode nanti, kita semestinya dapat melihat apakah kualitas dosen berkembang, program studi semakin kuat, penelitian dan penciptaan karya meningkat, fasilitas digunakan secara optimal, tata kelola semakin tertib, dan mahasiswa memperoleh pengalaman pendidikan yang lebih baik.

Pada titik itulah keberhasilan sebuah kepemimpinan dapat dibicarakan dengan lebih jernih. Bukan dari seberapa panjang program yang pernah disampaikan, melainkan dari apa yang benar-benar berubah.

ISBI Aceh sudah tumbuh. Tantangan empat tahun ke depan adalah memastikan pertumbuhan itu mempunyai arah, mutu, dan identitas yang kuat.

Itulah yang menurut saya perlu menjadi perhatian utama dalam menentukan arah ISBI Aceh empat tahun ke depan.

Penulis : Ar.Zuhrahmi DE,ST,MT, Dosen ISBI Aceh