Mahasiswa KKN ISBI Aceh Perkuat Makna Pengabdian melalui Seni, Budaya, dan Nilai Keagamaan

KABARDAILY.COM –  Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh yang bertugas di Gampong Padang Rubek, Kecamatan Kuala Pesisir, Kabupaten Nagan Raya, mengikuti Diskusi Panel dan Monitoring Evaluasi KKN Reguler 2026, Senin, 3 Agustus 2026, di Kantor Camat Kuala Pesisir.

Kegiatan yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ISBI Aceh tersebut menjadi ruang evaluasi sekaligus refleksi bagi mahasiswa dalam memaknai pengabdian melalui pendekatan seni, budaya, dan nilai-nilai keagamaan.

Mengusung tema “ISBI Aceh Berdampak bagi Masyarakat melalui Penguatan Seni dan Budaya bersama Dewan Kesenian Aceh Kabupaten Nagan Raya”, forum tersebut mempertemukan mahasiswa, akademisi, aparatur pemerintahan, serta pegiat seni untuk mendiskusikan peran perguruan tinggi seni dalam mendukung pembangunan masyarakat berbasis kebudayaan.

Diskusi menghadirkan Dr. Khairuddin Ishaq TR, M.Pd. dari Dewan Kesenian Aceh Kabupaten Nagan Raya sebagai narasumber. Turut hadir Camat Kuala Pesisir, Keuchik Gampong Padang Rubek, dosen pembimbing lapangan, Koordinator KKN LPPM ISBI Aceh, serta mahasiswa KKN dari sejumlah gampong.

Dalam pemaparannya, Khairuddin menegaskan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab moral mahasiswa. Menurutnya, seni yang tumbuh di Aceh memiliki akar kuat dalam kebudayaan dan nilai-nilai Islam, sehingga setiap karya maupun program pengabdian harus memberikan manfaat, menjaga adab, serta memperkuat hubungan sosial.

“Seni tidak hanya berbicara tentang keindahan visual atau pertunjukan, tetapi juga dapat menjadi media pendidikan, dakwah, dan pembentukan karakter masyarakat. Mahasiswa seni memiliki tanggung jawab menghadirkan karya yang membangun kesadaran, mempererat persaudaraan, dan menjaga identitas budaya,” ujar Khairuddin.

Ia menjelaskan, budaya akan kehilangan arah apabila dilepaskan dari nilai moral. Sebaliknya, pesan-pesan keagamaan dapat lebih mudah diterima ketika disampaikan melalui pendekatan budaya yang hidup dan dekat dengan masyarakat.

“Budaya Aceh memiliki kekuatan karena tumbuh bersama ajaran Islam. Identitas tersebut harus terus dijaga, diwariskan, dan dikembangkan secara bijaksana agar tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya,” katanya.

Khairuddin juga mengingatkan bahwa pelestarian seni tradisi tidak cukup dilakukan dengan mempertahankan bentuk pertunjukan. Mahasiswa perlu memahami, mendokumentasikan, serta menghidupkan kembali nilai-nilai yang terkandung di dalamnya bersama masyarakat, terutama generasi muda.

Bagi mahasiswa KKN Gampong Padang Rubek, materi tersebut memperkuat pelaksanaan sejumlah program yang telah dijalankan, seperti penyuluhan seni dan budaya di sekolah, pembuatan mural edukatif pada bangunan PAUD, digitalisasi peta gampong, pendataan pelaku seni budaya lokal, serta penguatan silaturahmi dengan aparatur desa, tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat.

Ketua Kelompok KKN Gampong Padang Rubek, Fajri Tomi, mengatakan diskusi panel tersebut memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai tujuan pengabdian mahasiswa di tengah masyarakat.

“Keberadaan mahasiswa tidak seharusnya hanya untuk menyelesaikan program kerja. Seni harus menjadi jembatan yang mempererat hubungan antarmanusia, memperkuat nilai budaya, serta tetap berjalan selaras dengan nilai-nilai agama yang menjadi pedoman kehidupan masyarakat Aceh,” ungkap Fajri.

Menurutnya, seluruh program yang dilaksanakan di Padang Rubek diarahkan untuk membangun ruang kolaborasi, pembelajaran, dan silaturahmi yang dapat memberikan kesan serta manfaat berkelanjutan bagi masyarakat maupun mahasiswa.

Kegiatan monitoring dan evaluasi juga menjadi kesempatan bagi setiap kelompok untuk menyampaikan perkembangan program, kendala yang dihadapi, serta memperoleh masukan konstruktif dari narasumber dan tim LPPM ISBI Aceh. Masukan tersebut akan digunakan untuk menyempurnakan program selama sisa masa pengabdian.

Diskusi berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab dan berbagi pengalaman antarkelompok. Para mahasiswa saling bertukar strategi dalam membangun partisipasi masyarakat, mengembangkan potensi seni lokal, serta menyesuaikan program kerja dengan kebutuhan masing-masing gampong.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN ISBI Aceh semakin meyakini bahwa keberhasilan pengabdian tidak hanya diukur dari pembangunan fisik atau jumlah program yang dilaksanakan. Keberhasilan juga tercermin dari tumbuhnya ilmu pengetahuan, kepedulian, akhlak, kreativitas, dan kesadaran masyarakat dalam menjaga warisan seni budaya.

Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi warisan penting dari pelaksanaan KKN ISBI Aceh sekaligus memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam menjaga, mengembangkan, serta mewariskan kebudayaan Aceh kepada generasi berikutnya.