KABARDAILY.COM – 18 November 2025, pelataran ISBI Aceh berubah menjadi pusat sorotan Nusantara ketika Hari Seni Islam Internasional 2025 dirayakan dengan megah. Di tengah rangkaian acara yang padat dan berwarna, Program Studi Kriya Seni ISBI Aceh tampil sebagai salah satu kekuatan utama yang menghidupkan gelaran tersebut melalui Pameran Karya Islami Nusantara.
Puluhan karya dari mahasiswa dan dosen Prodi Kriya memenuhi ruang pameran dengan estetika Islami yang memikat mulai dari kriya kayu, tekstil bermotif kaligrafi, hingga instalasi kontemporer yang menafsirkan ulang nilai spiritual dan kearifan tradisi lokal. Perpaduan gaya modern dan motif Nusantara menjadikan karya-karya tersebut magnet perhatian para pengunjung.
Acara dibuka langsung oleh Rektor ISBI Aceh, Prof. Dr. Wildan, M.Pd, di bawah langit Jantho yang cerah. Dalam hitungan menit, halaman kampus dipadati akademisi, seniman, dan masyarakat yang ingin menyaksikan bagaimana seni Islam tampil dalam wajah baru: kreatif, segar, dan relevan dengan zaman.
Kemeriahan perayaan tahun ini tidak hadir begitu saja. Dua hari sebelumnya, Prodi Kriya Seni telah menjalankan residensi intensif, workshop tematik, serta proses produksi karya yang melibatkan mahasiswa dan perajin lokal. Para peserta menggali kembali estetika Islam,
mengolahnya dengan pendekatan kriya, lalu mempresentasikannya dalam bentuk karya yang memiliki kekuatan naratif dan spiritual.
Nuansa religius mengawali kegiatan melalui lantunan Dike atau Zikir Aceh, yang bergema mengisi ruang dan menghadirkan suasana kontemplatif.
Senandung tersebut menegaskan bahwa pameran ini bukan sekadar acara seni, tetapi juga ruang untuk merawat ingatan dan nilai keislaman. Upacara pembukaan kemudian diakhiri dengan Seumapa, doa penuh nasihat dan harapan.
Dalam sambutannya, Prof. Dr. Wildan, M.Pd menyebutkan bahwa seni Islam memiliki fondasi kuat dalam sejarah Aceh dan menjadi medium penting untuk membangun karakter masyarakat. “ISBI Aceh hadir untuk memperkuat tradisi seni Islami Nusantara.
Kontribusi Prodi Kriya Seni hari ini membuktikan bahwa kampus ini semakin siap menjadi poros kreativitas Madani,” ujarnya.
Ichsan, M.Sn, Ketua Jurusan Seni Rupa dan Desain, memberikan apresiasi mendalam terhadap kerja kreatif yang dilakukan mahasiswa dan dosen Kriya. “Kriya Seni tidak hanya menghadirkan keindahan visual, tetapi juga menawarkan ruang perenungan. Di sinilah seni Islami menemukan wujudnya etis, estetis, dan spiritual,” katanya.
Sementara itu, Muhammad Hamzah, M.Sn, Kaprodi Kriya Seni, menegaskan bahwa keikutsertaan prodi dalam perayaan ini adalah bentuk komitmen akademik sekaligus kultural.
“Kriya adalah bahasa yang menyentuh kehidupan sehari-hari. Lewat karya Islami, kami ingin menunjukkan bahwa identitas spiritual dapat hadir dalam objek-objek kriya yang hidup berdampingan dengan masyarakat,” jelasnya.
Suasana haru muncul ketika anak-anak SLB membawakan solawat siang hari itu, disusul diskusi budaya yang dihadiri para seniman Aceh untuk membahas arah perkembangan estetika Islam di era digital. Sore harinya, energi memuncak dengan penampilan Daboh atau Debus, mempertontonkan keberanian dan kedalaman spiritualitas.
Perayaan ditutup pada malam hari dengan tradisi memasak Kuah Sie Iték, menghadirkan kebersamaan khas Aceh. Aroma rempah dan semangat kolektif menegaskan bahwa seni Islam tidak hanya hadir pada galeri atau panggung, tetapi hidup dalam tubuh budaya dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.




















