fbpx

Khatib Masjid Munawarah: Haji Wada’ Momen Penting Persatuan Umat Islam

KABARDAILY.COM — Banyak hal unik, penuh peristiwa penting, dan pesan Rasulullah ketika beliau melakukan haji wada’. Haji wada’ menjadi momen terpenting terhadap persatuan ummat Islam pasca Nabi wafat dan pemberitahuan terhadap pengakuan keberhasilan dakwah Rasulullah.

Pimpinan Dayah MUDA Indrapuri Tgk. Marbawi Yusuf, SH akan menyampaikan hal tersebut dalam khutbah Jumat di Masjid Agung Al Munawwarah Kota Jantho, 17 Mei 2024 bertepatan dengan 9 Dzulqa’dah 1445 H.

Tidak lama setelah haji wada’ Allah turunkan ayat Alyauma akmaltulakum, yang mengandung makna mendalam, yaitu selesainya tugas Rasullah dalam berdakwah menyapaikan risalah Allah. Walaupun Abu Bakar menangis ketika itu, karena beliau tahu bahwa tugas Rasullah sudah selesai dan rasul akan pamit.

“Rasulullah saat berjalan dari Madinah menuju Mekkah dengan menikmatinya, sehingga kendaraan pun beliau lambatkan. Dalam waktu 23 tahun berdakwah, 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah beliau berhasil mengubah prilaku bangsa Arab dari kejahiliyahan secara khusus dan umat Islam secara umum di seluruh dunia,” urai Pengurus PB HUDA Aceh ini.

Dalam kaitan ini, Syeik Mustafa as Sibai dalam as Sirah Nabawiyah Durul Albar menulis, sebanyak 114.000 orang Arab melaksanakan ibadah haji wada’ bersama Rasulullah. Dalam khutbah haji Rasululllah berpesan, bahwa beliau tidak yakin akan berjumpa kembali dengan orang orang Arab tahun berikutnya.

Tgk Marbawi menjelaskan, ibadah haji itu salah satu jalan menuju ketakwaan kepada Allah dan juga salah satu pondasi Islam, sebagaimana yang disampaikan Rasulullah saw dalam hadits, “Bunial islami ala khamsin.” Jauh sebelumnya juga Allah telah memerintahkan kepada umatnya untuk melaksanakan ibadah haji, bagi yang mampu dengan bahasa istithaah, maka ibadah haji itu merupakan ibadah maliah, disamping fisik manusia juga dilihat dari materi terhadap wajibnya ibadah haji, sesuai dengan kaidah fikhiyah.

“Kita doakan, semoga jamaah haji kita yang berangkat tahun ini Allah berikan haji yang mabrur untuk mendapatkan surga, sebagaimana yang Allah janjikan,” harapnya.

Menurut Ketua Lembaga Wakaf dan Pertanahan NU Aceh ini, ibadah haji Allah wajibkan pada tahun ke 6 hijriah, sesuai pendapat yang sahih. Walaupun terjadi perbedaan pendapat para ulama, namun Rasulullah tidak menunaikan pada tahun tersebut, sehingga tahun ke 10 H.

“Haji itu dinamakan haji wada’ atau haji terakhir, karenak pada tahun ke 11 H Rasulullah wafat, meninggalkan kita semua. Itu haji pertama dan haji terakhir yang Rasulullah lakukan dalam syariatnya,” pungkasnya.