Ketika Banjir Surut, Luka Psikologis Belum Tentu Pulih

  • Oleh: *Karjuniwati, M.Psi., Psikolog*

KABARDAILY.COM – Ketika banjir surut, perhatian kita biasanya segera tertuju pada rumah yang rusak, lumpur yang harus dibersihkan, barang-barang yang hilang, dan aktivitas masyarakat yang perlu dipulihkan. Namun, ada kerusakan lain yang tidak mudah terlihat. Bagi sebagian penyintas, suara hujan deras masih menghadirkan kecemasan, tidur menjadi tidak nyenyak, dan kekhawatiran bahwa banjir akan datang kembali terus menghantui. Artinya, air boleh saja telah surut, tetapi rasa takut belum tentu ikut menghilang.

Persoalan ini menjadi semakin penting ketika kita melihat pengalaman perempuan penyintas bencana. Seorang ibu bukan hanya menghadapi ketakutannya sendiri, tetapi juga memikirkan keselamatan anak, kebutuhan keluarga, kondisi rumah, dan bagaimana kehidupan harus terus berjalan. Dalam situasi seperti ini, kita perlu memperluas cara pandang tentang penanggulangan bencana. Pemulihan seharusnya tidak berhenti pada bantuan logistik dan pembangunan kembali infrastruktur. Memulihkan kondisi psikologis penyintas juga merupakan bagian dari pemulihan pascabencana.

Salah satu pendekatan yang menarik untuk dikembangkan adalah Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT). Pendekatan ini memadukan proses mengenali pengalaman emosional, tapping atau ketukan ringan pada titik-titik tertentu di tubuh, serta unsur spiritual berupa doa, penerimaan, keikhlasan, dan penyerahan diri kepada Tuhan. Dalam praktiknya terdapat tiga tahapan utama, yaitu set-up, tune-in, dan tapping. Individu diajak menyadari apa yang sedang dirasakan, berfokus pada pengalaman yang menimbulkan ketidaknyamanan, kemudian melakukan tapping sambil membangun penerimaan dan orientasi spiritual.

Mengapa pendekatan seperti SEFT menarik bagi masyarakat Aceh? Karena spiritualitas merupakan bagian yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketika menghadapi musibah, doa, ikhlas, sabar, dan tawakal sering menjadi sumber kekuatan. Namun, penting untuk memahami bahwa tawakal bukan berarti berhenti berusaha dan menerima bukan berarti meniadakan kesedihan. Seseorang boleh merasa takut, sedih, bahkan membutuhkan pertolongan psikologis, tanpa harus dianggap kurang beriman. Spiritualitas justru dapat menjadi sumber daya yang berjalan berdampingan dengan ikhtiar dan bantuan profesional.

Pengalaman perempuan penyintas banjir di Pidie Jaya dalam penelitian kami memberikan gambaran yang menarik. Setelah mengikuti SEFT, terdapat kecenderungan penurunan kecemasan. Para peserta juga menggambarkan pengalaman subjektif berupa perasaan lebih lega, berkurangnya beban pikiran, dan hati yang terasa lebih ringan. Sebagian peserta merasa mendapatkan keterampilan baru untuk menghadapi emosi dan ingin menggunakannya kembali ketika mengalami perasaan tidak nyaman.

Temuan tersebut tentu tidak berarti bahwa SEFT adalah jawaban untuk semua persoalan psikologis penyintas bencana. Justru di sinilah kita perlu bersikap proporsional. SEFT lebih tepat dipandang sebagai pendekatan komplementer yang berpotensi melengkapi dukungan psikososial, bukan menggantikan psikolog, psikiater, atau intervensi kesehatan mental yang telah memiliki dukungan ilmiah lebih kuat. Apabila kecemasan berlangsung lama, semakin berat, mengganggu tidur dan aktivitas sehari-hari, atau disertai gejala trauma yang serius, bantuan profesional tetap diperlukan.

Hal penting lainnya, pemulihan psikologis setelah bencana seharusnya tidak menjadi urusan penyintas seorang diri. Pemerintah, lembaga penanggulangan bencana, tenaga kesehatan mental, perguruan tinggi, tokoh agama, dan masyarakat dapat berkolaborasi membangun layanan psikososial yang mudah dijangkau dan sesuai dengan budaya masyarakat. Pendekatan berbasis komunitas yang sensitif terhadap nilai lokal dan spiritual dapat menjadi bagian dari upaya tersebut.

Pada akhirnya, bencana mengajarkan bahwa yang perlu dibangun kembali bukan hanya rumah, jalan, dan jembatan, tetapi juga rasa aman dalam diri manusia. Ketika hujan kembali turun, kita tentu berharap penyintas tidak selalu harus menghadapinya dengan ketakutan. Mereka perlu memiliki ruang untuk bercerita, keterampilan untuk mengelola emosi, dukungan orang-orang di sekitarnya, serta keyakinan bahwa pertolongan tersedia ketika dibutuhkan. Sebab, pemulihan yang sesungguhnya bukan hanya ketika air telah surut, tetapi ketika penyintas perlahan mampu menjalani kehidupannya kembali dengan lebih tenang.