UBBG Ajak Generasi Z Perkuat Daya Ingat dan Berpikir Kritis, Literasi Jadi Kunci Hadapi Era Digital

KABARDAILY.COM,BANDA ACEH – Kemampuan berpikir kritis dan daya ingat menjadi dua aspek penting yang perlu diperkuat oleh generasi muda di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Pesan tersebut disampaikan Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG), Regina Rahmi, M.Amin, saat bertindak sebagai pembina upacara di SMA Negeri 16 Kota Banda Aceh.

Dalam amanatnya, Regina mengingatkan bahwa kemudahan memperoleh informasi melalui telepon pintar dan internet harus diimbangi dengan kemampuan memahami, mengingat, menganalisis, serta mengevaluasi informasi secara mendalam.

Menurutnya, generasi muda tidak cukup hanya cepat menemukan jawaban melalui mesin pencari atau kecerdasan buatan (AI), tetapi juga harus mampu menjelaskan alasan, menilai kebenaran, dan menggunakan pengetahuan secara bijaksana.

Regina menyoroti tantangan pembelajaran pada era digital, ketika siswa terbiasa menerima informasi singkat dari berbagai platform media sosial. Kebiasaan berpindah dari satu konten ke konten lainnya dapat mengurangi kesempatan untuk berkonsentrasi dan mengolah informasi secara mendalam apabila tidak diimbangi dengan pengelolaan penggunaan teknologi yang baik.

Ia menekankan bahwa rendahnya daya ingat tidak boleh langsung dianggap sebagai karakter seluruh Generasi Z. Namun, kecenderungan mengandalkan perangkat digital untuk menyimpan informasi, kurangnya latihan membaca secara mendalam, dan minimnya kebiasaan melakukan refleksi dapat menjadi tantangan bagi proses belajar. Karena itu, siswa perlu membangun kebiasaan belajar yang membantu informasi tersimpan lebih kuat dalam ingatan.

“Jangan sampai kita mampu membuka ribuan informasi melalui telepon pintar, tetapi kesulitan menjelaskan kembali apa yang baru saja kita baca. Membaca harus diikuti dengan memahami, mengingat, mempertanyakan, dan mengambil pelajaran,” pesan Regina di hadapan para siswa.

Untuk memperdalam pemahaman tentang literasi, Regina menghubungkan persoalan tersebut dengan wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW, yakni perintah Iqra atau bacalah. Ia mengajak siswa merenungkan makna perintah tersebut sebagai landasan untuk membangun tradisi membaca dan mengembangkan kemampuan memahami kehidupan.

Dalam kesempatan itu, Regina mengajukan pertanyaan kepada para siswa mengenai alasan Nabi Muhammad SAW menggigil ketika Malaikat Jibril menyampaikan wahyu pertama di Gua Hira. Pertanyaan tersebut mendorong siswa untuk tidak sekadar menerima cerita yang telah diketahui, tetapi juga berpikir, mengajukan pertanyaan, dan memahami konteks peristiwa tersebut.

Regina menjelaskan bahwa pengalaman Nabi dalam menerima wahyu dapat direnungkan sebagai gambaran besarnya amanah kenabian. Ia mengaitkannya dengan Surah Al-Muzzammil ayat 5 yang menjelaskan bahwa Allah akan menurunkan perkataan yang berat. Tanggung jawab menyampaikan risalah dan membimbing manusia merupakan amanah yang sangat besar.

Menurut Regina, Iqra juga dapat dimaknai sebagai ajakan untuk membaca realitas, mengamati alam semesta, memahami penciptaan manusia, serta menganalisis persoalan sosial dan moral. Semua itu perlu dilakukan dengan menjadikan nilai-nilai ketuhanan sebagai pedoman, sebagaimana terkandung dalam ungkapan Bismi Rabbika.

Ia menegaskan bahwa literasi modern harus menghasilkan manusia yang mampu membedakan fakta dan opini, mengenali informasi menyesatkan, serta mengambil keputusan berdasarkan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam konteks pendidikan, siswa perlu diberi ruang untuk bertanya, berdiskusi, menyampaikan argumentasi, dan menyelesaikan persoalan, bukan hanya menghafal materi untuk menghadapi ujian.

Regina juga memperkenalkan konsep motivasi “Membangun Tangga Sukses”, yang terdiri atas lima kekuatan utama, yaitu networking, teamwork, critical thinking, IT skills, dan character.

Networking membantu siswa memperluas wawasan melalui hubungan positif. Teamwork mengajarkan pentingnya kolaborasi dan menghargai perbedaan. Sementara itu, critical thinking menjadi kemampuan inti untuk menganalisis informasi, memeriksa kebenaran, memecahkan masalah, dan menyampaikan pendapat secara logis.

Selanjutnya, IT skills diperlukan agar teknologi dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran dan kreativitas, bukan sekadar hiburan. Adapun character menjadi fondasi yang memastikan pengetahuan dan keterampilan digunakan secara bertanggung jawab, dengan menjunjung kejujuran, kedisiplinan, serta kepedulian terhadap sesama.

Regina mendorong siswa membangun kebiasaan sederhana untuk memperkuat daya ingat dan kemampuan berpikir kritis, seperti membaca buku secara rutin, merangkum materi dengan bahasa sendiri, mengulang pelajaran tanpa selalu melihat catatan, berdiskusi, serta membatasi gangguan notifikasi ketika belajar.

Kepala SMA Negeri 16 Kota Banda Aceh, Khairurrazi, M.Pd., menyampaikan apresiasi kepada UBBG atas berbagai capaian yang telah diraih serta kontribusinya dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan. Ia berharap hubungan baik antara sekolah dan perguruan tinggi terus berkembang.

UBBG dan SMA Negeri 16 Kota Banda Aceh telah menjalin kerja sama dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang mencakup pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Kemitraan ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi untuk meningkatkan kompetensi pendidik, memperluas wawasan peserta didik, dan menghadirkan program pendidikan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Regina menyampaikan terima kasih kepada kepala sekolah dan seluruh keluarga besar SMA Negeri 16 atas kesempatan yang diberikan. Ia berharap kolaborasi tersebut terus berlanjut dalam berbagai kegiatan yang mendorong budaya literasi dan pengembangan karakter.

Melalui kegiatan ini, UBBG mengajak Generasi Z untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pembelajar yang mampu berpikir mendalam, menjaga daya ingat, dan menggunakan pengetahuan secara bijaksana. Sebab, keberhasilan di masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat seseorang memperoleh informasi, tetapi juga oleh kemampuannya memahami, mengolah, dan menerapkan informasi tersebut untuk menghasilkan perubahan positif.