Jejak Kuburan Massal Siron, Bekas Sungai Krueng Aceh (Refleksi 20tahun Gempa dan Tsunami Aceh)

  • Oleh: Khalid Wardana (ASN Kemenag Aceh Besar)

KABARDAILY.COM  |  REPORTASE WARGA – Ketika kita melangkah melewati jembatan Lambaro menuju arah Blang Bintang (Bandara SIM) terdapat sebuah komplek yang tanahnya datar, pagar beton dengan dinding berbentuk gelombang air laut di bagian belakangnya. Terletak di Gampong Siron Mukim Lamgarot Kecamatan Ingin Jaya. Terkenal dengan kuburan massal Siron. Disitulah tempat dikebumikan puluhan ribu jasad korban gempa bumi dan tsunami Aceh Tahun 2004.

Namun belum banyak terungkap dan diketahui publik kenapa kuburan massal korban tsunami ada di Siron, padahal jaraknya dengan laut mencapai 14 kilometer dan tidak tersentuh dengan gelombang tsunami tahun 2004.
Untuk itu dalam tulisan sederhana ini penulis yang pada kala itu masih aktif di Palang Merah Indonesia (PMI) Aceh Besar mencoba mendeskribsikan mengapa kuburan massal korban Tsunami 2004 dikebumikan pada waktu itu.

Keberadaan kuburan massal Siron tidak bisa dipisahkan dengan PMI Aceh Besar yang bermarkas di Bundaran Lambaro. Bahkan beberapa tahun setelah bencana tsunami markas PMI ikut pindah ke Gampong Bada, berbatas langsung dengan komplek kuburan tsunami yang ada di Siron.

Saya ingin berbagi sekelumit kisah mengenang 20th peristiwa tersebut dan adanya kuburan massal di Siron.

Pada saat gempa bumi melanda Aceh di pagi hari tanggal 26 desember 2004, posisi saya berada di “rumoh PMI (Pondok Mertua Indah)”. Ketika guncangan gempa yang sangat dahsyat, kami dan keluarga berhamburan keluar menuju halaman meunasah Gampong Tumbo Baro – Kuta Malaka, tepat berhadapan dengan rumah kediaman kami.

Setelah gempa sedikit mereda saya bersama istri bergegas menuju Lambaro. Saya meminta sang istri untuk menyetir ambulan PMI menuju Lambaro. Pada saat itu istri saya lebih lihai dalam mengendarai mobil, sedangkan saya masih dalam tahapan belajar.

Sebelum peristiwa tsunami, ambulan PMI yang merupakan bantuan Taman Iskandar Muda secara rutin diantar oleh driver untuk ditempatkan di rumah saya pada malam hari.

Dengan penuh tanda tanya kami meluncur ke Lambaro dan ketika sampai di Sibreh kami berpapasan dengan banyak kendaran baik roda dua maupun roda empat yang meluncur dari arah Banda Aceh.

Barulah ketika sampai di Lambaro tanda tanya mulai terungkap dengan adanya puluhan orang yang tergeletak di sekitar markas PMI, beberapa diantaranya terluka dan pingsan. Dari mereka baru kami ketahui bahwa pasca gempa dahsyat air laut telah naik menyapu kawasan pesisir.

Bergegas relawan PMI mendirikan tenda di halaman markas untuk melayani masyarakat terutama proses pertolongan pertama terhadap korban terluka. Namun yang diantar ke PMI bukannya korban terluka justru jasad yang sudah tidak bernyawa. Dua hari setelah tsunami mayat sudah memenuhi markas PMI.

Dengan relawan yang minim dan kemampuan terbatas, kami mendata dan mengidentifikasi para korban tsunami yang terus bertambah.

Dalam beberapa hari aktivitas kami menyatu dengan ribuan mayat, mulai dari makan hingga tidur. Bahkan begitu banyaknya mayat yang di antar ke markas PMI, kami mulai kewalahan dan tidak mampu lagi mengidentifikasi tanda pengenal yang ada pada mayat yang kondisinya semakin beraroma tidak sedap.

Hari kedua pasca tsunami Pengurus PMI Aceh Besar dan Penjabat Bupati Aceh Besar Drs H Rusli Muhammad bertemu dengan Ketua PMI Pusat Drs Mar’ie Muhammad yang saat itu berada di Pendopo Gubernur Aceh. Kami di instruksikan untuk melakukan langkah cepat mencari lokasi penguburan mayat mengingat jumlah mayat yang terus bertambah, bahkan memenuhi emperan ruko yang ada di bundaran Lambaro.

Setelah pertemuan di pendopo Gubernur, kami bertiga Drs Rusli Muhammad (Penjabat Bupati), Khalid Wardana (sekretaris/kepala markas PMI Aceh Besar) dan Tgk Mukhtaruddin Amin (ketua PMI Indrapuri) melakukan observasi ke beberapa lokasi yang ada di kawasan Mukim Lamgarot Kecamatan Ingin Jaya, melihat langsung bekas tanah Krueng Aceh untuk di jadikan lokasi kuburan massal. Akhirnya setelah bermusyawarah di markas PMI, kami sepakat dengan arahan Pak Rusli Muhammad untuk menjadikan tanah bekas areal Krueng Aceh di Gampong Siron untuk di jadikan lokasi kuburan massal.

Selanjutnya tugas kami mencari alat berat dan mobil evakusi mayat. Saya mendapat tugas menjumpai salah seorang pengusaha di kawasan Sibreh untuk meminta bantuan pemakaian alat berat, namun setelah kami jelaskan kebutuhan yang sangat mendesak hatinya tidak terketuk dan kami harus kembali dengan tangan hampa.

Akhirnya alat berat berhasil di dapatkan dari Indrapuri dan beberapa hari setelahnya bantuan terus berdatangan termasuk dukungan TNI. Bahkan di hari ketiga pasca tsunami para petinggi TNI seperti Sjafrie Sjamsoeddin dan Adam Damiri telah hadir di markas PMI Aceh Besar bersama pasukannya yang akan melakukan pemindahan jasad jasad yang mulai membusuk.

Dukungan TNI sangat melegakan relawan PMI saat itu, karena minimnya partisipasi masyarakat untuk evakuasi mayat.

Dalam beberapa hari saja kolaborasi tim PMI, TNI/Polri dan relawan lainnya berhasil memindahkan ribuan jasad dari markas PMI bundaran Lambaro ke lokasi yang terpaut hanya 1 Km di areal tanah bekas Krueng Aceh di Gampong Siron.

Pada tahap awal lahan kuburan masal Siron memamfaatkan areal bekas Krueng Aceh, namun karena banyaknya korban tsunami yang di evakuasi dari berbagai wilayah pesisir Aceh Besar dan Banda Aceh akhirnya arealnya terus di perluas mencapai 2 hektar, sebagian besar tanah milik warga sekitar yang kemudian hari diganti rugi oleh Pemerintah daerah.

Dalam prasasti yang ada di lokasi kuburan massal tertulis angka jumlah jasad yang dimakamkan yaitu 46.718 orang.

Namun berdasarkan fakta dan keterlibatan saya bersama tim PMI saat itu tidak ada angka yang pasti berapa jumlah jasad yang disemayamkan, karena dari hari pertama proses evakuasi dan pemakaman korban yang sangat banyak, tidak ada petugas yang cukup untuk mencatat apalagi melakukan identifikasi, relawan PMI dan tim lainnya lebih fokus pada upaya penguburan mayat.

Kuburan massal Siron menjadi saksi bisu kelamnya bencana alam gempa bumi dan tsunami Aceh tahun 2004 dan menjadi salah satu bencana paling mematikan yang melanda negeri ini.

Setiap peringatan tsunami banyak sekali ditemui peziarah dari berbagai suku, bangsa dan agama, berbaur di kuburan massal Siron untuk mendoakan keluarga dan kerabatnya.

Saat ini kondisi kuburan massal Siron sudah tertata dengan baik, dilengkapi dengan mushalla, tempat wudhu dan kamar mandi. Tidak hanya itu juga tersedia 3 buah saung yang dapat dimanfaatkan untuk peziarah.

Momentum peringatan 20tahun Tsunami Aceh Tahun 2024 ini mengangkat tema “Beranjak dari masa lalu, menuju masa depan Aceh Bersyariat”.

Mari kita tingkatkan solidaritas, kepedulian dan semangat kebersamaan untuk mewujudkan masyarakat Aceh yang tanggap bencana dan maju meucuhu.[*]