Isranuddin, Dedikasi Tiada Batas: Dari Pendamping Desa ke Jualan Ikan

LUT TAWAR,KABARDAILY.COM – Senyum ramah masih selalu hadir di wajah Isranuddin setiap kali menyapa orang-orang yang ditemuinya. Belasan tahun ia habiskan di jalan pengabdian, menjadi Pendamping Lokal Desa (PLD) di Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah. Dari desa ke desa, ia berjalan membawa semangat perubahan, memberi pencerahan bagi masyarakat dalam mengelola pembangunan dan pemberdayaan.

Namun, garis kebijakan berkata lain. Tahun 2025 menjadi titik balik dalam perjalanan pengabdian Isranuddin. Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) mengambil kebijakan tegas: setiap Pendamping Desa yang pernah mencalonkan diri melalui partai politik sebagai anggota legislatif, diberhentikan. Isranuddin termasuk salah satu dari 1.040 orang yang terkena dampak kebijakan tersebut.

“Rasanya berat, karena ini bukan sekadar pekerjaan. Mendampingi desa sudah jadi bagian dari hidup saya,” tutur Isranuddin dengan nada pelan.

Pengabdian Panjang di Desa

Sejak awal bergabung sebagai Pendamping Lokal Desa, Isranuddin selalu hadir di tengah masyarakat. Ia mendampingi penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDesa), memastikan penggunaan dana desa berjalan transparan, sekaligus menjadi tempat masyarakat bertanya ketika menghadapi kebingungan administratif.

“Kalau ada persoalan, mereka datang. Kadang tengah malam pun saya tetap menerima,” ujarnya sambil mengenang.

“Saya merasa terpanggil, karena ini pengabdian, bukan sekadar pekerjaan,” lanjut mantan caleg PKS tersebut.

Dedikasinya membuatnya dikenal luas di kalangan masyarakat desa. Ia bukan hanya “pendamping” dalam arti administratif, tetapi juga sahabat, tempat curhat, bahkan penggerak semangat.

Dari Balai Desa ke Gerobak Ikan

Keputusan maju sebagai calon legislatif pada Pemilu 2024 membawa konsekuensi. Isranuddin harus rela meninggalkan profesi yang telah ia tekuni belasan tahun. Setelah tidak lagi berstatus Pendamping Desa, ia menghadapi realitas baru: kebutuhan dapur tak bisa ditunda.

“Anak-anak tetap harus sekolah, keluarga tetap butuh makan. Saya tak boleh menyerah,” katanya tegas.

Isranuddin lalu memilih jalan yang sederhana namun penuh harga diri: berjualan ikan keliling. Dengan sepeda motor dan keranjang berisi ikan segar, ia berkeliling dari satu kampung ke kampung lain. Pekerjaan ini memang jauh dari dunia pendampingan desa yang dulu ia tekuni, tapi baginya satu hal pasti: rezeki yang halal adalah yang utama.

“Tidak malu. Saya bersyukur masih bisa bekerja. Yang penting halal dan bisa untuk kebutuhan keluarga,” ungkapnya.

Pengabdian Tak Pernah Selesai

Meski kini berprofesi sebagai penjual ikan, semangat pengabdian Isranuddin tak padam. Dalam setiap singgahan, ia tetap berbincang dengan masyarakat, mendengar cerita mereka, bahkan sesekali tetap memberi masukan tentang tata kelola desa yang dulu ia kuasai.

“Bagi saya, mengabdi itu tidak harus dengan jabatan. Selama kita masih bisa bermanfaat bagi orang lain, itu sudah cukup,” katanya.

Bagi masyarakat Lut Tawar, sosok Isranuddin tetaplah seorang pendamping sejati. Ia mungkin tak lagi hadir dalam rapat-rapat resmi desa, tetapi dedikasi yang ia tanamkan sudah membekas. Kini, lewat gerobak ikan yang ia dorong, ia membawa pesan sederhana: pengabdian bisa berbentuk apa saja, asal dijalani dengan ketulusan.

Teladan Integritas

Suhadi, SP., pegiat pemberdayaan masyarakat desa di Kabupaten Aceh Tengah, menilai sosok Isranuddin sebagai salah satu pendamping pemberdayaan terbaik yang pernah dimiliki daerah penghasil kopi terbaik dunia itu.

“Isranuddin ini sepengetahuan saya orangnya sangat berdedikasi, berintegritas, dan memiliki wawasan yang sangat luas serta luwes, yang tentunya merupakan modal utama beliau untuk berkecimpung di tengah-tengah masyarakat. Dia serius menjalankan tugas, dekat dengan masyarakat, dan tidak pernah setengah hati dalam mendampingi desa,” ungkap Suhadi, yang pernah menjadi atasan Isranuddin.

Bagi Suhadi, meski kini Isranuddin tak lagi berstatus pendamping desa, semangatnya tetap menjadi teladan. Beliau adalah mitra kerja yang baik dan teman berdiskusi yang berwawasan luas, terutama terkait dengan konsep-konsep pengembangan kewilayahan di seputaran Danau Laut Tawar yang merupakan tanah tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.

“Saya salut karena meski beralih profesi, ia tetap menunjukkan sikap rendah hati dan menjaga integritasnya. Itu yang membuatnya dihormati, baik oleh rekan-rekan Pendamping Desa maupun masyarakat desa,” tambahnya.

(Mukhlis Aminullah, aktivis pemberdayaan / Kontributor Media kabardaily.com)