KABARDAILY.COM – Di tengah luka dan kecemasan yang masih membekas pascabanjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Bireuen, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh mengambil langkah nyata melalui pendekatan seni sebagai ruang pemulihan jiwa. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat, ISBI Aceh menghadirkan program trauma healing berbasis seni tari dan menggambar di MAN 7 Bireuen pada 22 April lalu.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa seni bukan sekadar ruang ekspresi estetika, tetapi juga memiliki kekuatan sosial yang besar dalam menyembuhkan trauma, terutama bagi para pelajar yang terdampak bencana.
Ketua Tim Pengabdian, Ichsan, menegaskan bahwa kehadiran ISBI Aceh di tengah masyarakat bukan hanya sebatas formalitas akademik, melainkan bentuk nyata tanggung jawab moral dan institusional kampus seni terhadap kondisi sosial masyarakat Aceh.
“Langkah ini adalah bentuk nyata pengabdian kami sebagai institusi dan para dosen kepada masyarakat. Seni memiliki kekuatan yang luar biasa untuk memulihkan kondisi psikologis anak-anak pascabanjir. Tari dan menggambar menjadi media yang sangat efektif untuk menyalurkan emosi, mengurangi kecemasan, dan membangun kembali semangat mereka,” ujarnya.
Menurutnya, banyak anak-anak dan remaja pascabencana mengalami tekanan psikologis yang tidak selalu tampak secara kasat mata. Dalam situasi seperti ini, pendekatan seni menjadi metode yang lebih humanis dan menyentuh sisi emosional mereka.
Melalui aktivitas tari, para siswa diajak bergerak, berekspresi, dan melepaskan beban emosional secara alami. Sementara melalui menggambar, mereka diberi ruang untuk menuangkan perasaan, ketakutan, hingga harapan mereka dalam bentuk visual yang lebih personal.
Kehadiran tim pengabdian ISBI Aceh yang terdiri dari Nadra Akbar Manalu MSn, Asrinaldi MSn, Indra Setiawan MSn dan TM Husni MPd ditemani Mahasiswa ISBI Aceh mendapat sambutan hangat dari pihak sekolah. Kepala MAN 7 Bireuen memberikan apresiasi tinggi atas kepedulian kampus seni tersebut yang dinilai hadir dengan solusi yang tepat dan menyentuh kebutuhan psikologis siswa.
“Kami sangat mengapresiasi kehadiran ISBI Aceh. Ini bukan sekadar kunjungan biasa, tetapi bentuk perhatian yang sangat berarti bagi siswa kami. Pascabanjir, mereka membutuhkan ruang untuk pulih, dan seni ternyata menjadi jalan yang sangat efektif,” ungkap Kepala MAN 7 Bireuen.
Sebagai satu-satunya perguruan tinggi seni dan budaya di Aceh, ISBI Aceh dinilai memiliki posisi strategis dalam menjawab berbagai persoalan sosial melalui pendekatan kebudayaan. Kampus ini tidak hanya melahirkan seniman dan akademisi, tetapi juga menjadi pusat pengabdian sosial yang menjadikan seni sebagai solusi nyata di tengah masyarakat.
Rektorat dan sivitas akademika ISBI Aceh terus mendorong agar seni tidak terjebak hanya di ruang pertunjukan atau galeri, tetapi hadir langsung di tengah persoalan rakyat, mulai dari pendidikan, sosial, hingga pemulihan pascabencana.
Program trauma healing ini menjadi salah satu contoh bagaimana seni dapat bekerja secara nyata dan berdampak langsung. Ketika banyak orang berbicara tentang bantuan dalam bentuk material, ISBI Aceh hadir membawa pemulihan yang lebih mendasar: penyembuhan batin.
Di tengah situasi pascabencana, anak-anak tidak hanya membutuhkan makanan dan fasilitas belajar, tetapi juga harapan dan rasa aman. Dan melalui gerak tari serta goresan gambar, ISBI Aceh menunjukkan bahwa seni mampu menjadi jembatan menuju pemulihan itu.
Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa kampus seni bukan institusi yang berdiri jauh dari realitas sosial, melainkan hadir sebagai bagian dari solusi. ISBI Aceh membuktikan bahwa seni memiliki fungsi kemanusiaan yang sangat kuat, menguatkan, menyembuhkan, dan menghidupkan kembali semangat masyarakat yang terdampak bencana. Dari Aceh kita belajar, ketika banjir datang membawa luka, seni selalu hadir membawa harapan.




















