BIREUEN,KABARDAILY.COM – Suasana Pendopo Kabupaten Bireuen pada 2 Agustus 2025 dipenuhi semangat dan warna. Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional, pemerintah kabupaten Bireuen menyelenggarakan Festival Hari Anak yang diisi dengan berbagai kegiatan lomba seni dan kreativitas. Salah satu yang mencuri perhatian adalah Lomba Melukis yang dikoordinatori oleh Ayu Jauhari, S.Pd, guru Seni Budaya dari SMP Negeri 1 Peusangan Selatan.
Ayu Jauhari, yang merupakan alumni Universitas Negeri Medan (UNIMED), tampil penuh dedikasi dalam mengawal jalannya lomba melukis. Lomba ini baru diselenggarakan pada hari puncak peringatan, yakni 2 Agustus, dan berlangsung dari pagi hingga sore hari. Ratusan peserta dari berbagai kalangan terlihat antusias mengikuti lomba, yang digelar terbuka untuk umum.
Dalam wawancaranya, Ayu menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak dibatasi oleh usia atau latar belakang pendidikan. “Lomba ini terbuka untuk siapa saja. Kita ingin menciptakan ruang kreatif yang inklusif, di mana anak-anak, remaja, maupun orang dewasa bisa mengekspresikan imajinasi mereka melalui media lukis,” ungkap Ayu yang dikenal sebagai sosok guru seni yang inspiratif.
Berbagai karya yang dihasilkan para peserta menunjukkan beragam gaya dan pendekatan artistik, mulai dari ekspresi bebas hingga lukisan bertema budaya lokal. Beberapa di antaranya menampilkan ikon-ikon khas Bireuen, seperti rumah adat, kopi, serta bunga Jeumpa sebagai simbol identitas daerah yang juga menjadi semangat dalam kegiatan ini.
Sebagai putri asli Lhokseumawe, Ayu Jauhari merasa terpanggil untuk mengabdi di Bireuen, wilayah yang ia anggap sebagai rumah kedua. Ia menyampaikan harapan agar kota Bireuen semakin dikenal melalui sentuhan seni dan budaya. “Saya ingin keindahan Bireuen menjadi nyata, bukan hanya dalam lukisan, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Semoga Bireuen menjadi kota Jeumpa yang sesungguhnya, harum dan indah,” tuturnya penuh harap.
Pelaksanaan lomba yang ia koordinasikan berjalan lancar dan penuh apresiasi dari berbagai pihak, termasuk panitia festival dan para orang tua peserta. Banyak di antara mereka mengungkapkan bahwa kegiatan ini menjadi ruang edukatif sekaligus hiburan yang bermakna dalam memperingati Hari Anak Nasional.
Festival Hari Anak Nasional di Bireuen tahun ini memang terasa berbeda. Selain lomba melukis, terdapat pula lomba musik, tari, menggambar, hingga desain ragam hias. Semua kegiatan ini menjadi simbol nyata dari perhatian pemerintah daerah terhadap perkembangan karakter anak melalui pendekatan seni dan budaya.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bireuen yang turut hadir dalam kegiatan memberikan apresiasi tinggi kepada guru-guru seni yang telah bekerja di balik layar. “Sosok gur guru di Bireun adalah energi bagi kemajuan pendidikan seni di Bireuen. Semoga ke depan semakin banyak ruang untuk kreativitas seperti ini,” ujarnya.
Dengan semangat kolaboratif, Festival Hari Anak Nasional di Bireuen sukses menjadi panggung bagi bakat-bakat muda dan menjadi jembatan harapan menuju masa depan yang lebih kreatif, humanis, dan berbudaya. Ayu Jauhari pun menjadi contoh nyata bahwa satu sentuhan seni dari seorang guru dapat menyulut semangat ribuan anak untuk mencintai keindahan dan identitas daerah mereka.




















