- Oleh (Mahasiswa Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh & Kader HMI Banda Aceh)
KABARDAILY.COM – Di era digital yang bergerak tanpa rem ini, gawai (smartphone) dan konsol game telah bertransformasi menjadi “pengasuh digital” yang paling diminati anak-anak. Bagi anak, game bukan lagi sekadar mainan pengisi waktu luang, melainkan sebuah dunia paralel yang penuh warna, tantangan, dan petualangan instan. Namun, sebagai mahasiswa psikologi yang kerap mengkaji tumbuh kembang anak, fenomena ini memunculkan dua sisi mata uang yang kontras: di satu sisi ia bisa menjadi media stimulasi kognitif, tetapi di sisi lain ia menyimpan potensi adiksi yang mengkhawatirkan.
Game sebagai Stimulasi Kognitif dan Emosional
Dari sudut pandang psikologi perkembangan, bermain adalah esensi dari masa kanak-kanak. Game modern—jika dipilih dengan bijak—sebenarnya menawarkan stimulasi yang kompleks. Banyak game edukatif atau strategis yang mampu melatih kemampuan pemecahan masalah (problem solving), koordinasi motorik visual, hingga pemikiran taktis.
Selain itu, game berbasis daring (multiplayer) kerap menjadi ruang sosialisasi baru bagi anak untuk membangun kerja sama tim dan komunikasi dengan pemain lain di berbagai belahan dunia. Dalam batas tertentu, game memberikan rasa pencapaian (sense of achievement) yang memupuk rasa percaya diri anak ketika mereka berhasil melewati level yang sulit.
Alarm Kritis: Ketika Dunia Virtual Mengaburkan Realitas
Kendati demikian, kita tidak boleh menutup mata terhadap dampak buruknya. Ketika durasi bermain game tidak lagi terkontrol, sistem ganjaran (reward system) di dalam otak anak—yang memicu pelepasan dopamin—akan bekerja secara berlebihan. Akibatnya, anak rentan mengalami adiksi atau kecanduan game (gaming disorder).
Secara psikologis, anak yang kecanduan cenderung mengalami penurunan empati sosial, kesulitan berkonsentrasi pada dunia nyata (seperti saat belajar di sekolah), serta menjadi lebih impulsif dan agresif ketika aktivitas bermainnya dibatasi. Hilangnya interaksi fisik dengan lingkungan sekitar dikhawatirkan melahirkan generasi yang cerdas secara digital, namun tumpul secara emosional dan sosial (emotional and social alienation).
Peran Keluarga dan Tanggung Jawab Kolektif Kader Bangsa
Sebagai bagian dari insan akademis dan kader HMI yang memegang teguh nilai-nilai keislaman dan kebangsaan, saya memandang bahwa persoalan ini tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada pundak guru di sekolah atau anak itu sendiri. Keluarga adalah benteng pertahanan pertama dan utama.
Orang tua harus hadir sebagai fasilitator yang bijak, bukan sekadar pemberi fasilitas. Penerapan regulasi waktu (screen time), pemilihan jenis game yang ramah anak, serta pendampingan aktif saat anak bermain adalah mutlak diperlukan. Orang tua harus mampu mengimbangi dunia virtual anak dengan aktivitas motorik dan sosial di dunia nyata, seperti olahraga, seni, atau interaksi keagamaan.
Pada akhirnya, game dalam dunia anak ibarat pisau bermata dua. Ia bisa menjadi sarana edukasi yang mencerahkan masa depan, atau justru menjadi belati yang merusak masa pertumbuhan mereka. Menjaga keseimbangan antara dunia nyata dan virtual anak adalah tanggung jawab bersama demi mencetak generasi masa depan bangsa yang sehat mental, cerdas, dan berkarakter mulia.




















