Desaku Lamteuba Droe

  • Oleh : Najwa Nafisa kelas IV SDN 3 Lamteuba

Cermin,kabardaily.com – Perkenalkan nama saya Najwa Nafisa siswa SDN 3 Lamteuba kelas IV dan merupakan salah satu peserta pelatihan literasi bintang pelajar yang diselenggarakan oleh YKMI bekerjasama dengan komunitas bintang pelajar dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Besar.

Melalui tulisan ini saya ingin berbagi cerita tentang tempat tinggal saya yaitu desa Lamteuba Droe.

Berdasarkan cerita dari tokoh masyarakat Gampong, Lamteuba Droe dahulu adalah sebuah danau yang sangat besar yang terletak di kaki gunung Seulawah Agam.

Danau tersebut kemudian dibelah menjadi dua bagian oleh seorang ulama yang terkenal dengan nama Putroe Teumeureuhom.

Sisi bagian pertama dari belahan danau tersebut diberi nama Kuta Cok Puteng, seiring perjalanan waktu bagian pertama danau tersebut mulai mengering sehingga menjadi daratan yang pada saat ini menjadi lokasi perkebunan masyarakat.

Sedangkan belahan bagian kedua pada sisi barat, pada saat itu masih menjadi danau. Namun oleh ulama yang lain yang bernama Tuan Tak Hasan dibuatlah sebuah lubang sumur dengan Lam Tabai yang kemudian sumur tersebut membuat danau di sisi barat tersebut akhirnya juga mengering dan menjadi pemukiman warga saat ini dengan nama Gampong sumur Lam Tabai.

Di masa sekarang sumur Lam Tabai yang bersejarah ini masih terjaga di desa saya dan saat ini sumur lam tabai digunakan sebagai tempat pemandian kaum perempuan yang dikenal dengan nama Mon Tuan Tak Hasan.

Sebutan Lam Teubai pada awalnya berubah menjadi Lamteuba, sedangkan untuk kata Droe merupakan kata yang digunakan untuk penunjuk Gampong asal yang sekarang digabung didalam sebuah kemukiman yang bernama Lamteuba.

Oleh karena itu lam teubai dahulu sekarang dikenal dengan nama Gampong Lamteuba Droe.

Editor : Fajar Andi Saputra