Oleh: Muklis Puna
Puisi–
wajah bulan nampak bersahaja
awan kotak- kotak tersipu malu ditempa cahaya
redup mengumbar senyum di malam lara
ku arung malam bersama angin menuju lembah
bulan memantulkan kisah bersambung di laut teduh
cerita cinta mengembang tanpa ending
babak demi babak menguras bola mata
alur diseret ke arah duka nan kelam
settingan di atur takdir yang tertulis di lapis ke tujuh
satu persatu luka lama melayat jiwa
silih berganti mengambang di atas kumpulan embun
Kucoba menghapus rententan panjang yang mengapung di muka buih
angin nakal mengundang penasaran
O, bulan perindu kasih
kenapa timbunan duka kau pantulkan
bukankah batu nisan sudah berlumut di dasar jiwa
semingu sekali kujenguk dia dalam diam
itu pun dengan menyelinap,
agar angan tidak mengumbar pada maya
Lhokseumawe,. Oktober 2016




















