Emas Geumpang Bakal Habis, Bagaimana Nasib Pemudanya?

  • Oleh: Dr. Safwan, S.Pd.I., M.Ag.  (Wakil ketua KNPI Aceh 2013-2026 dan Ka. Prodi Studi Islam Pascasarjana STAI Nusantara Banda )

​KABARDAILY.COM – Kawasan Geumpang, Pidie, sedang tidak baik-baik saja. Gunung-gunung yang dulunya jadi benteng alam sekaligus sumber kehidupan, kini perlahan keruk dan rusak demi berburu kilau emas. Pemandangan perbukitan yang tergerus bukan lagi sekadar isu lingkungan di atas kertas, tapi ancaman nyata bagi masa depan masyarakat lokal—khususnya para pemuda.

​Emas memang menggiurkan, tapi sifatnya sementara. Hasil tambang mungkin memberikan uang cepat hari ini, namun harga yang harus dibayar di masa depan sangat mahal: kerusakan alam, ancaman bencana, hingga hilangnya mata pencaharian yang berkelanjutan. Lebih berbahaya lagi, ekonomi tambang kerap menjebak anak muda dalam zona nyaman semu.

Banyak pemuda tergiur hasil instan tanpa sempat membekali diri dengan ilmu, kapasitas, dan keterampilan hidup. Lantas, ketika kandungan emas di perut bumi Geumpang benar-benar habis, apa yang tersisa untuk mereka?

Kita tidak bisa cuma melarang, meratapi, atau saling tunjuk. Solusi konkret harus segera dihadirkan lewat dua jalur utama: pendidikan dan pemberdayaan ekonomi.
​Tiga Solusi Nyata untuk Masa Depan Geumpang

Skill Up! Pendidikan Berbasis Keahlian
Anak muda Geumpang butuh pendidikan yang relevan—bukan cuma teori di kelas, tapi juga keterampilan vokasi (skill) dan kesadaran lingkungan. Mereka harus disadarkan bahwa kekayaan tertinggi Geumpang bukan emas di bawah tanah, melainkan kualitas SDM di atasnya.

​Buka Keran Ekonomi Alternatif
Harus ada pilihan mata pencaharian baru yang ramah lingkungan dan tahan lama. Sektor pertanian modern, perkebunan unggulan, peternakan, hingga potensi ekowisata lokal punya prospek besar. Pemuda perlu didampingi lewat pelatihan bisnis, akses modal, dan koneksi pasar agar bisa berdikari tanpa harus bergantung pada lubang tambang.

Kembali ke Nilai Agama dan Adat
Pendekatan moral dan kearifan lokal (hifzh al-bi’ah) punya peran kunci. Prinsip amanah dalam menjaga bumi harus ditanamkan kuat-kuat: alam adalah titipan untuk anak cucu, bukan objek yang boleh dikerok sampai habis.
​Menyelamatkan Geumpang artinya menyelamatkan generasi mudanya. Pemerintah daerah, akademisi, tokoh masyarakat, dan para pemuda sendiri harus duduk bersama menyusun rencana aksi yang jelas. Jangan sampai gunungnya habis, pemudanya ringkih tanpa masa depan. Pendidikan dan pemberdayaan ekonomi adalah satu-satunya kunci agar Geumpang tetap sejahtera—bahkan ketika emasnya tak lagi tersisa.