- Oleh Feri Irawan
KABARDAILY.COM – Bangsa Indonesia sangat kental akan tradisi dan perayaan, baik yang bersifat lokal di suatu daerah maupun yang berlangsung karena peristiwa nasional.
Dalam konteks perayaan Nasional, salah satunya adalah perayaan Hari Kemerdekaan RI atau perayaan 17 Agustus.
Menyambut 17 Agustus, seluruh elemen masyarakat tak terkecuali warga sekolah turut terlibat dalam kesibukan ini. Dari sekadar membersihkan lingkungan sekolah, memasang umbul-umbul, membangun gapura di gerbang pintu masuk sekolah, hingga pembentukan panitia untuk sekian banyak kegiatan: upacara, aneka lomba, pentas seni, gerak jalan, hingga karnaval budaya.
Dan setiap tahun pun, merayakan kemerdekaan dengan kegiatan yang nyaris serupa: lomba main bola pakai sarung, makan kerupuk, tarik tambang, hingga memasukkan paku/pinsil ke dalam botol.
Ya, perayaan kemerdekaan terjebak pada kemeriahan fisik dan estetika lomba, namun miskin substansi. Biaya habis untuk dekorasi dan hadiah, sementara nilai-nilai perjuangan, pengorbanan, dan tanggung jawab sebagai warga negara tidak mendapat porsi yang cukup.
Barangkali, setiap kali kita mengulang tradisi ini, orang Belanda di tanah seberang masih bisa tersenyum melihat bangsa Indonesia tetap melestarikan permainan yang dulu diciptakan untuk merendahkan.
Lloyd Bradley dalam bukunya The Rough Guide to Cult Sport mencatat, melihat rakyat jelata jatuh bangun demi hadiah yang mustahil diraih seperti panjang pinang atau tarik tambang adalah hiburan tersendiri bagi kolonial Belanda. Inilah yang kemudian diwariskan, dan ironisnya justru dilestarikan hingga kini.
Inilah Peran Sekolah
Sekolah dapat menggeser paradigma “perayaan untuk hiburan” menjadi “perayaan untuk pendidikan dan pembentukan jati diri”, tanpa menghilangkan unsur keseruan.
Hari Kemerdekaan adalah momentum berharga untuk menanamkan nilai-nilai luhur perjuangan, membangkitkan kesadaran sejarah, dan menumbuhkan rasa cinta tanah air pada generasi muda.
Di tengah pergeseran nilai, melemahnya rasa persaudaraan dan solidaritas, serta melemahnya semangat gotong royong, dunia pendidikan justru memiliki tanggung jawab strategi untuk menjaga nyala api patriotisme itu.
Anak-anak dan remaja sekarang lahir jauh setelah kemerdekaan diproklamasikan. Cerita perjuangan sering hanya mereka temui di buku pelajaran atau upacara formal. Akibatnya, makna “merdeka” mudah tereduksi menjadi sekadar simbol atau perayaan tahunan, bukan kesadaran yang hidup.
Platform digital pun membawa arus informasi global yang masif. Anak-anak bisa hafal tren di media sosial dari luar negeri, tapi buta akan tokoh-tokoh pejuang di daerahnya sendiri. Algoritma internet sering mengarahkan pada hiburan instan, bukan pengetahuan kebangsaan.
Sekolah dapat menjembatani semangat 1945 dengan realitas abad ke-21, mengajak siswa untuk melihat bahwa perjuangan tidak berhenti pada pengusiran penjajah fisik, tetapi terus pada membangun bangsa yang adil, berdaya saing, dan bermoral.
Siswa tidak selalu melihat relevansi antara perjuangan kemerdekaan dengan isu-isu masa kini seperti korupsi, kopling sosial, atau kerusakan lingkungan. Semangat kemerdekaan adalah juga semangat menyelesaikan masalah bangsa hari ini.
Banyak gagasan kegiatan kreatif & bermakna untuk HUT RI yang bisa sekolah lakukan.
Diantaranya, siswa melakukan penelitian tentang pahlawan daerah, mengunjungi lokasi bersejarah, atau membuat vlog edukasi. Hasilnya dipamerkan di “Galeri Sekolah”.
Selain itu, mengundang veteran, pejuang daerah, atau tokoh inspiratif untuk berdiskusi dengan siswa tidak ada salahnya. Formatnya bisa berupa talkshow atau mentoring kelompok kecil.
Tak kalah serunya, siswa di ajak menulis surat atau membuat video pesan untuk Indonesia masa depan, berisi cita-cita dan komitmen pribadi. Surat disimpan oleh sekolah untuk dibaca ulang saat mereka lulus. Dari kegiatan ini akan lahir nilai visi, tanggung jawab, dan keterikatan emosional dengan bangsa.
Bisa juga mengajak siswa menciptakan puisi, lagu, atau karya seni yang memaknai kemandirian dari sudut pandang mereka hari ini.
Sehingga nilai kreativitas, ekspresi diri, dan apresiasi budaya akan didapati.
Untuk mendapatkan nilai kepedulian sosial, gotong royong, dan aksi nyata, siswa bisa diajak menggalang dana atau mengumpulkan buku untuk disumbangkan ke sekolah lain atau sekolah pelosok.
Membersihkan taman kota, menanam pohon, atau memperbaiki fasilitas umum sebagai simbol menjaga “rumah besar” bernama Indonesia, juga layak dilakukan.
Atau mengadakan lomba ide kreatif mencari solusi bagi masalah di lingkungan sekolah atau daerah (misalnya sampah, air bersih, atau kemacetan) dengan semangat gotong royong.
Nah, sejauh ini sudah paham kan?. Mari kita bermetamorfosis mengubah paradigma berpikir kita dalam merayakan kemerdekaan RI.
Penulis adalah Kepala SMKN 1 Gandapura, Bireuen




















