- Oleh: Dr. Safwan, M.Ag. (Kader NU Aceh dan Ka. Prodi Study Islam Pascasarjana Stai Nusantara Banda Aceh )
KABARDAILY.COM – Menyongsong Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026, momentum ini bukan sekadar ajang perhelatan lima tahunan untuk memilih kepemimpinan baru. Lebih dari itu, Muktamar ke-35 harus menjadi ruang sakral muhasabah (introspeksi) kolektif bagi seluruh warga Nahdliyin.
Di tengah dinamika zaman yang bergerak cepat, arus digitalisasi, serta tarikan kepentingan pragmatis-politis, Nahdlatul Ulama sering kali diuji konsistensinya. Oleh karena itu, meneguhkan kembali makna “Ber-NU” berdasarkan warisan pemikiran sang pendiri, Hadratussyekh K.H. M. Hasyim Asy’ari, menjadi sebuah keniscayaan yang mendesak.
Akar Historis: Ber-NU sebagai Jalan Ibadah dan Khidmat
Bagi Hadratussyekh Hasyim Asy’ari, mendirikan dan bergabung dengan NU bukanlah sekadar wadah organisasi sosial-keagamaan biasa. Dalam pandangan beliau, NU adalah instrumen perjuangan untuk i’la’ kalimatillah (menegakkan kalimat Allah), melestarikan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ber-NU berarti menempatkan diri sebagai bagian dari rantai sanad perjuangan ulama salaf. Kiai Hasyim tidak pernah memposisikan NU sebagai alat untuk mencari kekuasaan duniawi. Sebaliknya, NU adalah ladang khidmat (pengabdian) tanpa pamrih kepada umat, bangsa, dan agama. Ketika seseorang masuk ke dalam barisan NU, ia sedang mengikat janji moral untuk merawat persatuan, menyebarkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin, serta membentengi akidah umat dari paham-paham yang menyimpang.
Tantangan Kontemporer: Menjaga “Ruh” Keikhlasan di Era Modern
Menjelang Muktamar ke-35 di Tambakberas—tanah kelahiran tradisi keilmuan pesantren yang kuat—kita perlu jujur merefleksikan sejauh mana nilai-nilai luhur yang ditanamkan Hadratussyekh masih hidup dalam denyut nadi keseharian warga NU.
Saat ini, gejala politicking dan komersialisasi organisasi kerap mengancam orientasi kultural NU. Padahal, kekuatan sejati NU terletak pada kemandirian moral, keikhlasan para kiai kampung, ketulusan para guru ngaji, dan semangat gotong royong (ukhuwah nahdliyah) di akar rumput.
Jika ber-NU mulai bergeser dari orientasi khidmat menjadi orientasi manfa’at (mencari keuntungan pribadi atau kelompok), maka ruh Nahdlatul Ulama secara perlahan akan tergerus. Muktamar ke-35 harus menjadi momentum korektif untuk membersihkan orientasi tersebut, mengembalikan jam’iyah ini pada khitahnya sebagai gerakan keagamaan dan kemasyarakatan yang independen.
Refleksi dari Serambi Mekkah: Menghidupkan Kembali Ghirah Keilmuan
Sebagai kader NU dari Aceh—sebuah wilayah dengan akar Islam yang sangat kuat dan memiliki tradisi dayah (pesantren) yang mengakar—penulis melihat bahwa esensi ber-NU di luar Jawa memiliki napas yang sama: menjaga tradisi keilmuan dan keulamaan.
Hadratussyekh Hasyim Asy’ari dalam kitab-kitabnya, seperti Adabul Alim wal Muta’allim, selalu menekankan pentingnya adab, keilmuan yang mendalam, dan integritas moral. Ber-NU haruslah dibarengi dengan tradisi literasi, kecintaan pada majelis ilmu, dan sikap moderat (tawasuth), toleran (tasamuh), seimbang (tawazun), serta adil (i’tidal).
Kader NU di era modern tidak boleh hanya hadir secara simbolik dalam seremonial keagamaan, tetapi harus menjadi pelopor solusi atas problem-problem umat, mulai dari kemiskinan kultural, kebodohan, hingga radikalisme beragama.
Menuju Muktamar ke-35: Meneguhkan Kemandirian dan Martabat
Pelaksanaan Muktamar ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang—tanah yang sarat dengan nilai historis perjuangan—harus mampu menghasilkan keputusan-keputusan strategis yang membumi.
Penguatan Basis Pesantren dan Madrasah: Perhatian terhadap kesejahteraan guru ngaji dan kualitas pendidikan pesantren harus menjadi agenda utama.
Kemandirian Ekonomi Umat: NU harus bertransformasi dari gerakan kultural yang besar secara jumlah menjadi kekuatan ekonomi yang berdikari.
Rekonsiliasi Moral Jam’iyah: Mengembalikan politik NU pada politik kebangsaan yang luhur, bukan politik praktis yang memecah belah keutuhan warga.
Meneguhkan kembali makna ber-NU di bawah bayang-bayang semangat Hadratussyekh Hasyim Asy’ari berarti kembali pada titik nol kesadaran: bahwa ber-NU adalah panggilan jiwa untuk berkhidmat kepada umat dengan ikhlas.
Semoga Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, menjadi titik balik (turning point) yang membawa Nahdlatul Ulama semakin matang, bermartabat, dan senantiasa berada dalam ridha Allah SWT. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.




















