Menjadikan STAI Nusantara Banda Aceh sebagai Episentrum Pemikiran Ulama Nusantara

  • Oleh : Dr. Safwan, S. Pd.I, M. Ag. Ketua Prodi Studi Islam Pascasarjana STAI Nusantara Banda Aceh)

KABARDAILY.COM – ​Aceh dan tradisi keislaman Nusantara adalah dua hal yang mustahil dipisahkan. Sebagai wilayah yang kerap dijuluki “Serambi Mekkah,” Aceh bukan sekadar pintu masuk Islam ke kepulauan ini, melainkan laboratorium intelektual tempat fondasi pemikiran Islam pribumi dirumuskan. Di tanah inilah nama-nama besar seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, Nuruddin ar-Raniri, hingga Syekh Abdurrauf as-Singkili melahirkan karya-karya monumental yang melintasi batas zaman dan geografis.

​Di tengah arus modernisasi dan globalisasi akademik, STAI Nusantara Banda Aceh memiliki peluang sejarah yang sangat strategis. Kampus ini tidak boleh sekadar menjadi lembaga pencetak sarjana yang repetitif. STAI Nusantara harus mengambil peran yang lebih berani dan visioner: menjadi episentrum dan laboratorium utama dalam menggali, mengkaji, dan mengontekstualisasikan kembali pemikiran ulama Nusantara.

​Mengapa Harus STAI Nusantara Banda Aceh?
​Ada beberapa alasan kuat mengapa STAI Nusantara Banda Aceh sangat ideal memikul mandat intelektual ini:
​Akar Geografis dan Historis: Banda Aceh adalah titik nol jangkar keilmuan Nusantara. Mengkaji pemikiran ulama di kota ini memberikan denyut spiritual dan historis yang tidak dimiliki oleh wilayah lain.

​Kebutuhan Reorientasi Akademik: Saat ini, banyak kampus Islam di Indonesia yang kiblat akademiknya terlalu condong ke Timur Tengah atau Barat. Akibatnya, khazanah lokal sering kali terabaikan atau hanya dianggap sebagai pelengkap. STAI Nusantara bisa mengisi kekosongan (gap) ini dengan menjadikan Islam Nusantara sebagai menu utama.
​Jawaban atas Tantangan Zaman: Pemikiran ulama Nusantara dikenal sangat moderat (wasathiyah), adaptif terhadap budaya lokal, namun tetap kokoh secara metodologi syariat. Karakteristik inilah yang hari ini dibutuhkan untuk meredam radikalisme dan polarisasi global.

​Tiga Langkah Strategis Menuju Kampus “Pusat Jurnal Ulama”
​Untuk mewujudkan visi besar ini, STAI Nusantara Banda Aceh perlu melakukan transformasi yang terukur melalui tiga pilar utama:

​1. Rekonstruksi Kurikulum Berbasis Manuskrip (Turats) Nusantara
​Mata kuliah di STAI Nusantara harus berani memasukkan kajian mendalam terhadap kitab-kitab klasik karya ulama Nusantara. Mahasiswa tidak hanya diajarkan teori hukum Islam secara umum, tetapi juga bagaimana, misalnya, Mir’at al-Thullab karya Abdurrauf as-Singkili merespons isu-isu hukum dan ketatanegaraan pada masanya. Ini akan melatih mahasiswa berpikir kontekstual.

​2. Digitalisasi dan Restorasi Manuskrip Aceh-Nusantara
​Bekerja sama dengan berbagai lembaga adat dan internasional, STAI Nusantara dapat mendirikan Nusantara Ulama Research Center. Fokus utamanya adalah memburu, merestorasi, dan mendigitalisasi manuskrip-manuskrip kuno yang tersebar di dayah-dayah (pesantren) tua di seluruh Aceh. Kampus ini harus menjadi rujukan utama bagi peneliti dunia yang ingin mencari data primer tentang Islam Nusantara.

​3. Menghidupkan Kembali Diskursus Publik dan Dialektika
​Kampus harus menjadi ruang debat yang sehat. Tradisi bahtsul masail atau diskusi meja bundar yang membedah polemik pemikiran masa lalu (seperti perdebatan wujudiyah Hamzah Fansuri dan ar-Raniri) harus dihidupkan kembali dalam perspektif modern. Tujuannya bukan untuk terjebak pada masa lalu, melainkan mencari formula solusi untuk masalah umat hari ini (kontekstualisasi).

“Bangsa yang besar tidak hanya merawat makam para pahlawannya, tetapi juga menghidupkan kembali pemikiran dan gagasan besar mereka. STAI Nusantara Banda Aceh memiliki modal sejarah untuk menjadi penjaga gawang peradaban Islam Nusantara tersebut.”

​Menjadikan STAI Nusantara Banda Aceh sebagai pusat penggalian pemikiran ulama Nusantara bukan sekadar romantisme sejarah. Ini adalah langkah politis-akademis yang visioner.

Dengan fokus pada ceruk (niche) keilmuan yang spesifik dan berakar kuat ini, STAI Nusantara tidak perlu berkompetisi secara umum dengan kampus-kampus besar lainnya. Ia akan berdiri tegak dengan identitasnya yang unik, menarik minat para intelektual dunia, sekaligus menjaga agar obor pemikiran Islam yang ramah, toleran, dan berbobot dari para pendahulu kita tidak pernah padam di buminya sendir