Muharram Sebagai Tarbiyah: Menjadikan Momentum Hijrah Untuk Edukasi Diri

  • Dr. Safwan, S. Pd.I, M. Ag. Ketua Studi Islam Pascasarjana STAI Nusantara Banda Aceh dan intruktur NU Aceh

KABARDAILY.COM – Bulan Muharram bukan sekadar pergantian kalender dalam Islam, melainkan sebuah momentum pendidikan (edukasi) yang sarat akan nilai sejarah, spiritual, dan sosial. Sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah, Muharram menyimpan peristiwa besar—khususnya Hijrah Nabi Muhammad SAW—yang dapat dijadikan laboratorium karakter bagi umat Muslim.

​Pergantian tahun baru Islam di bulan Muharram sering kali disambut dengan semarak perayaan, pawai obor, atau sekadar ucapan selamat di media sosial. Namun, jika kita menyelami esensi historis dan spiritualnya, Muharram sejatinya adalah sebuah madrasah waktu. Ia adalah momen tarbiyah (pendidikan dan pengaderan diri) yang mengajarkan umat Muslim tentang arti transformasi, resiliensi, dan pemurnian akidah.
​Muharram bukan sekadar penanda di kalender, melainkan sebuah jeda strategis untuk mengevaluasi rapor spiritual dan sosial kita.

​1. Tarbiyah Ruhiyah: Evaluasi dan Pemurnian Niat
​Awal tahun adalah waktu terbaik untuk melakukan muhasabah (introspeksi). Menetapkan Muharram sebagai awal kalender Hijriah—yang diinisiasi oleh Umar bin Khattab—membawa pesan kuat bahwa hitungan waktu kita harus berbasis pada perjuangan, bukan pada kelahiran atau kematian seorang tokoh.

​Pendidikan Disiplin Spiritual: Muharram mendidik kita melalui amalan sunah, seperti puasa Tasu’a (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram). Puasa ini bukan ritual tanpa makna, melainkan latihan mengendalikan hawa nafsu dan ekspresi rasa syukur atas kemenangan kebenaran terhadap kezaliman (seperti diselamatkannya Nabi Musa dari Firaun).
​Reorientasi Target: Tarbiyah di bulan ini memaksa kita bertanya: “Ke arah mana arah hidup kita setahun ke depan? Apakah kita berpindah menuju arah yang lebih baik, atau sekadar berjalan di tempat?”

​2. Tarbiyah Amaliyah: Esensi Hijrah dalam Konteks Modern
​Konsep hijrah dari Makkah ke Madinah adalah fondasi dari Muharram. Di era modern, tarbiyah amaliyah (edukasi tindakan) dari momen ini harus dikontekstualisasikan. Kita tidak lagi diminta berpindah secara fisik, melainkan secara psikologis, moral, dan intelektual.
​”Seorang mukmin yang berhijrah adalah mereka yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari)
​Hijrah dari Kebodohan ke Literasi: Memaknai Muharram sebagai tarbiyah berarti menumbuhkan semangat belajar, membaca, dan memahami realitas secara kritis agar umat tidak mudah terombang-ambing oleh disinformasi.

​Hijrah Ekonomi dan Sosial: Berpindah dari perilaku konsumtif dan egois menuju gaya hidup yang peduli pada keadilan sosial. Muharram dikenal sebagai “bulan anak yatim”, sebuah tarbiyah langsung bagi kepekaan sosial kita untuk berbagi.

​3. Tarbiyah Nafsiyah: Membangun Resiliensi Mental
​Hijrah Rasulullah SAW dan para sahabat dipenuhi dengan tekanan, boikot, dan ancaman. Namun, mereka tetap melangkah dengan optimisme. Di sinilah Muharram memberikan tarbiyah nafsiyah (pendidikan jiwa/mental).
​Dunia saat ini penuh dengan ketidakpastian, kecemasan (anxiety), dan tekanan mental. Muharram mengajarkan kita untuk tidak terjebak dalam comfort zone yang semu. Menghadapi tantangan hidup membutuhkan keberanian untuk melangkah keluar, mengambil risiko demi kebaikan, dan bertawakal penuh setelah ikhtiar maksimal dilakukan.
​Tantangan: Melampaui Ritualisme Semata
​Opini kritis yang harus kita angkat adalah bahwa tarbiyah Muharram sering kali gagal berdampak karena terjebak dalam romantisme sejarah dan ritualisme formal. Kita fasih menceritakan kisah hijrah Nabi, namun enggan mengubah kebiasaan buruk kita sendiri. Kita rajin berpuasa Asyura, namun abai terhadap tetangga yang kelaparan atau terjebak utang riba.
​Tarbiyah yang berhasil adalah tarbiyah yang menghasilkan output perubahan perilaku. Jika setelah Muharram kualitas ibadah, etos kerja, dan kepedulian sosial kita masih sama dengan tahun lalu, maka kita telah melewatkan masa “sekolah” ini dengan sia-sia.

​Menjadikan Muharram sebagai tarbiyah berarti memosisikan diri kita sebagai murid yang siap belajar, tumbuh, dan berubah. Muharram adalah momentum untuk menyusun kurikulum hidup yang baru—kurikulum yang lebih mendekatkan diri pada Tuhan dan memberikan dampak yang lebih luas bagi kemanusiaan.

​Hijrah adalah proses berkelanjutan, dan Muharram adalah tombol reset terbaik yang diberikan waktu kepada kita setiap tahunnya.