- Oleh: Dr. Muhammad Rizki, S.Pd.I., M.Pd.
KABARDAILY.COM – Di tengah arus globalisasi dan percepatan perkembangan teknologi yang membawa perubahan besar terhadap pola pikir dan perilaku generasi muda, pendidikan tidak lagi cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik. Pendidikan harus mampu membentuk karakter, memperkuat identitas budaya, serta menanamkan nilai-nilai moral yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat. Dalam konteks Aceh Besar, salah satu upaya strategis yang patut diapresiasi adalah hadirnya Program Beut Kitab Bak Sikula, sebuah inovasi pendidikan yang mengintegrasikan pembelajaran kitab keislaman ke dalam lingkungan sekolah formal.
Program ini lahir dari kesadaran bahwa Aceh, khususnya Aceh Besar memiliki kekayaan kearifan lokal yang berakar kuat pada nilai-nilai Islam. Sejarah mencatat bahwa pendidikan masyarakat Aceh sejak dahulu tidak dapat dipisahkan dari tradisi meunasah, dayah, dan pengajian kitab. Tradisi tersebut bukan sekadar sarana transfer ilmu agama, melainkan juga wahana pembentukan karakter, etika sosial, dan identitas keacehan. Oleh karena itu, memasukkan kembali tradisi pembelajaran kitab ke dalam sekolah formal merupakan langkah penting dalam menjaga kesinambungan warisan intelektual dan spiritual masyarakat Aceh dan Aceh Besar Besar secara khusus.
Secara substantif, Program Beut Kitab Bak Sikula tidak hanya mengajarkan kemampuan membaca kitab, tetapi juga memperkenalkan peserta didik pada pemahaman dasar-dasar agama Islam, terutama aspek fardhu ain, akhlak, dan nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam literatur keislaman klasik. Pemerintah Kabupaten Aceh Besar menegaskan bahwa program ini bertujuan memperkuat pondasi keagamaan siswa sehingga mereka tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter Islami yang kuat.
Dari perspektif pendidikan modern, pendekatan yang dilakukan melalui program Beut Kitab Bak Sikula sejalan dengan konsep character education yang menempatkan nilai moral sebagai bagian integral dari proses pembelajaran. Berbagai penelitian pendidikan menunjukkan bahwa keberhasilan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan akademik, tetapi juga oleh kualitas karakter generasinya. Dalam hal ini, Beut Kitab Bak Sikula menjadi instrumen yang relevan untuk menjawab tantangan meningkatnya degradasi moral, krisis keteladanan, dan melemahnya identitas budaya pada kalangan remaja.
Lebih jauh, program ini juga menunjukkan bagaimana kearifan lokal dapat menjadi sumber inovasi pendidikan. Selama ini, banyak kebijakan pendidikan cenderung mengadopsi model yang bersifat universal tanpa mempertimbangkan karakteristik budaya daerah. Beut Kitab Bak Sikula justru bergerak ke arah sebaliknya, yakni menjadikan tradisi lokal Aceh Besar sebagai kekuatan utama dalam membangun sistem pendidikan. Pendekatan ini sangat penting karena peserta didik akan lebih mudah memahami dan menginternalisasi nilai-nilai yang dekat dengan realitas sosial dan budaya mereka sendiri.
Keberadaan Beut Kitab Bak Sikula juga menjadi jembatan yang mempertemukan dua institusi pendidikan yang selama ini sering dipandang terpisah, yaitu sekolah dan dayah. Pimpinan Dayah Darul Ulum Al-Fata, Baba H. Marwan Abdullah, dalam sebuah forum di Aceh Besar pernah menegaskan bahwa pendidikan Islam dan pendidikan umum tidak seharusnya dipisahkan secara dikotomis. Program ini membuktikan bahwa integrasi keduanya memungkinkan lahirnya sistem pendidikan yang lebih utuh dan komprehensif.
Meski demikian, keberhasilan Program Beut Kitab Bak Sikula tentu tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah semata. Kualitas guru, kurikulum yang terstandar, metode pembelajaran yang menarik, serta evaluasi yang berkelanjutan menjadi faktor penting yang harus terus diperhatikan. Pemerintah Aceh Besar sendiri telah melakukan berbagai langkah penguatan, termasuk pelatihan guru dan evaluasi berkala untuk memastikan kualitas implementasi program di sekolah-sekolah.
Pemerintah Aceh Besar telah menunjukkan bahwa modernisasi pendidikan tidak harus menghilangkan akar budaya dan nilai-nilai lokal. Sebaliknya, kemajuan dapat dibangun justru dengan menjadikan warisan budaya sebagai fondasi utama. Program Beut Kitab Bak Sikula adalah bukti nyata bahwa pendidikan yang berpijak pada kearifan lokal mampu menjadi jalan menuju masa depan yang lebih berkarakter, berbudaya, dan bermartabat.
Pada akhirnya, Program Beut Kitab Bak Sikula merupakan sebuah ikhtiar pendidikan yang layak didukung bersama. Program ini bukan hanya tentang mengajarkan kitab kepada siswa, tetapi tentang merawat identitas Aceh, menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam, serta menyiapkan generasi yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, spiritual, dan sosial. Dalam jangka panjang, keberhasilan program ini dapat menjadi model pendidikan berbasis kearifan lokal yang inspiratif bagi daerah-daerah lain di Aceh dan Indonesia secara umum.




















