KABARDAILY.COM,PHUKET — Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh tidak menunggu lama untuk membuktikan keseriusannya di panggung internasional. Hanya sesaat setelah penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Prince of Songkla University (PSU) Thailand, Jurusan Seni Rupa dan Desain ISBI Aceh langsung melaksanakan implementasi nyata kerja sama dengan Faculty of Education melalui forum seminar internasional di Phuket, Thailand (09/05).
Langkah cepat itu diwujudkan melalui partisipasi aktif dosen ISBI Aceh sebagai presenter akademik dalam konferensi internasional yang mempertemukan akademisi dan peneliti dari berbagai negara Asia dan Eropa. Dalam forum tersebut, Ketua Jurusan Seni Rupa dan Desain ISBI Aceh, Ichsan, M.Sn., tampil membawakan materi bertajuk Estetika Nisan Sultanah Nahrasyiah sebagai objek analisis dalam membaca perjalanan Islam di Asia Tenggara melalui pendekatan seni dan budaya.
Kajian tersebut mendapat perhatian besar dari peserta seminar internasional karena dinilai membuka perspektif baru dalam melihat hubungan antara sejarah Islam, identitas budaya, dan estetika visual di kawasan Asia Tenggara.
Dalam presentasinya, Ichsan menjelaskan bahwa nisan Sultanah Nahrasyiah bukan sekadar artefak kematian, melainkan dokumen visual peradaban yang menyimpan jejak hubungan antarbangsa, perkembangan seni Islam, hingga dinamika budaya maritim pada masa Kesultanan Samudera Pasai.
“Melalui estetika nisan Sultanah Nahrasyiah, kita dapat membaca perjalanan besar Islam di Asia Tenggara dalam konteks budaya dan seni. Ini bukan hanya tentang Aceh, tetapi tentang bagaimana peradaban kawasan ini pernah saling terhubung,” ujar Ichsan di hadapan peserta seminar.
Seminar berlangsung hangat dan penuh diskusi akademik. Dean of Faculty of Education Prince of Songkla University, Prof. Dr. Afifi Lateh, turut hadir dan membersamai jalannya seminar internasional tersebut sebagai bentuk dukungan langsung terhadap implementasi kerja sama akademik antara PSU Thailand dan ISBI Aceh.
Sejumlah akademisi internasional juga memberikan tanggapan serius terhadap materi yang dipresentasikan. Di antaranya Dr. Razi dari Universitas Sultan Zainal Abidin Malaysia yang menyebut kajian tersebut sebagai sesuatu yang sangat menarik dan relevan bagi pengembangan studi kawasan Asia Tenggara.
“Ini seminar Internasional yang sangat menarik. Selain menjadi pengetahuan baru bagi kami, di Malaysia kami juga sedang mempelajari tema-tema serupa. Kami berharap ISBI Aceh dapat membuka ruang kolaborasi lebih luas agar riset-riset seperti ini dapat dikembangkan bersama,” ujar Dr. Razi.
Sementara itu, Dr. Teguh dari Universitas Negeri Malang menilai kajian yang dipresentasikan memiliki potensi besar dalam membuka cakrawala baru bagi dunia pendidikan dan penelitian budaya di Indonesia.
“Jika data-data ini terus diperkuat dan dikembangkan secara akademik, bukan tidak mungkin akan lahir perspektif baru dalam dunia pendidikan, khususnya terkait sejarah budaya dan seni Islam di Asia Tenggara,” katanya.
Forum internasional ini telah menjadi ruang penting bagi pertukaran pengetahuan, konsolidasi kebudayaan, serta penguatan jejaring akademik lintas negara. Tidak hanya mempertemukan kampus dan peneliti, tetapi juga memperlihatkan bagaimana seni dan budaya mampu menjadi bahasa diplomasi yang menyatukan banyak bangsa.
Bagi ISBI Aceh, keikutsertaan aktif dalam seminar internasional itu menjadi bukti bahwa kerja sama luar negeri tidak berhenti pada seremoni penandatanganan dokumen semata. Implementasi langsung melalui aktivitas akademik menjadi langkah konkret yang ingin terus diperkuat.
Ichsan menyebut kegiatan tersebut sebagai bentuk nyata pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi pasca penandatanganan MoU antara ISBI Aceh dan PSU Thailand.
“Ini adalah implementasi nyata. Kami tidak ingin kerja sama hanya berhenti di atas kertas. Seminar internasional dan materi ini menjadi bukti bahwa dosen ISBI Aceh hadir membawa pengetahuan seni dan budaya ke ruang global,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa keterlibatan aktif dosen dalam forum internasional menjadi bagian penting dalam memperkuat posisi ISBI Aceh sebagai kampus seni dan budaya yang terus berkembang secara akademik.
“Sebagai dosen Prodi Kriya Seni, saya melihat ini sebagai langkah penting bahwa kita benar-benar bergerak dan bekerja nyata membawa kajian budaya Aceh ke tingkat internasional,” tambahnya.
Implementasi kerja sama hari ini, lanjut Ichsan, tidak terlepas dari arahan dan dorongan kuat Rektor ISBI Aceh, Prof. Dr. Wildan, yang terus mendorong sivitas akademika untuk aktif membangun jejaring akademik global.
Prof. Dr. Wildan menyampaikan harapannya agar seluruh poin kerja sama antara ISBI Aceh dan PSU Thailand dapat diimplementasikan secara berkala, berkelanjutan dan memberi dampak nyata bagi pengembangan pendidikan seni dan budaya.
“Kita berharap semua yang telah disepakati dalam MoU dapat diimplementasikan dengan baik. Kerja sama harus melahirkan aktivitas nyata, produktif, dan memberi manfaat bagi pengembangan akademik kedua institusi,” tutupnya.




















