KABARDAILY.COM – Lumpur masih meninggalkan jejak di sudut-sudut ruang belajar PAUD Insan Madani, Gampong Kapa, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen. Dinding kelas yang dulu penuh coretan krayon kini kotor oleh bekas lumpur, tak elok lagi dipandang. Namun di balik sisa banjir itu, ada sesuatu yang tak ikut hanyut: harapan.
PAUD Insan Madani bukan sekadar bangunan pendidikan. Ia lahir dari kegelisahan dan cinta para tokoh masyarakat serta pemerintah gampong terhadap masa depan anak-anak. Tahun 2017, lembaga ini memulai langkah pertamanya dengan menumpang di kantor gampong. Tanpa gedung sendiri, tanpa fasilitas memadai, hanya berbekal keyakinan bahwa pendidikan anak usia dini adalah pondasi kehidupan.
“PAUD Insan Madani lahir dari kegelisahan kami sebagai orang tua dan pendidik. Kami ingin anak-anak Gampong Kapa punya tempat belajar yang dekat, aman, dan penuh kasih,” kenang Elya Darna, S.Pd, Kepala PAUD Insan Madani, yang sejak awal berdiri setia mengabdi di lembaga ini.
Upaya demi upaya dilakukan. Usulan ke pemerintah daerah, gotong royong, hingga akhirnya pada Musrenbang Desa 2018 diputuskan Dana Desa diprioritaskan untuk pembangunan gedung PAUD. Proses panjang itu berbuah manis ketika pada Tahun Anggaran 2019, gedung PAUD Insan Madani resmi digunakan.
Sejak itu, operasional PAUD berjalan dengan segala keterbatasan. Setiap tahun, pemerintah gampong mengalokasikan sekitar dua puluh juta rupiah untuk honor lima tenaga pendidik dan kebutuhan alat tulis.
Lima tenaga pendidik yang selama ini setia mendampingi anak-anak PAUD Insan Madani adalah Elya Darna, S.Pd, Syarifah Maryani, S.Pd, Khairunnisa, S.Pd, Tati Fitriana, S.Pd, dan Suryani, S.IAN. Dengan honor yang sangat terbatas, mereka tetap hadir setiap hari, mengajar, merawat, dan memastikan anak-anak belajar dalam suasana aman dan penuh kasih.
Honor yang diterima para guru bahkan hanya sekitar dua ratus ribu rupiah per bulan—jumlah yang jauh dari kata layak. Namun Elya tak pernah mempersoalkan hal itu.
“Kami sangat memahami kondisi pemerintah gampong. Dana Desa harus dibagi untuk banyak kebutuhan lain: infrastruktur, bantuan sosial, dan pelayanan masyarakat lainnya. Bagi kami, perhatian dan keberpihakan yang sudah ada itu sudah sangat berarti,” ujar Elya, saat berbincang dengan penulis Selasa pekan lalu (6/1/2026).
Pemahaman itu tumbuh dari kesadaran bahwa membangun gampong adalah kerja bersama, bukan soal siapa mendapat lebih banyak, melainkan bagaimana semua saling menguatkan.
Meski dengan keterbatasan, semangat para pendidik tak pernah surut. Setiap tahun, sekitar 20 hingga 26 anak datang belajar, bukan hanya dari Gampong Kapa, tetapi juga dari gampong sekitar seperti Gampong Raya Dagang dan Gampong Raya Tamboe.
Banjir besar yang melanda kawasan ini bulan November tahun lalu kembali menguji ketangguhan mereka. Gedung PAUD memang selamat, tetapi seluruh isi di dalamnya rusak dan tak bisa lagi digunakan.
“Banjir memang merendam sekolah kami. Tapi yang tidak pernah tenggelam adalah semangat kami,” tutur Elya dengan mata yang berkaca-kaca.
“Kami para guru memilih menjadi relawan, membersihkan lumpur, menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan. PAUD ini bukan sekadar gedung, tapi harapan anak-anak.”
Upaya pembersihan pasca banjir tidak dilakukan para guru sendiri. Sejumlah pihak turut bergotong royong, mulai dari mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Almuslim, Forum Anak Seuneubok Rawa yang dipimpin Nurmalis, mahasiswa Institut Teknologi Surabaya (ITS), hingga pihak-pihak lainnya.
Pemerintah gampong juga memfasilitasi alat berat jenis beko untuk mempercepat pembersihan material lumpur di sekitar lingkungan sekolah.
Keuchik Gampong Kapa, Efendi, mengatakan pembersihan PAUD menjadi prioritas karena menyangkut masa depan anak-anak gampong.
“Sekolah ini harus cepat dibersihkan agar anak-anak bisa kembali belajar. Pemerintah gampong berupaya semaksimal mungkin, termasuk menyediakan alat berat, karena pendidikan anak usia dini adalah fondasi pembangunan gampong ke depan,” ujar Efendi via telepon seluler, seraya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu.
Di tengah kondisi tersebut, bantuan sepatu dan meja belajar mulai berdatangan dari beberapa relasi, salah satunya Yayasan Jan Vink Stichting, yang berasal dari donasi masyarakat di Belanda. Bantuan juga datang dari PERBASI Aceh melalui ketuanya, dr. Purnama Setia Budi, Sp.OG.
Meski demikian, untuk kembali pada “kehidupan normal”, PAUD Insan Madani masih membutuhkan banyak dukungan.
Perjalanan PAUD ini juga disaksikan sejak awal oleh penulis, yang kala itu menjabat sebagai Tenaga Ahli Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (TA-P3MD) Kabupaten Bireuen bidang Pelayanan Dasar.
Sejak awal pendiriannya, penulis melihat PAUD Insan Madani sebagai contoh nyata bagaimana Dana Desa dan semangat masyarakat bisa berpadu untuk pelayanan dasar, khususnya pendidikan anak usia dini.
Penulis menilai para guru di sini bekerja bukan karena honor, melainkan karena panggilan nurani. Pasca banjir, semangat itu justru semakin terlihat. Mereka membersihkan sekolah seperti membersihkan rumah sendiri.
Kini, dari lantai yang pernah tertutup lumpur, harapan itu perlahan ingin ditegakkan kembali. PAUD Insan Madani tetap berdiri, walaupun rapuh secara fasilitas, tetapi kokoh oleh ketulusan.
Karena dari tempat sederhana inilah, masa depan anak-anak gampong sedang dijaga dan diperjuangkan.
Mukhlis Aminullah, SE, MM
Aktivis literasi / Kontributor kabardaily.com




















