Di Bawah Reruntuhan Gaza

  • Penulis : Aisyah, Siswa X-IPAS SMAN 9 KOTA BANDA ACEH

KABARDAILY.COM, ESSAY-  Dahulu, warga Palestina hidup dengan tenang, damai, walaupun mereka berbeda agama, tetapi mereka hidup berdampingan. Namun kedamaian tersebut sirna begitu saja, karena runtuhnya kekuasaan saat perang dunia pertama, wilayah Palestina beralih di bawah kekuasaan Inggris, pada saat itu warga Israel mulai menduduki wilayah Palestina.

Bermula pada tahun 1917 Inggris melakukan perjanjian dengan kelompok Zionis Israel dengan berjanji akan mendirikan negara Yahudi di Palestina, pada tahun 1947 puncak kedamaian Palestina mulai berubah menjadi kesengsaraan, terjadinya pembakaran dan penggusuran pemukiman warga Palestina di tanah mereka, 530 kampung, 15.000 warga Palestina terbunuh, dan 750.000 warga palestina terusir dari tanah mereka, hal ini terjadi hanya dalam kurun waktu 2 tahun.

Di waktu ini Inggris membagi wilayah Palestina menjadi dua bagian, dan satu wilayah khusus, keputusan yang sangat merugikan bagi warga Palestina dan berdampak hingga sekarang.

Zionis Israel sudah terlalu banyak  membunuh anak-anak Palestina, sehingga berdampak kepada pendidikan diberhentikan. Mereka kehilangan sahabatnya, mereka kehilangan impiannya, darah terus mengalir di tubuh mereka, air mata terus mengalir di wajah mereka, suàra bom terus terdengar di telinga mereka, mereka tertimpa reruntuhan bangunan, atau orang tua dan saudara mereka yang tertimpa reruntuhan, pembunuhan terjadi setiap saat, banyak anak yang kehilangan orang tuanya, banyak orang tua yang kehilangan anaknya, banyak dari mereka kehilangan saudaranya. Begitu kejam Zionis Israel.

Berikut gambaran kisah anak Palestina bernama Aisyah: Aisyah berusia 9 tahun, ia anak ke 3 dari 4 bersaudara, ia sangat cantik dengan senyuman manisnya. Ketika jam 10 malam, Aisyah terbangun dari tidurnya karena terdengar suara adiknya yang sedang menangis, lalu ia melihat di jendela kecil itu, ibunya sudah menenangkan adiknya, dalam hati kecilnya, Aisyah berkata “Hmm punya adik itu, dia yang menangis, aku yang terbangun”.

Ketika Aisyah ingin balik kekamarnya, tiba tiba ledakan yang sangat dahsyat membuatnya terpental, saat lampu mulai terpadam gelap dan suasana hening di rumahnya, ia mulai ketakutan, walau badannya tertindih reruntuhan bangunan, ia menangis sambil merangkak mencari adiknya.

Di kepala yang penuh darah, ia berkata “Ibu, ibu dimana?”, dengan mata yang perih ia menangis, lalu Aisyah sadar ia buta.

Tak berselang lama, Aisyah menemukan bagian tubuh adiknya, ia menangis sambil meraba sekitarnya, lalu menemukan tas sekolahnya, ia menyimpan bagian tubuh adiknya kedalam tas sambil terus menangis.

Lagi-lagi Aisyah mendengar suara ledakan yang begitu dahsyat, ia takut setakut takutnya. Ledakan itu mengenai rumahnya yang sudah roboh, dan menimpanya lagi. Di bawah reruntuhan rumahnya ia pasrah sambil memeluk erat tas sekolahnya. Pagi datang dan warga menangis menghampirinya.

Begitu sedih keadaan warga Palestina, setiap malam mereka tidur dalam keadaan dingin dan lapar, serangan terus terjadi di Gaza, banyak orang yang syahid di jalan Allah. mereka berjuang demi tanah air, Semua komunikasi terputus di Gaza, tetapi tidak ada yang terputus dari Allah SWT.

Semoga kedamaian menyertai Palestina, semoga senyuman merekah di wajah mereka. Senyum anak anak Gaza menyadarkan kita, bahwa tidak perlu takut kehilangan apapun kecuali Allah. Keinginan anak anak Gaza menyadarkan kita, bahwa tidak ada kematian yang di inginkan kecuali mati dalam keadaan syahid.

“Palestina bukan hanya soal dunia, tetapi soal akhirat kita. Nasib kita di yaumul mahsyar nanti tergantung dengan seberapa baik perhatian kita terhadap Palestina.

Jika hari ini kita mengabaikan Palestina, maka kita akan menjadi manusia yang terabai di yaumul mahsyar. Jika hari ini perhatian kita kepada Palestina, maka kita menjadi orang yang dinaungi di yaumul mahsyar dan di perhatikan oleh Allah.”( Ustadz Hanan Attaki ).

*Penulis adalah Siswi kelas X-IPAS 2 SMAN 9 Kota Banda Aceh, peserta Pelatihan Menulis Essay dan Artikel Ilmiah.