KABARDAILY.COM | Dunia sastra kembali mendapatkan energi baru dari maestro seni sastra Gayo, LK. Ara. Pada Kamis, 24 Juli 2025 pukul 14.15 WIB, bertempat di Aula PDS H.B. Jassin, Gedung Ali Sadikin Lt. 04, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, akan digelar peluncuran dan diskusi antologi puisi ke-15 karya LK. Ara berjudul Didong dan Tari Guel dari Gayo, Aceh.
Acara yang mengangkat tema “LK. Ara Maestro Seni Sastra Gayo – Suara dari Anak Gunung” ini akan diisi oleh sejumlah tokoh ternama di dunia sastra dan kebudayaan Indonesia.
Direncanakan akan hadir sebagai narasumber Prof. Wildan (Rektor ISBI Aceh) dan Miko Pegayon (praktisi Didong Jakarta). Diskusi akan dipandu oleh jurnalis dan penyair Fikar W. Eda. Kata sambutan akan disampaikan oleh Prof. Rahmat Salam, Ketua Pusat Kajian Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Peluncuran antologi ini juga akan dimeriahkan oleh penampilan para penyair dan deklamator kawakan seperti Jose Rizal Manua, Octavianus Masheka, Imam Ma’arif, serta MC Swary Utami Dewi yang akan memandu jalannya acara.
Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama antara Yayasan Seni dan Sastra Indonesia (YSSI), Kompi (Komunitas Penyair Indonesia), DISPUSIP DKI Jakarta, dan PDS H.B. Jassin.
Profil Singkat LK. Ara
LK. Ara, lahir dengan nama lengkap Lesik Kurnia Ara pada tahun 1937 di Takengon, Aceh Tengah. Ia dikenal luas sebagai penyair, budayawan, dan pejuang literasi dari dataran tinggi Gayo. Puisi-puisinya kaya akan nilai-nilai budaya lokal dan spiritualitas yang mendalam, serta menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas dalam sastra Indonesia.
Sebagai tokoh sastra Indonesia yang produktif, LK. Ara telah menulis dan menerbitkan puluhan buku puisi dan esai, serta aktif mempromosikan budaya Gayo melalui berbagai forum nasional dan internasional. Ia juga dikenal sebagai pengumpul dan pelestari syair-syair tradisional Gayo, seperti Didong dan Guel, yang menjadi bagian penting dalam karyanya.
Dengan konsistensinya selama lebih dari enam dekade dalam dunia sastra dan kebudayaan, LK. Ara pantas menyandang predikat sebagai maestro seni sastra Gayo—suara yang mengalun dari anak gunung untuk Indonesia dan dunia.
Kutipan Puisi LK. Ara:
“Di pucuk gunung kami bernyanyi,
Menggaungkan cerita dalam nadhi
Didong bukan sekadar seni
Tapi doa yang menari di bumi Gayo ini.”
— LK. Ara, dari antologi Didong dan Tari Guel dari Gayo, Aceh. (MA)




















