Telilti Seni Meusifeut, Dosen ISBI Aceh Raih Gelar Doktor

KABARDAILY.COM – Dosen Institut Seni Budaya Indonesia Aceh, Zulfahmi, resmi menyandang gelar doktor setelah menjalani sidang promosi di Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh pada senin, 13 April 2026. Ia tercatat sebagai doktor ke-355 yang diluluskan kampus tersebut.

Yang menarik, gelar akademik tertinggi itu diraih melalui penelitian yang mengangkat seni tradisional Aceh, yakni meusifeut sebuah bentuk pertunjukan rakyat yang selama ini lebih dikenal sebagai hiburan, namun ternyata menyimpan nilai-nilai mendalam.

Di hadapan dewan penguji, Zulfahmi memaparkan bahwa syair-syair dalam seni meusifeut tidak sekadar menghibur, tetapi juga sarat pesan tauhid, akhlak, hingga nilai-nilai sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Penyampaiannya yang santai dan komunikatif membuat pesan tersebut lebih mudah diterima berbagai kalangan.

“Seni meusifeut itu bukan hanya tontonan, tapi juga tuntunan. Nilai-nilai agama dan moral disampaikan dengan cara yang ringan, sehingga lebih membumi,” ujar Zulfahmi dalam pemaparannya.

Penelitian ini sekaligus menegaskan bahwa seni tradisi dapat berperan sebagai media pendidikan nonformal berbasis kearifan lokal. Pendekatan rekreatif yang ditawarkan dinilai mampu menjembatani penyampaian pesan edukatif tanpa kesan kaku sebagaimana metode formal.

Capaian ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi sivitas akademika ISBI Aceh. Di tengah minimnya kajian seni tradisional hingga level doktoral, disertasi Zulfahmi hadir sebagai angin segar dalam pengembangan keilmuan berbasis budaya lokal.

Rektor ISBI Aceh Prof. Dr. Wildan, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Ia menilai keberhasilan Zulfahmi bukan hanya prestasi pribadi, tetapi juga representasi dari komitmen kampus dalam mengangkat seni dan budaya Aceh ke ranah akademik yang lebih tinggi.

“Kami sangat bangga. Ini membuktikan bahwa seni tradisi Aceh memiliki nilai ilmiah yang kuat dan layak menjadi objek kajian serius. Ke depan, kami mendorong lebih banyak dosen untuk melakukan riset yang berakar pada kearifan lokal,” ujarnya.

Zulfahmi sendiri berharap hasil penelitiannya tidak berhenti sebagai karya akademik semata. Ia ingin temuan tersebut dapat menjadi inspirasi dalam upaya pelestarian sekaligus pemanfaatan seni tradisi sebagai media pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman.

“Harapannya, seni tradisional tidak hanya dijaga, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran yang kontekstual bagi masyarakat,” pungkasnya.