Sejarah Perkembangan Pemikiran Islam Nusantara

Oleh : Raudhatul Jannah, S.Pd.I

kabardaily.com – Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M atau 10 H, selanjutnya kepemimpinan Islam dipegang oleh para khalifah. Dibawah kepemimpinan para khalifah, agama Islam mulai disebarkan lebih luas lagi ke berbagai penjuru. Sampai abad ke-8 saja, pengaruh Islam telah menyebar ke seluruh Timur Tengah, Afrika Utara, dan Spanyol.

Kemudian pada masa dinasti Ummayah pengaruh Islam mulai berkembang hingga Nusantara. Harus kita tahu Islam adalah salah satu agama besar di dunia dengan pengikut terbanyak. Perkembangan Islam di penjuru dunia berkembang pesat sejak adanya Islam pertama kali walaupun awal mausknya sempat mengalami jatuh bangun dalam perkembanganya.

Islam di Indonesia baik secara historis maupun sosiologis sangat kompleks, terdapat banyak masalah, misalnya tentang sejarah dan perkembangan awal Islam. Harus di akui bahwa penulisan sejarah Indonesia di awali oleh golongan orientalis yang sering ada usaha untuk meminimalisasi peran Islam, disamping usaha para sarjana muslim yang ingin mengemukakan fakta sejarah yang lebih jujur.

Suatu kenyataan bahwa kedatangan Islam ke indonesia dilakukan secara damai. Berbeda dengan penyebaran Islam di timur tengah yang dalam beberapa kasus disertai dengan pendudukan oleh wilayah militer.

Islam dalam batas tertentu disebarkan oleh para pedagang, kemudian dilanjutkan oleh para Da’i dan para pengenbara sufi. Orang yang terlibat dalam dakwah pertama itu tidak bertendensi apapun selain bertanggung jawab menunaikan kewajiban tanpa pamrih, sehingga nama mereka berlalu begitu saja.

Karena wilayah Indonesia sangat luas dan perbedaan kondisi dan situasi maka wajar kalau terjadi perbedaan pendapat tentang kapan, dari mana, dan dimana pertama kali Islam datang ke Indonesia.

Sejarahpun mencatat, kepulauan-kepulauan di Nusantara merupakan daerah-daerah yang terkenal sebagai penghasil rempah-rempah terbesar di dunia. Hal tersebut membuat banyak para pedagang dari berbagai penjuru dunia datang ke Nusantara untuk membeli rempah-rempah yang akan dijual kembali ke daerah asal mereka.

Termasuk para pedagang dari Arab, Persia, dan Gujarat. Selain berdagang, para pedagang muslim yang dating ke Nusantara juga berdakwah untuk mengenalkan agama Islam kepada penduduk lokal.

Islam merupakan salah satu agama yang masuk dan berkembang di Indonesia. Hal ini tentu bukanlah sesuatu yang asing, Agama Islam masuk ke Indonesia dimulai dari daerah pesisir pantai,kemudian diteruskan ke daerah pedalaman-pedalaman oleh para ulama atau penyebar ajaran Islam.

Sebut saja teori Gujarat yang dipopulerkan oleh Snouk Hurgronje,seorang orientalis terkemuka Belanda yang melihat para pedagang kota pelabuhan Dakka di India Selatan sebagai pembawa Islam ke wilayah nusantara.

Teori Snock Hurgronje ini lebih lanjut dikembangkan oleh Morrison pada 1951. Dengan menunjuk tempat yang pasti di India, ia menyatakan dari sanalah Islam datang ke nusantara. Ia menunjuk pantai Koromandel sebagai pelabuhan tempat bertolaknya para pedagang muslim dalam pelayaran mereka menuju nusantara.

Beda lagi dengan Hamka yang mengkritik teori Gujarat bahwa Islam masuk ke nusantara berasal dari Makkah, disebut dengan teori Makkah. Hamka berpandangan bahwa peranan bangsa arab sebagai pembawa agama Islam ke Indonesia berasal dari Makkah sebagai pusat pengkajian keislaman pada masa itu, atau juga dari Mesir. Artinya, Gujarat hanyalah sebagai tempat singgah semata ulama penyebar Islam di nusantara.

Lain lagi dengan teori Benggali yang dikembangkan Fatimi menyatakan bahwa Islam datang dari Benggali (Bangladesh). Dia mengutip keterangan Tome Pires yang mengungkapkan bahwa kebanyakan orang terkemuka di Pasai adalah orang Benggali atau keturunan mereka.

Pendapat lainnya, berdasarkan teori Persia yang dibangun teorinya oleh Hoesein Djayadiningrat. Pandangannya berdasarkan tradisi Islam di nusantara kental dengan tradisi Persia. Seperti peringatan 10 Muharram atau Asyura, bubur Syura dan lain sebagainya.

Pendapat selanjutnya, teori China yang dipopulerkan Sayyid Naquib Alatas, bahwa berpandangan muslim Canton China bermigrasi ke Asia Tenggara sekitar tahun 867 M, sehingga hijrahnya muslim Canton banyak yang singgah di Palembang, Kedah, Campa, Brunai, dan pesisir timur tanah melayu (Patani, Kelantan, Terengganu dan Pahang) serta Jawa Timur.

Masuknya Islam Di Nusantara

Sejak zaman prasejarah, penduduk kepulauan Indonesia dikenal sebagai pelayar-pelayar yang sanggup mengarungi lautan lepas. Sejak awal masehi sudah ada rute-rute pelayaran dan perdagangan antara kepulauan Indonesia dengan berbagai daerah di daratan Asia Tenggara.

Wilayah Barat Nusantara dan sekitar Malaka sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi titik perhatian, terutama karena hasil bumi yang dijual disana menarik bagi para pedagang, dan menjadi daerah lintasan penting antara Cina dan India.

Sementara itu, pala dan cengkeh yang berasal dari Maluku, dipasarkan di Jawa dan Sumatera, dan kemudian dijual kepada para pedagang asing. Pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatra dan Jawa antara abad ke-1 dan ke-7 M sering disinggahi para pedagang asing seperti Lamuri (Aceh), Barus, dan Palembang di Sumatra (Sunda Kelapa dan Gresik di Jawa).

Pedagang-pedagang Muslim asal Arab, Persia dan India juga ada yang sampai kepulauan Indonesia untuk berdagang sejak abad ke-7 M (abad I H), ketika Islam pertama kali berkembang di Timur Tengah. Malaka, jauh sebelum di taklukkan Portugis (1511) merupakan pusat utama lalu-lintas perdagangan dan pelayaran.

Melalui Malaka, hasil hutan dan rempah-rempah dari seluruh pelosok Nusantara dibawa ke Cina dan India, terutama Gujarat, yang melakukan hubungan dagang langsung dengan Malaka pada waktu itu. Dengan demikian, Malaka menjadi mata rantai pelayaran yang penting. Lebih ke Barat lagi dari Gujarat, perjalanan laut melintasi Laut Arab. Dari sana perjalanan bercabang dua.

Jalan pertama di sebelah utara menuju Teluk Oman, melalui selat Ormuz, ke teluk Persia. Jalan kedua melalui Teluk Aden dan laut Merah, dan dari kota Suez jalan perdagangan harus melalui daratan ke Kairo dan Iskandariah.

Melalui jalan pelayaran tersebut, kapal-kapal Arab, Persia, dan India mondar-mandir dari Barat ke Timur dan terus ke negeri Cina dengan menggunakan angin musim untuk pelayaran pulang perginya.

Ada indikasi bahwa kapal-kapal Cina pun mengikuti jalan- jalan tersebut sesudah abad ke-9 M, tetapi kapal tersebut hanya sampai di pantai barat India, karena barang yang diperlukannya sudah dapat dibeli disini. Dari berita Cina dapat diketahui bahwa di masa dinasti Tang (abad ke 9-10) orang-orang Ta-Shih sudah ada di Kanton (Kanfu) dan Sumatera.

Ta-Shih adalah sebutan untuk orang-orang Arab dan Persia, yang ketika itu jelas sudah menjadi Muslim. Perkembangan pelayaran dan perdagangan yang bersifat internasional antara negeri-negeri di Asia bagian Barat dan Timur mungkin disebabkan oleh kegiatan kerajaan Islam di bawah Bani Umayyah di bagian barat dan kerajaan Sriwijaya di Asia Tenggara, yang pada zaman Sriwijaya pedagang-pedagang Nusantara mengunjungi pelabuhan-pelabuhan Cina dan pantai Timur Afrika.

Pada zaman-zaman berikutnya, penduduk kepulauan ini masuk Islam, bermula dari penduduk pribumi di koloni-koloni pedagang Muslim itu. Menjelang abad ke-13 M, masyarakat muslim sudah ada di Samudera Pasai, Perlak, dan Palembang di Sumatera. Di Jawa, makam Fatimah binti Maimun di Leran (Gresik) yang berangka tahun 475 H (1082 M), dan makam-makam Islam di Tralaya yang berasal dari abad ke-13 M merupakan bukti berkembangnya komunitas Islam, termasuk di pusat kekuasaan Hindu-Jawa ketika itu, Majapahit. []