KABARDAILY.COM,BIREUEN – Di tengah derasnya arus Sungai Peusangan, Mustafa A. Glanggang menumpangi perahu rakit (getek) untuk menyalurkan bantuan kepada warga terdampak banjir di Dusun Leubok Iboh dan Teupin Mane, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, Selasa (9/12/2025).
Untuk menembus kawasan tersebut, hanya bisa ditempuh menggunakan getek—yakni rakit berbahan drum plastik—atau kereta gantung rakitan warga yang digerakkan dengan kawat baja. Jembatan di ujung utara Gampong Beunyot yang menghubungkan Bireuen–Takengon tidak dapat dilalui sejak rusak akibat banjir.
Dengan menumpangi getek yang membawa lebih dari 10 orang, Mustafa bersama tim relawan berhasil mengantarkan sembako hasil donasi ke Leubok Iboh dan Teupin Mane.
“Kami sangat senang dan berterima kasih menerima bantuan dari Bapak Mustafa,” ujar A. Jalil, Keuchik Teupin Mane.
Posko bantuan di Teupin Mane dipusatkan di komplek meunasah setempat. Setiap hari sekitar 100 warga dari Bener Meriah dan Aceh Tengah transit di lokasi tersebut sebelum melanjutkan perjalanan ke Bireuen atau menunggu keluarga dari arah dataran rendah.
Tokoh masyarakat Teupin Mane, Muhammad Yusuf Skai, mengatakan bahwa pada dua hari pertama pasca putusnya jembatan, jumlah pengungsi mencapai 500 orang. Mereka menginap dan makan di meunasah. Pada malam hari, aktivitas getek maupun kereta gantung dihentikan sehingga warga yang tertahan harus bermalam di posko.
Mustafa Glanggang, yang juga mantan wartawan Serambi Indonesia, kepada media ini menyebutkan hasil pantauannya di lapangan, pemerintah telah mengerahkan tiga alat berat untuk membangun jembatan darurat.
“Progres pekerjaan saya perkirakan mencapai sekitar 80 persen,” katanya.
Sementara itu, salah seorang warga korban banjir, Nurma, salah seorang pengungsi di Teupin Mane mengaku masih trauma dengan banjir akhir November lalu. Ia mengaku banjir dan longsor kali ini datang tiba-tiba, di luar perkiraan. (MA)




















