Hidupkan Literasi Kampus, Sivitas Akademika ISBI Aceh Antusias Ikuti Kelas FAMe

KABARDAILY.COM – Forum Aceh Menulis (FAMe) Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh kembali menggelar kelas menulis berkala, Kamis (18/6/2026), di kampus setempat. Kegiatan yang diikuti mahasiswa, tenaga kependidikan, dan dosen tersebut mengangkat tema “Pentingnya Koherensi, Korelasi, Kohesi, dan Transisi dalam Penulisan Esai”.

Kelas literasi ini dibuka oleh Rektor ISBI Aceh, Prof Dr Wildan MPd  yang memberikan motivasi kepada peserta mengenai pentingnya budaya membaca dan menulis dalam lingkungan akademik. Menurutnya, kemampuan menulis merupakan keterampilan yang dapat diasah melalui kebiasaan membaca dan latihan yang berkelanjutan.

“Menulis itu sebenarnya tidak susah, asalkan kita sudah mempunyai bahan, yaitu dengan membaca. Selanjutnya kita harus membuat kerangka tulisan, setelah itu tinggal dikembangkan saja,” ujar Rektor di hadapan peserta.

Ia juga menegaskan bahwa kampus harus menjadi ruang yang subur bagi tumbuhnya tradisi literasi, sehingga mahasiswa tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menghasilkan karya-karya tulis yang bernilai dan bermanfaat bagi masyarakat.

Sesi utama dipandu oleh moderator M. Hamzah dari FAMe ISBI Aceh. Narasumber yang dihadirkan adalah tokoh pers Aceh, penulis senior, sekaligus Pembina FAMe Aceh, Yarmen Dinamika.

Dalam pemaparannya, Yarmen menjelaskan berbagai aspek penting yang harus diperhatikan untuk menghasilkan esai yang kuat, runtut, dan nyaman dibaca.

“Sebuah karya tulis atau esai yang bernyawa dan enak dibaca wajib menerapkan empat pilar utama, yakni koherensi, korelasi, kohesi, dan transisi dalam setiap jenjang penulisan,” kata Yarmen.

Menurutnya, koherensi berkaitan dengan keterpaduan gagasan sehingga alur pemikiran penulis dapat diikuti pembaca secara logis. Sementara kohesi menyangkut keterhubungan unsur-unsur bahasa dalam kalimat maupun paragraf melalui penggunaan kata sambung, kata ganti, dan perangkat kebahasaan lainnya.

Lebih lanjut, Yarmen menjelaskan bahwa korelasi berfungsi memastikan hubungan yang jelas antara satu ide dengan ide lainnya, sedangkan transisi menjadi jembatan yang mengalirkan gagasan dari satu bagian tulisan ke bagian berikutnya secara mulus.

“Banyak tulisan memiliki ide yang baik, tetapi kehilangan daya tarik karena hubungan antarparagraf tidak dibangun dengan baik. Di sinilah pentingnya memahami korelasi dan transisi agar tulisan terasa utuh,” ujarnya.

Suasana kelas berlangsung interaktif. Para peserta aktif mengajukan pertanyaan mengenai teknik menyusun paragraf, menjaga konsistensi argumen, hingga strategi menghindari lompatan ide dalam penulisan esai.

Diskusi yang hangat menunjukkan tingginya minat sivitas akademika ISBI Aceh terhadap pengembangan kemampuan literasi.
Salah seorang peserta dari Program Studi Seni Tari, Puja Tina, mengaku memperoleh banyak wawasan baru melalui kegiatan tersebut.
“Kelas seperti ini sangat menarik karena membuka cakrawala dalam penulisan. Saya berharap kegiatan seperti ini sering dilaksanakan di ISBI Aceh,” ungkapnya.

Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda rutin FAMe ISBI Aceh dalam membangun budaya menulis di lingkungan kampus. Melalui kelas-kelas literasi yang berkelanjutan, FAMe berharap lahir semakin banyak penulis muda yang mampu menghasilkan karya-karya berkualitas serta berkontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, seni, dan kebudayaan Aceh.