Gustira Monita Angkat Ingatan Budaya Pascakonflik Aceh dalam ICAIOS 2025

KABARDAILY.COM – Di tengah forum ilmiah internasional yang sarat dengan gagasan segar tentang masa depan Asia Selatan dan Samudra Hindia, suara dari dataran tinggi Gayo turut mengemuka. Gustira Monita, putri Gayo asal Bener Meriah yang kini menempuh studi doktoral Filsafat Seni di Rusia, mempresentasikan penelitian yang menggugah pada The 10th International Conference on Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS), 15–16 Agustus 2025.

Penelitiannya, berjudul “Gayo After the Guns Fell Silent: Cultural Memory, Displacement, and Indigenous Recovery in the Acehnese Highlands”, menelisik bagaimana masyarakat Gayo membangun kembali identitas pascakonflik melalui tradisi lisan, pertunjukan Didong, hingga ritual adat. Ia menegaskan bahwa seni dan kebudayaan bukan sekadar hiburan, melainkan medium penyembuhan kolektif, rekonsiliasi sosial, dan peneguhan memori sejarah.

“Gayo pascakonflik tidak hanya berjuang secara ekonomi, tetapi juga secara kultural. Ingatan, nyanyian, dan adat menjadi penopang identitas yang terancam rapuh,” ujar Gustira dalam presentasinya, yang disambut hangat para akademisi dan peneliti lintas negara.

Tak berhenti di sana, Gustira turut berkolaborasi dengan Alfi Syahri Lubis, mahasiswa Magister Hukum Universitas Gadjah Mada yang juga berdarah Gayo, serta peneliti muda Muhammad Rifai Yusuf. Bersama, mereka menghadirkan presentasi poster berjudul “Witnessing Through Arts: The Role of Traditional Culture Figures in Reconciliation and Legal Accountability in Gayo, Aceh.”

Karya kolaboratif itu menyoroti sejarah kelam 1965/1966 di Gayo dengan menempatkan sosok seniman Didong, Ibrahim Kadir, sebagai saksi kultural. Poster tersebut menekankan pentingnya perlindungan hukum dan kebijakan afirmatif bagi para pelaku budaya di wilayah pascakonflik. “Seni telah merekam luka dan kebenaran yang tak tercatat dalam dokumen resmi. Karena itu, negara mesti hadir melindungi mereka,” tegas Alfi.

Kolaborasi ini mencerminkan semangat baru generasi muda Gayo yang memadukan disiplin seni, filsafat, dan hukum. Kehadiran Rifai sebagai pengamat riset memperkaya diskusi, menjembatani hasil penelitian dengan kebutuhan dokumentasi akademik yang lebih luas.

Para peserta konferensi menilai kontribusi ketiganya sebagai bentuk keberanian intelektual dalam menyuarakan perspektif lokal di ruang akademik global. “Mereka membawa Gayo ke peta internasional, bukan sekadar sebagai catatan etnografis, tetapi sebagai narasi aktif yang hidup,” komentar seorang peneliti asing usai sesi diskusi.

Di tengah atmosfer akademik yang biasanya kaku, sosok Gustira Monita tampil segar sebagai wajah baru intelektual-seniman Gayo. Ia memperlihatkan bahwa seni dapat berkelindan dengan filsafat dan hukum, menciptakan ruang dialog yang melampaui batas disiplin.

Lebih dari sekadar presentasi, keterlibatan Gustira dan kolaboratornya menjadi simbol kebangkitan Gayo di panggung dunia. Upaya mereka menjaga ingatan, memperjuangkan keadilan, dan merawat budaya menunjukkan bahwa dari tanah tinggi Aceh, lahir generasi yang berani menatap dunia tanpa kehilangan akar.