Oleh : Muklis Puna*
OPINI—
“Lebih Baik Genting daripada Putus”
Peribahasa di atas sangat cocok sebagai gambaran situasi pendidikan saat ini. Sebagaimana diketahui bersama, bahwa wabah covid 19 sudah menyerang seluruh lini kehidupan manyarakat dunia dan Indonesia khususnya. Wabah ini menjalar begitu cepat, sehingga melumpuhkan seluruh sendi kehidupan manusia dalam bernegara dan bersosial ria.
Untuk memutuskan mata rantai pandemi corona yang begitu cepat, pemerintah selaku penanggung jawab utama keselamatan manusia telah menetapkan metode social distancing. Social distancing merupakan salah satu langkah pencegahan dan pengendalian infeksi Covid 19 dengan menganjurkan orang sehat untuk membatasi kunjungan ke tempat ramai dan kontak langsung dengan orang lain.
Kini, istilah social distancing sudah diganti dengan physical distancing oleh pemerintah. Langkah ini dipilih sebagi upaya memutuskan mata rantai covid 19. Untuk mendukung pelaksanaan sosial distancing pemerintakan telah mengeluarkan maklumat agar masyarakat membatasi aktivitas di luar rumah jika tidak berkepentingan dan bersifat urgen. Slogan tinggal di rumah, ibadah di rumah dan belajar di rumah masih akrab terdengar diselua media informasi baik cetak atau elektronik.
Topik yang disorot dalam tulisan ini adalah permasalahn yang dihdapi dunia pendidikan. Keluarnya surat edaran Mnteri Pendikakan tentang penghapusan UN bagi siswa kelas VI, IX dan kelas XII untuk jenjang SD, SMP, SMA / sederjat serta mewajibkan siswa untuk tinggal dan belajar di rumah melalui aplikasi online. Surat edaran ini berlaku sampai 29 Mai 2020. Hal ini masih dalam peninjauan ulang mengingat wabah covid 19 masih belum mencapai puncaknya di Indonesia.
Pertanyaan di judul tulisan ini membuat penulis ingin mengupas lebih lanjut tentang efektifkah belajar online? Sebagai insan pendidikan yang punya kepekaan terhadap perkembangan dunia pendidikan, penulis merasa perihatin terhadap kehidupan belajar online yang dilakukan oleh kaum pembelajar hari ini.
Belajar jarak jauh melalui aplikasi merupakan salah satu program unggulan yang akan diterapakan oleh Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim. Namun yang jadi pertanyaan susulan, apakah perangkat pendidikan yang ada sudah siap untuk menyambut program belajar ala milenial ini? Bagi siswa sih bukan persoalan yang menyulitkan, mengingat mereka lahir dan dibesarkan dalam dunia teknologi dan informatika yang begitu canggih, namun bagi guru?
Penulis mengamati dari beberapa kegiatan belajar berlangsung secara online yang dilakukan oleh guru dan siswa hanya berkutik pada kegiatan pemberian tugas yang dikirimkan melalui email dan aplikasi WathsApp tanpa tatap muka. Diakaui atau tidak tugas semacam ini sudah memberikan kesan negatif pada diri siswa dan orang tua.
Bagi siswa, tugas semacam ini memberikan dampak psikologis yang luar biasa. Artinya, tanpa informasi yang terstuktur siswa diminta menyelesaikan tugas- tugas yang sebelumnya ia tidak memamahinya di berberapa lintas mata pelajaran. Kebiasaan yang penulis amati, guru hanya memberikan arahan Baca halaman ini! Kemudian jawab pertanyaan di bawah, lalu kirimkan via WA atau email ke alamat yang sudah diberikan.” Belum lagi tugas yang bertumpuk, satu tugas beum selesai yang lain menyusul. Siswa dalam posisi karantina dengan beban psikologi dalam menghadapi wabah Covid 19, akan tetapi harus bergumul dengan tugas-tugas yang begitu menantang.
Bagi orang tua, belajar di rumah adalah sesuatu yang istimewa di tengah mewabahnya Covid 19. Mereka lebih leluasa dalam mengontrol anaknya dalam belajar. Dari segi keamanan terhadap penularan Covid 19, siswa memang lebih nyaman berada dan belajar di rumah. Akan tetapi dari segi ekonomi para orang tua akan kewalahan dalam keuangan untuk sarana paket data internet. Sebagian orang tua yang berada hal ini bukan masalah. Bagi keluarga keluarga yang berada pada taraf ekonomi ke bawah ibarat Sudah Jatuh Tertimpa Tangga” artinya di tengah suasana lockdown yang mewajibkan orang tua berada di rumah dan dibatasi semua aktivitas perkenomian, coba bayangkan bagaimana nasib mereka hari ini?
Kita tinggalkan dampak ekonomi masyarakat akibat dari belajar online. Agar tulisan ini lebih terarah pada fokus permasalahan yang sudah diungkap di atas. Belajar online adalah belajar yang tidak memerlukan pertemuan tatap muka di lokasi fisik. Intinya, belajar online, belajar elektronik (E-Learning) adalah alat atau sistem pendidikan berbasis komputer yang memungkinkan peserta didik belajar di mana saja dan kapan saja. Tidak adanya sistem tatap muka dalam proses belajar daring merupakan salah satu kelemahan utama, jika diterapakan pada siswa sekolah dasar, lanjutan, maupun menengah.
Mengubah kebiasaan belajar tatap muka ke sistem online pada jenjang ini adalah bukan hal yang mudah. Pada tingkat universitas hal ini oke-oke saja. Kenapa?
Mereka sudah memasuki sistem pembelajaran andragogilk ( pembelajaran orang dewasa) kebutuhan akan ilmu pengetahuan adalah ciri pokok yang dimiliki. Dengan memberikan modul kuliah, lalu meminta untuk menganalisis hal yang berhubungan dengan materi, itu memang sudah kebutuhan sehari- hari di perkuliahan. Nah! Kalau di tingkat siswa? Penulis gak berani menjamin deh hal itu bisa terjadi. Untuk membukatikan hal ini benar adanya coba perhatikan sistem pembelajaran online yang dilaksanakan oleh Universita Terbuka ( UT).
Menjawab persoalan yang semakin rumit dalam dunia pendidikan tentang pembelajaran online. Penulis mencoba menawarkan solusi sebagai terapi pengobatan kegamangan teknologi yang dihadapi dewasa ini. Salah satu solusi yang cocok digunakan adalah peningkatan sumber daya manusia yang ada dalam dunia pendidikan. Mengulas sumber daya manusia dalam dunia pendidikan adalah berati megulas tentang sumberdaya yang dimiliki guru Indonesia hari ini. Harus diakui bahwa masih banyak guru Indonesia masih banyak yang belum melek teknologi, .tidak perlu mengulik tentang aplikasi yang digunakan dalam pembelajaran online apalagi yang berada di pedalaman. Terkadang menggunakan media telepon gemgam saja masih kalang-kabut (semoga dugaan ini salah). Kalau seandainya ditanyakan aplikasi apa yang mereka kuasai? Hampir sebagai mereka menjawab facebook dan WhatsApp. Masih banyak diantara teman yang belum menjadikan email sebagai media utama dalam mengirimkan data, kaluaupun ada, kadang mereka tidak lagi ingat paswordnya.
Sumber daya guru dalam mengusai teknologi seharusnya pada saat ini tidak perlu lagi menjadi sorotan, mengingat hampir semua guru mengetahui bagaimana perkembangan teknologi dan informasi yang begitu pesat dan cepat, sehingga mereka tidak dilipat oleh sistem pembelajaran yang terjadi saat ini. Rasa ingin tahu terhadap aplikasi yang ada dalam gemgamannya perlu diupdate ke arah pembelajaran E Leaning yang sifatnya tatap muka. Bukannya hanya berkutik pada media facebook yang sifatnya komersial tentang kehidupan pribadi yang menggiring pada sifat nartitism.
Dalam posisi darurat kesehatan seperti ini, guru bukan sosok yang dipersalahkan atau dikambinghitamkan. Seharusnya pemerintah melalui Dinas Pendidikan harus jeli melihat kondisi seperti ini. Jauh sebelum Covid 19 muncul, guru harus sudah disiapakan melalui pelatihan E Learning secara merata. Ada memang LSM atau organisasi profesi yang bergerak di bidang itu , keterbatasan yang mereka miliki seharusnya disupport sedemikian rupa. Apabila terjadi Covid 19 seperti ini pemerintah hanya mengeluarkan surat edaran dan langsung dieksekusi oleh perangkat pendidikan sehingga tidak gamang seperti ini.
Selain faktor SDM guru, sarana dan prasaran untuk berlansungnya pembelajaran online di tengah wabah seperti ini juga menjadi sorotan pemerintah. Belajar itu tidak ada batas waktu, tidak tergantung kondisi. Intinya belajar adalah sebuah kewajiban yang harus dituntut oleh semua manuasia dalam berbagai kondisi. Sarana dan prasarana dalam belajar online adalah adanya jaringan telekomunikasi yang merata pada seluruh lapisan masayarakt. Penulis berpikir untuk jaringan komunikasi, hampir seluruh belahan bumi Indonesia sudah terpasang kabel fiber optic yang menyambungkan antara satu pulau dengan pulau lainnya, bahkan dunia dalam menyampaikan informasi melalui jaringan internet.
Untuk memanfaatkan jaringan internet masyarakat nembutuhkan dana dalam membeli paket data sebagaimana yang sudah diuraikan di awal tulisan ini. Sebaiknya pemerintah dapat menggratiskan dana berupa data dalam giga byte yang dapat digunakan oleh guru dan siswa layaknya penggratisan daya untuk listrik bagi masyarakat kurang mampu. Dalam hal ini Aplikasi Ruang Guru telah menggratiskan data sebanyak 30 Giga Byte (GB) khusus untuk siswa dan guru. Namun tidak semua warga belajar berada diaplikasi tersebut.
Di tengah dana pelatihan guru dan kegiatan kegiatan yang membutuhkan perkumpulan orang tidak boleh dilakukan. Apa salahnya dana tersebut dialihkan untuk penyediaan data gratis bagi siswa dan guru dalam melangsungkan proses pembelajaran secara online. Selanjutnya, hemat penulis masih banyak dana yang tersedot setiap tahun untuk kegiatan pencarian bakat dan minat bagi siswa dan guru yang tahun ini nampaknya tidak dapat dilaksanakan , penulis berpikir hal ini akan memmberi dampak positif terhadap pembelajaran di tengah wabah yang belum ada ujungnya.
Untuk kemudahan pembelajaran secara online ada baiknya para guru sedikit meng- Upgrede dirnya dengan menggunakan aplikasi tatap muka misalnya Zoom, Webex, dan aplikasi lainya yang disediakan pemerintah seperti Rumah Belajar yang sudah dilaunching pemerintah secara resmi. Jika pemberian tugas yang begitu banyak setiap mata pelajaran apakah hal ini dapat berlangsug efektif khususnya dalam hal penilaian dan pengembalian tugas siswa?
Lagi -lagi ini kendala yang harus diperhatikan oleh pelaksana pendidikan. Akhirnya penulis berharap semoga Covid 19 cepat melitasi negeri tercinta ini. Proses pembelajaran bisa berlansung seperti sediakala tanpa harus menjaga jarak dan interaksi antarguru dan siswa bergairah kembali. Benih- benih ilmu yang disemai oleh agen -agen ilmu pengetahuan berlangsung tanpa hambatan dari virus yang mewabah ini.
*Penulis adalah guru SMA N.1 Lhokseumawe, Esais dan Dosen luar Biasa (DLB) pada Prody Bahasa Sastra, Indonesia,dan Daerah pada Universitas Almuslim Bireuen Aceh




















