KABARDAILY.COM,BANDA ACEH — Pusat Riset (PR) STEM Universitas Syiah Kuala (USK) memperkuat langkah strategis untuk membumikan pendidikan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) di Aceh. Upaya tersebut diwujudkan melalui pertemuan PR STEM USK dengan Dinas Pendidikan Aceh yang mendapat sambutan antusias dari Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, S.Pd., MSP.
Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog untuk membahas pengembangan dan perluasan implementasi STEM di sekolah-sekolah Aceh, sekaligus memperkenalkan gagasan USK tentang pengembangan STEM yang tidak hanya berorientasi pada sains dan teknologi, tetapi juga memperkuat karakter Islami dan budaya Aceh.

Rombongan PR STEM USK yang hadir dalam pertemuan tersebut antara lain Ketua PR STEM Prof. Dr. Yuwaldi Awai, Prof. Saminan, Prof. Hizir, Prof. Ismail, dan Dr. Sulastri. Ketua PR STEM USK, Prof. Dr. Yuwaldi Awai, menyampaikan bahwa pada tahap awal terdapat empat program prioritas yang dirancang untuk dilaksanakan bersama Dinas Pendidikan Aceh.
Keempat program tersebut meliputi rekognisi STEM melalui sertifikasi berjenjang, mulai dari tingkat Dasar, Trampil hingga Mahir; penyiapan kemampuan STEM siswa untuk mengikuti kompetisi dan olimpiade; pelatihan STEM bagi guru; serta pemberdayaan dan penguatan operasional laboratorium sekolah. “Empat program ini menjadi langkah awal untuk membumikan STEM secara sistematis di sekolah-sekolah Aceh,” demikian gagasan yang disampaikan PR STEM dalam pertemuan tersebut.
Kadisdik Aceh Tantang Implementasi Segera
Respons Kepala Dinas Pendidikan Aceh terhadap gagasan tersebut berlangsung sangat antusias. Murthalamuddin tidak hanya memberikan dukungan, tetapi juga mengajukan sejumlah pertanyaan kritis dan menantang PR STEM USK untuk memastikan konsep yang dibangun dapat segera diterjemahkan menjadi program nyata di lapangan.
Dalam pembahasan tersebut, Kadisdik Aceh Murthalamuddin mendorong agar gagasan pengembangan STEM segera keluar dari ruang diskusi dan masuk ke ruang kelas. Ia mengarahkan PR STEM USK untuk memulai pilot project di dua sekolah dengan karakteristik berbeda sebagai laboratorium awal penerapan STEM-C di Aceh di SMAN 8 dan SMK 5 di Banda Aceh.
Pemilihan sekolah pilot tidak dilakukan semata-mata berdasarkan status sekolah, tetapi juga mempertimbangkan aksesibilitas, karakteristik keunggulan sekolah, serta kemudahan pemantauan dan evaluasi. Dengan lokasi yang mudah dijangkau, proses pendampingan dapat dilakukan secara lebih intensif sehingga setiap perkembangan selama piloting dapat diamati dan didokumentasikan.
Lebih dari sekadar menguji apakah STEM dapat diterapkan, piloting ini dirancang untuk melihat dampak penerapan STEM-C secara lebih komprehensif—mulai dari perkembangan kompetensi siswa, kreativitas dan kemampuan berpikir kritis, kesiapan serta keterampilan guru, pemanfaatan fasilitas dan laboratorium, hingga tumbuhnya karakter yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islami dan budaya Aceh. Hasil dari dua sekolah pilot tersebut selanjutnya diharapkan menjadi evidence-based model bagi pengembangan dan perluasan STEM-C di sekolah-sekolah Aceh. Dengan cara ini, setiap langkah perluasan tidak hanya bertumpu pada asumsi atau wacana, tetapi pada pengalaman lapangan, data, capaian, dan hasil evaluasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana STEM dapat diterapkan pada konteks sekolah yang berbeda, sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan program yang lebih luas di Aceh. Keseriusan tersebut juga ditunjukkan dengan kehadiran langsung
Kepala Dinas Pendidikan Aceh di sekretariat PR STEM USK pada Jumat pagi untuk melanjutkan pembahasan mengenai implementasi dan perluasan STEM di sekolah-sekolah Aceh.
Libatkan Pakar STEM Internasional
Dalam pertemuan lanjutan di PR STEM USK, Kadisdik Aceh juga dipertemukan dengan pakar STEM dari Malaysia, Prof. Sattar Rasul.
Prof. Sattar berbagi pengalaman mengenai pengembangan dan penyebarluasan STEM di berbagai negara. Prof. Sattar yang kini mengajar di China setelah sebelumnya pensiun dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), memaparkan pengalaman internasionalnya dalam mengembangkan STEM serta berbagai pendekatan implementasinya di sejumlah negara.
Menurut pengalaman yang dipaparkan, setiap negara memiliki fokus dan karakteristik integrasi STEM yang berbeda, sesuai dengan kebutuhan, budaya, dan konteks pendidikannya. STEM, lanjutnya, memiliki posisi penting sebagai salah satu fondasi dalam mendorong lahirnya temuan-temuan kreatif dan inovatif. Dalam konteks Aceh, PR STEM USK menawarkan karakteristik yang lebih khas. Konsep STEM-C yang dikembangkan USK menempatkan unsur Character (C) sebagai penguatan penting dalam pembelajaran STEM. Karakter tersebut kemudian dikontekstualisasikan dengan nilai-nilai religius Islami dan budaya Aceh.
STEM-C Aceh: Sains, Teknologi, dan Karakter
Gagasan tersebut menjadi salah satu kekuatan yang ingin dikembangkan PR STEM USK dalam memperluas implementasi STEM di Aceh. STEM tidak dipandang hanya sebagai pendekatan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam sains, teknologi, teknik, dan matematika, tetapi juga sebagai wahana untuk membangun karakter peserta didik.
Dalam konteks Aceh, integrasi tersebut diarahkan agar kemajuan sains dan teknologi berjalan seiring dengan nilai-nilai keislaman dan budaya lokal. Dengan demikian, pendidikan STEM diharapkan tidak hanya menghasilkan siswa yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan inovatif, tetapi juga memiliki karakter serta kepedulian terhadap lingkungan sosial dan budayanya.
Dua Hari untuk Menghasilkan Kerja Nyata
Pertemuan dan pembahasan yang berlangsung selama dua hari tersebut diharapkan menghasilkan langkah konkret bagi penyebarluasan STEM-C di Aceh.
PR STEM USK bersama Dinas Pendidikan Aceh akan membahas lebih lanjut bentuk implementasi, mekanisme pilot project, penguatan kapasitas guru, pengembangan kompetensi siswa, serta optimalisasi laboratorium sekolah.
Semangat yang mengemuka dalam pertemuan tersebut adalah bahwa pengembangan STEM di Aceh harus bergerak dari wacana menuju aksi nyata.
“Kerja nyata harus terlihat. Wacana saja tidaklah berarti,” menjadi pesan yang mengemuka dalam rangkaian pertemuan tersebut.
Kolaborasi antara PR STEM USK dan Dinas Pendidikan Aceh diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun ekosistem STEM yang lebih kuat di Aceh—ekosistem yang menghubungkan sains, teknologi, inovasi, karakter Islami, dan budaya Aceh dalam satu gerakan pendidikan yang kontekstual dan berkelanjutan.




















