KABARDAILY.COM – Sastrawan kawakan asal Tanah Gayo, Lesik Keti Ara atau yang lebih dikenal dengan nama LK Ara, kembali mempersembahkan dua karya sastra terbarunya yang mengusung kisah kuat tentang nasionalisme dan kearifan lokal Aceh untuk Indonesia. Momen berharga tersebut disampaikan langsung oleh LK Ara saat ditemui di Simpang 4 Kupi, Bireuen, Kamis (3/9/2026).
Buku pertama yang diperkenalkan adalah kumpulan puisi bertajuk Radio Rimba Raya. Karya ini merupakan sebuah epos sejarah setebal 208 halaman yang mencatat secara puitis peran vital Radio Rimba Raya dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Melalui bait-bait puisinya, LK Ara mengisahkan bagaimana siaran radio dari belantara Aceh Tengah (sekarang Bener Meriah-red) tersebut berhasil menembus udara dan menyampaikan pesan ke seluruh dunia bahwa Indonesia masih ada serta merdeka, di saat Belanda mengklaim republik ini telah musnah. Buku ini diterbitkan pada tahun 2026 oleh Yayasan Mata Air Jernih, Aceh Tengah, dan dilengkapi dengan kata sambutan dari Bupati Bener Meriah, Tagore Abubakar.
Sementara itu, buku kedua berjudul Wasiat Reje Linge, sebuah karya puitis yang merangkum warisan sejarah, adat, budaya, serta falsafah hidup masyarakat Gayo. Dicetak pada Agustus 2026 dan turut memuat kata sambutan dari Tagore Abubakar, buku ini menghimpun kisah-kisah luhur tentang kepemimpinan, keberanian, persatuan, serta penghormatan terhadap alam dan sesama. Nilai-nilai petuah kuno Reje Linge tersebut digali oleh penulis dari berbagai sumber sejarah dan tutur lisan, yang kemudian dirangkai secara imajinatif dan mendalam melalui kacamata sastrawan asli kelahiran Tanah Gayo.
“Buku ini bukan hanya untuk merawat ingatan kolektif masyarakat atas sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga menyerukan pentingnya menjaga warisan kearifan lokal sebagai fondasi identitas nasionalismenya,” sebutnya dalam kesempatan “ngopi” bersama Mukhlis Aminullah, pegiat kesenian Bireuen.
Lesik Keti Ara (LK Ara) lahir di Takengon, Aceh Tengah, pada 12 November 1937. Ia adalah salah satu sastrawan legendaris Indonesia yang telah mendedikasikan hidupnya selama puluhan tahun untuk dunia seni, sastra, dan dokumentasi budaya Gayo. Sebagai penyair, novelis, serta pengumpul cerita rakyat, LK Ara aktif melahirkan belasan buku puisi dan rekam jejak kebudayaan Aceh. Dedikasinya yang konsisten dalam merawat memori kolektif bangsa melalui bahasa puitis membuat karyanya selalu relevan, menginspirasi lintas generasi, serta mengukuhkan posisinya sebagai tokoh sastra penting di Tanah Air. (Rus)




















