KABARDAILY.COM – Sekolah Sukma Bangsa Pidie kembali menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna melalui rangkaian kegiatan kolaboratif bersama berbagai lembaga dan praktisi. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen sekolah dalam menghadirkan pembelajaran yang mendalam, bermakna, dan relevan dengan kehidupan nyata.
Pada Kamis malam, sebanyak 125 siswa asrama mengikuti sesi bertajuk “Belajar Sejarah dan Bencana Lewat Lagu” yang difasilitasi oleh Yayasan Peduli Musik Anak. Kegiatan menghadirkan Karina Adistiana, S.Psi., M.Psi., Psikolog dan Ribut Cahyono, S.Psi., Psikolog sebagai narasumber. Melalui lagu dan musik, para siswa diajak memahami berbagai peristiwa sejarah serta pelajaran penting tentang kebencanaan dengan pendekatan yang kreatif dan reflektif.
Dalam sesi tersebut, siswa tidak hanya mendengarkan lagu, tetapi juga diajak mendiskusikan makna di balik lirik, menghubungkannya dengan pengalaman kemanusiaan, serta memahami bagaimana masyarakat dapat belajar dari berbagai peristiwa bencana yang pernah terjadi. Pendekatan ini membantu siswa membangun empati, kepedulian sosial, dan ketangguhan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Keesokan harinya, Jumat pagi, sebanyak 120 siswa mengikuti kegiatan refleksi diri dan perencanaan masa depan yang difasilitasi oleh Yayasan Data Pembangunan Berkelanjutan (ISSED), Himpunan Mahasiswa Statistika (HIMASTA), serta dosen dari Departemen Statistika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Syiah Kuala (USK). Melalui berbagai aktivitas interaktif, siswa diajak mengenali potensi diri, merefleksikan perjalanan belajar yang telah dilalui, serta menyusun langkah-langkah untuk mewujudkan cita-cita di masa depan.
Dalam kesempatan tersebut, dosen Departemen Statistika FMIPA Universitas Syiah Kuala, Saiful Mahdi, Ph.D., menekankan pentingnya kemandirian yang dibangun secara bertahap sesuai dengan perkembangan peserta didik.
Menurutnya, setiap jenjang pendidikan memiliki capaian kemandirian yang berbeda. Saat tamat SD, seorang anak diharapkan telah memiliki kemandirian belajar, yaitu kemampuan untuk mengenali dan mengelola proses belajarnya sendiri. Saat tamat SMP, seorang remaja diharapkan telah memiliki kemandirian sosial, yakni kemampuan berinteraksi, berkolaborasi, dan berkontribusi secara positif dalam lingkungan sosialnya.
Adapun saat tamat SMA, seorang siswa diharapkan telah memiliki kemandirian dalam merancang masa depan, yaitu kemampuan mengenali potensi diri, menentukan tujuan hidup, serta menyusun langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapainya.
“Saat tamat SD, anak harus mandiri dalam belajar. Saat tamat SMP, ia harus mandiri dalam kehidupan sosialnya. Dan saat tamat SMA, ia harus mandiri dalam merancang masa depannya. Ketika seorang siswa mampu membayangkan masa depan yang ingin dicapai, ia akan lebih mudah menentukan pilihan dan langkah yang perlu ditempuh sejak sekarang,” ujar Saiful Mahdi.
Salah satu momen yang menarik terjadi saat sesi refleksi hasil lukisan masa depan. Seorang siswi bernama Salwa dengan penuh percaya diri mempresentasikan gambaran masa depannya di hadapan peserta lainnya. Dalam lukisannya, ia menggambarkan cita-cita untuk melanjutkan pendidikan di Yogyakarta, mengunjungi Paris, serta membangun kehidupan yang sukses di masa depan.
Dengan polos dan penuh keyakinan, Salwa berkata, “Saya ingin kuliah di Jogja, pergi ke Paris, dan sepuluh tahun lagi menjadi istri pengusaha truk yang memiliki ribuan armada.” Ungkapan tersebut sontak mengundang senyum dan tepuk tangan peserta lainnya. Bagi para fasilitator, pernyataan Salwa menunjukkan bahwa setiap anak memiliki mimpi yang unik dan berharga.
Melalui kegiatan refleksi ini, siswa didorong untuk berani membayangkan masa depan, mengenali harapan yang ingin dicapai, serta mulai menyusun langkah-langkah untuk mewujudkannya.
Direktur Sekolah Sukma Bangsa Pidie, Marthunis Bukhari, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen sekolah untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran sosial, kemampuan reflektif, dan kesiapan menghadapi masa depan.
“Pendidikan yang baik membantu siswa memahami masa lalu, memaknai masa kini, dan merancang masa depan. Melalui kolaborasi dengan berbagai mitra, kami ingin menghadirkan pengalaman belajar yang memperkaya wawasan sekaligus menguatkan karakter peserta didik,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan ini menunjukkan komitmen Sekolah Sukma Bangsa Pidie dalam membangun ekosistem pembelajaran yang humanis dan kolaboratif. Dengan memahami sejarah dan kebencanaan serta belajar merancang masa depan secara sadar, siswa diharapkan tumbuh menjadi generasi yang tangguh, peduli, dan siap berkontribusi bagi masyarakat. Kegiatan ini juga menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan ruang bagi setiap anak untuk mengenali dirinya, menumbuhkan harapan, dan berani memimpikan masa depan yang lebih baik.




















