Lestarikan Budaya Lewat Rajutan, Workshop “Motif Pinto Aceh” di Bireuen Resmi Berakhir

KABARDAILY.COM – Upaya melestarikan warisan leluhur melalui karya kreatif terus digalakkan di Kabupaten Bireuen. Workshop bertajuk “Penciptaan Karya Kreatif Inovatif Dalam Bentuk Crochet Motif Pinto Aceh” resmi ditutup di Aula Djarwal Hotel Bireuen Jaya, Selasa (11/5/2026).

​Kegiatan yang berlangsung selama 5 (lima) hari sejak 7 Mei lalu ini bertujuan untuk mengawinkan nilai tradisi lokal dengan tren kerajinan tangan modern. Para peserta yang berasal dari berbagai gampong di Bireuen tampak antusias mendalami seni merajut (crochet) dengan fokus utama visualisasi motif ikonik, Pinto Aceh.

​Ketua Panitia, Muhammad Arif, mengungkapkan bahwa agenda ini merupakan bentuk kepedulian nyata dalam menjaga kedekatan generasi muda dengan akar budayanya. Menurutnya, budaya tidak boleh statis, melainkan harus hadir dalam ruang kreatif yang relevan dengan perkembangan zaman.

​“Motif Pinto Aceh bukan sekadar ornamen visual. Ia adalah identitas yang menyimpan nilai estetika, sejarah, dan filosofi kehidupan masyarakat kita. Melalui workshop ini, kita mempertemukan tradisi tersebut dengan kreativitas modern agar ia tetap hidup dalam bentuk karya-karya baru,” ujar Arif.

​Senada dengan hal itu, Penanggungjawab kegiatan, Isma Musani Putri, menekankan bahwa seni merajut bukan hanya soal teknis menyusun benang, melainkan sebuah proses yang melatih kesabaran, imajinasi, dan rasa.

​“Saat motif Pinto Aceh dihadirkan dalam bentuk crochet, seni tradisi sebenarnya sedang berbicara dalam bahasa zaman yang baru. Kami berharap kegiatan ini melahirkan generasi kreatif yang tidak hanya mampu berkarya, tetapi juga memiliki kesadaran untuk mencintai kebudayaan daerah melalui pendekatan yang lebih segar dan dekat dengan anak muda,” tambah Isma.

​Program kolaboratif ini terselenggara berkat dukungan penuh dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Dana Indonesiana, serta didukung oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Melalui inisiatif ini, diharapkan produk kreatif berbasis motif daerah dapat menjadi penggerak ekonomi kreatif sekaligus benteng pelestarian budaya di Aceh. (MA)