Pembaruan Action Mobile Bank Aceh Disorot, Nasabah Temukan Sejumlah Kejanggalan di Lapangan

KABARDAILY.COM,BANDA ACEH – Pembaruan aplikasi Action Mobile yang dirilis Bank Aceh sebagai bagian dari peningkatan layanan digital justru memunculkan sejumlah pertanyaan dari nasabah. Di balik klaim peningkatan keamanan dan fitur baru, pengalaman pengguna di lapangan menunjukkan adanya beberapa ketidaksesuaian yang perlu mendapat perhatian serius.

Sejumlah temuan ini disampaikan oleh Zainal Abidin, nasabah Bank Aceh, yang mengaku mengalami langsung kejanggalan saat menggunakan versi terbaru aplikasi tersebut.

“Saat membuka aplikasi, tiba-tiba muncul peringatan adanya keylogger di perangkat. Tapi tidak ada penjelasan detail, aplikasi mana yang dimaksud atau bagaimana cara menanganinya. Ini membuat pengguna justru panik,” ujar Zainal.

Notifikasi tersebut dinilai menjadi salah satu indikasi bahwa sistem deteksi keamanan belum sepenuhnya komunikatif kepada pengguna. Dalam praktiknya, informasi yang tidak lengkap justru berpotensi menimbulkan kebingungan dan ketidakpastian.

Selain itu, Zainal juga menyoroti perubahan pada sistem keamanan login. Ia menemukan bahwa penggunaan kata sandi pada versi terbaru tidak lagi menuntut karakter khusus, yang selama ini dikenal sebagai bagian penting dalam standar keamanan digital.

“Kalau password cukup kombinasi huruf besar, kecil, dan angka tanpa karakter unik, ini justru terasa mundur dari sisi keamanan. Biasanya semakin kompleks semakin aman,” katanya.

Temuan lain yang menjadi perhatian adalah terkait fitur login biometrik. Dalam berbagai informasi resmi, disebutkan bahwa aplikasi telah mendukung login menggunakan sidik jari maupun pemindaian wajah. Namun, pengalaman pengguna menunjukkan hal yang berbeda.

“Saya coba sendiri, fitur itu tidak ada atau belum bisa digunakan. Jadi ada perbedaan antara yang disampaikan dan yang benar-benar tersedia di aplikasi,” lanjutnya.

Melihat kondisi tersebut, muncul dugaan adanya kesenjangan antara pengembangan sistem di internal dengan implementasi yang diterima pengguna. Informasi yang disampaikan ke publik dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi aktual aplikasi di lapangan.

Di sisi lain, mekanisme penanganan keluhan juga menjadi sorotan. Zainal menilai bahwa suara nasabah belum sepenuhnya terakomodasi dengan baik melalui kanal yang tersedia.

“Harusnya laporan dari customer service, media sosial, atau aplikasi bisa menjadi bahan evaluasi cepat. Kalau tidak tersampaikan dengan baik, perbaikan jadi lambat,” ujarnya.

Sejumlah pengamat menilai, dalam layanan perbankan digital, kepercayaan pengguna sangat bergantung pada konsistensi antara klaim fitur, implementasi teknis, dan respons terhadap keluhan.

Zainal berharap Bank Aceh dapat segera melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk memastikan kesiapan fitur sebelum dipublikasikan serta meningkatkan transparansi kepada nasabah.

“Kami sebagai pengguna tentu ingin layanan yang benar-benar aman dan jelas. Bukan hanya klaim, tapi juga terbukti saat digunakan,” tutupnya.