ACEHGROUND.COM – Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Dr Mujiburrahman MAg mengajak masyarakat untuk turut mendukung upaya pemerintah dalam mempercepat pemulihan bencana banjir di Aceh.
Ia menilai langkah yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan keseriusan negara dalam menangani dampak bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh sejak akhir 2025.
“Langkah-langkah yang sudah dilakukan pemerintah menunjukkan keseriusan. Kita berharap masyarakat bahu-membahu. Jangan hanya mengkritik, kalau ada kekurangan kita dorong untuk diperbaiki,” kata Mujiburrahman dalam keterangannya.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir dan longsor berdampak pada puluhan kabupaten/kota di Aceh, dengan lebih dari 100 ribu rumah mengalami kerusakan. Skala dampak tersebut membuat proses pemulihan membutuhkan waktu dan kerja lintas sektor.
Meski demikian, penanganan dinilai menunjukkan perkembangan. Jumlah pengungsi yang sempat mencapai lebih dari 2,1 juta jiwa pada awal Desember 2025 kini berkurang signifikan. Per Maret 2026, tersisa 173 jiwa yang masih berada di pengungsian, terutama di Kabupaten Bireuen dan Kabupaten Aceh Tamiang.
Mujiburrahman mengatakan capaian tersebut tidak lepas dari keterlibatan langsung Presiden yang beberapa kali meninjau lokasi terdampak. Kunjungan dilakukan ke sejumlah wilayah, seperti Aceh Tamiang, Takengon, dan Bener Meriah, untuk memastikan distribusi bantuan, pembukaan akses terisolasi, hingga pembangunan hunian sementara berjalan sesuai rencana.
Selain itu, pemerintah juga menjalankan sejumlah langkah, mulai dari pembentukan satuan tugas terpadu, penyaluran dana siap pakai, hingga percepatan pembangunan infrastruktur darurat seperti jembatan penghubung di wilayah terdampak.
Ia juga menyoroti kehadiran Presiden yang melaksanakan Salat Idulfitri bersama warga terdampak di Aceh Tamiang sebagai bentuk empati. Menurutnya, kehadiran langsung dalam momentum keagamaan tersebut memberikan dukungan moral bagi masyarakat.
Presiden Prabowo melaksanakan Salat Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah bersama masyarakat di Kabupaten Aceh Tamiang pada Sabtu (21/3/2026). Kehadiran itu disebut sebagai bagian dari komitmen pemerintah agar masyarakat terdampak tidak merasa sendiri dalam masa pemulihan.
Mujiburrahman menilai pendekatan tersebut mencerminkan kehadiran negara tidak hanya dalam aspek fisik, tetapi juga sosial. Ia mencontohkan dukungan terhadap tradisi Meugang yang tetap difasilitasi bagi masyarakat terdampak menjelang Ramadan dan Idulfitri.
“Ini menunjukkan bahwa pemulihan tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga menjaga semangat dan kehidupan sosial masyarakat,” ujarnya.
Ke depan, ia berharap perhatian pemerintah terus berlanjut, terutama dalam penyediaan hunian tetap, perbaikan infrastruktur, serta dukungan pendidikan bagi anak penyintas dan ekonomi bagi warga terdampak.
“Harapan kita, masyarakat segera mendapatkan rumah yang layak, infrastruktur pulih, dan anak-anak korban tetap mendapatkan akses pendidikan,” kata dia. [ ]






















