Ketika Modernisasi Menggerus Kearifan Lokal dan Budaya Negeri

KABARDAILY.COM  |  OPINI –   Tak bisa dipungkiri, era tekhnologi canggih memberikan beberapa kemudahan untuk manusia. Ketika semua pekerjaan dengan mudahnya dilakukan secara instan. Dengan bantuan berbagai mesin dan elektronik.

Hampir paruh waktu manusia dikerjakan oleh produk-produk pembantu yang merupakan hasil olah pikir dan tekhnologi kecerdasan manusia yang super canggih. Alhasil, terkadang kita tidak lagi membutuhkan bantuan orang lain, dikarenakan semua bisa dikendalikan seorang diri. Semisal bekerja yang membutuhkan tenaga dan bantuan orang lain, semua nyaris tidak diperlukan lagi. Karena hadirnya mesin-mesin pembantu yang mengelarkan semua pekerjaan.

Budaya gotong royongpun nyaris hilang, karena tenaga manusia hanyalah sebagai pemandu dan operator mesin saja. Dan, sontak saja, gotong royongpun dilaksanakan bukan karena ikhlas tanpa pamrih, melainkan berbayar lewat upah pengganti letih. Artinya, ketika kita butuh tenaga orang lain, kita harus mempersiapkan “amplop salaman” sebagai ucapan. Karena sebuah istilah seakan menjadi jargon “Hidup Ini Tidak Ada Yang Gratisan”. Jadinya, yang ber-uang akan kalah dengan yang hanya memiliki kekuatan tenaga. Semua harus berbayar, karena istilah gratis, tiada lagi melegenda. Siap tidak siap, inilah lumrahnya.

Satu persatu kearifan lokal dan budayapun tergerus perlahan. Mainan lokal seperti galah asin, gasing, layang-layangan menghilang, tergantikan dengan game game yang membanjiri gadget dan hanya tinggal download di play store dalam hitungan menit dan detik.

Dahulu mungkin kita mengenal bermain itu dengan sahabat dan teman sebaya, kini cukup bermain hanya dengan bersendirian saja. Bahkan berbicara dan tertawa sendiri, atau yang lebih parah mengumpat serta bergumam sendiri, ketika kita gagal memegang kendali game yang kita mainkan dengan jari kita, karena terlanjur lost dan game over.

Miris memang! Apalagi ketika kultur dan budaya perlahan mulai menghilang. Budaya berkumpul bersama dan bergurau dengan sahabat sudah mulai jarang terlihat. Karena kita lebih gemar mengurung diri di kamar, asik dengan gadget dan dunia maya kita. Bahkan parahnya, kita seolah berada di planet lain.

Enggan bersosialisasi, dan lebih memfavoritkan dunia sendiri. Bahkan anehnya, kita malah lebih nyaman sendirian, ketimbang berkumpul dengan sahabat dan rekan sejawat. Seketika kita sendiri yang menciptakan dunia introvert, dengan berdalih tidak suka keramaian dan enggan dengan kehidupan sosialisasi. Namun, kita seperti mengesampingkan, makna sebuah humanisasi, melupakan tujuan penciptaan manis, yang sejatinya untuk saling mengenal satu dan yang lainnya.

Tanpa kita sadari, kita juga telah menciptakan ruang-ruang baru, dan memberikan batas-batas serta menyekat hati kita untuk enggan mengenali dunia luar, kita tidak lagi membaca situasi lingkungan sekitar kita. Karena masing-masing kita sibuk dengan dunia yang kita ciptakan sendiri. Hal ini akan menghilangkan rasa empati kita terhadap lingkungan sekitar kita.

Bahkan kita juga seakan menjaga jarak dengan keluarga kita, yang notabene tinggal satu atap. Bertemu disaat perlu, menyapa sekedarnya saja. Seorang anak yang tidak lagi dekat dengan ayah ibunya, dengan alasan sudah besar dan dewasa. Merasa malu dianggap anak manja.

Dan beranggapan mandiri, padahal belum waktunya. Bahkan budaya mendongeng dan me-Nina Bobo-kan anak jelang tidur juga nyaris hilang ditelan zaman. Anak anak sekarang malah lebih nyaman dengan mendekap gadgetnya menjelang tidur malamnya. Ketimbang merindukan dongengan Emak pengantar tidur hingga lelapnya.

Moderenisasi nyaris menggerus semua sendi bidang kehidupan. Kuliner lokal dan kudapan tradisional juga nyaris lenyap seiring zaman. Tergantikan dengan makanan junk food dan instan “Gak Pakek Lama”, yang menjamur dan digemari anak muda. Seakan merasa di level keren, ketika nongkrong di cafee jajanan, dengan sajian menu yang wah, tapi jauh dari seleksi BPOM yang menyehatkan. Kita hanya menunggu bom waktu meledak pada waktunya, ketika berbagai penyakit mulai menggerogoti jiwa dalam usia yang belum senja. Pada akhirnya kita menyalahkan diri sendiri, menyesal pada waktu yang sudah terlambat.

Sajian budaya daerah juga terasa surut teratur, ketika irama langgam musik daerah terdengar, remaja sekarang merasa bagaikan di ruang asing. Karena mereka tiada lagi memahami bahasa daerah mereka masing-masing. Dan mereka seakan merasa budaya daerah menjadi sesuatu yang diistilahkan “udik”. Kalah keren dengan house music dan DJ yang cetar membahana. Pada masanya, musik daerah yang dianggap kampungan. Akan pulang kampung, dan hanya terasa merdu dan indah pada generasi di zamannya yang masih mau menikmatinya. Hanya dinikmati dan diperdengarkan oleh kalangan petua yang masih ada. Pada akhirnya, tergerus juga seiring masanya tiba.

Pada masanya tiba, kita akan merasa terasing dengan kehidupan ini. Banyak hal yang tak patut, seakan dimaklumi. Bahkan sesuatu yang dulu dianggap tabu, kini menjadi hal yang lumrah-lumrah saja. Kita kehilangan jati diri. Krisis akhlak dan moral di mana-mana. Semua tergerus oleh arus, yang seakan-akan kita tidak memiliki kekuatan untuk menaklukkannya. Pada akhirnya kita semua terdiam dalam letih, sampai kita tidak tahu, kapan semua berakhir. Terkadang kita merindukan kembali ke zaman dahulu. Saat kesahajaan masih menjadi sebuah keharusan, persaudaraan dan gotong royong adalah sebuah keharusan. Empati, etika dan rasa hormat menjadi pedoman. Kehidupan yang penuh damai, tanpa ada rasa persaingan yang tidak menyehatkan. Sungguh kita merindukan masa ini hadir di zaman ini. Namun, apakah ini mungkin akan terjadi lagi? Karena semua memang sudah tergerus akibat era moderenisasi yang terus melesat tanpa mampu berhenti.

Penulis :
Habas, S. Pd. Guru SMK Negeri 1 Bener Meriah