fbpx

Study Tour Bukan Sekadar Wisata

  • Oleh Feri Irawan, SSi, MPd,Kepala SMKN 1 Jeunieb

KABARDAILY.COM – Beberapa hari terakhir ini saya membaca berita di media sosial atau berita-berita mainstream banyak yang mem-bully guru terkait dengan masalah study tour.

Ini buntut dari adanya kecelakaan study tour di SMK Lingga Kencana Depok menimbulkan pro dan kontra terkait kegiatan sekolah bernama study tour.

Kita ikut prihatin atas hujatan yang menimpa para guru di SMK Lingga Kencana, Depok atas kecelakaan study tour yang terjadi di Subang beberapa waktu lalu.

Larangan pun bermunculan. Padahal kegiatan ini sekolah sudah menyiapkan sejak awal tahun ajaran dan disosialisasikan serta dikembalikan ke orang tua siswa, diminta pendapatnya dan dijelaskan mengapa sekolah mengadakan study tour.

Sayangnya, guru sering disalahkan ketika ‘kejadian’ dalam study tour. Padahal seringkali bukan karena faktor guru.

Dalam kasus SMK Lingga Kencana, seharusnya bukan guru yang harus disalahkan. Sebab, guru mendidik siswa untuk berprestasi melalui proses pembelajaran dalam study tour. Analoginya begini, Ibarat kapal laut menyeberangi lautan, tiba-tiba tenggelam sebelum sampai daratan. Tenggelamnya itu bisa karena kelebihan muatan, kerusakan mesin, atau faktor cuaca. Jadi bukan penumpangnya atau tujuan berlayarnya yang disalahkan.

Dalam hidup, setiap manusia tidak selamanya melewati jalan yang mulus. Terkadang, seseorang dihadapkan pada kejadian-kejadian yang menyulitkan dan merenggut kebahagian, seperti kecelakaan rombongan study tour siswa SMK Lingga Kencana Depok.

Kebetulan yang lagi apes siswa SMK Lingga Kencana yang sedang outing class. Bagaimana kalau yang apes rombongan bapak-bapak anggota dewan atau ibu-ibu darma wanita bayangkari? Apa mau dilarang juga?

Musibah adalah bagian dari skenario Allah SWT yang harus dijalani oleh setiap manusia di muka bumi ini. Musibah merupakan rahasia Allah SWT yang tidak dapat dihindari atau ditunda barang sedetik pun.

Armada Tidak Layak

Setiap musibah pasti ada sebab. Kecelakaan di Ciater disebabkan karena rombongan wisata dari sekolah tersebut menggunakan armada yang tidak laik jalan. Peristiwa naas tersebut bisa menimpa siapa saja. Jadi masalah utamanya bukan study tour-nya, tapi di kelayakan armada yang digunakan.

Seharusnya pihak yang dievaluasi dinas yang menaungi armada tersebut. Kenapa bisa ada mobil tidak membayar KIR, tidak membayar pajak, tidak mengganti oli sudah setahun, tapi bisa merajalela di jalanan?

Jika pun menggunakan usaha perjalanan wisata, yang perlu dipertanyakan adalah biro usaha perjalanannya. Apakah sudah terdaftar sebagai anggota Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) dan mengantongi izin operasional dari pemerintah atau belum.

Berkaca dari alasan diatas, agar kedepannya dinas pendidikan setempat dapat bekerja sama dengan Asosiasi perjalanan untuk menetapkan standar pelaksanaan study tour di sekolah. Selain menyetarakan biaya study tour, standarisasi juga bisa menjaga kualitas layanan yang didapatkan para siswa.

Selain itu, pihak sekolah pun harus memiliki standar operasional prosedur (SOP) yang jelas untuk setiap kegiatan study tour, dengan koordinasi antara sekolah, guru, dan orang tua siswa. Dengan demikian, study tour dapat menjadi kegiatan yang bermanfaat bagi siswa dalam proses pembelajaran mereka

Apalagi ada pihak-pihak di “luar sana’ menuding para guru mendapatkan untung lebih dari dilaksanakannya kegiatan tour oleh sekolah.

Namun pertanyaannya, apakah setelah pelaksanaan study tour banyak guru di sekolah yang harta kekayaannya seperti para pejabat yang melakporkan harta kekayaannya ke LHKPN? Tidak kan.

Pentingnya Karya Wisata

Menurut Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, Nunuk Suryani, kegiatan study tour sebenarnya bukan sekedar wisata. Studi tour memiliki tujuan pembelajaran yang penting bagi siswa. Menurut Nunuk, ketika guru bisa mengajak siswa datang ke tempat yang sesungguhnya, itu bisa memberikan pengalaman belajar mendekati 80 sampai 90 persen daripada siswa melihat video atau bacaan.

Selain itu, study tour juga dapat memfasilitasi pengembangan keterampilan kolaborasi, pemecahan masalah, komunikasi, dan kecakapan abad 21 lainnya pada siswa. Semua keterampilan itu, tak bisa diperoleh melalui pembelajaran di kelas saja.