27.5 C
Banda Aceh
BerandaAgamaSOMADA Gelar Seminar Publik Mengenai Deradikalisasi

SOMADA Gelar Seminar Publik Mengenai Deradikalisasi

SANTERDAILY.COM | BANDA ACEH—Solidaritas Mahasiswa dan Pemuda Aceh Besar (SOMADA) menggelar seminar publik deradikalisasi dengan tajuk “Mengkaji Isu Keterlibatan Kelompok Radikalisme dalam Kontestasi Pemilu Serentak 2019” pada Selasa (24/4/2019) bertempat di Lantai II 3 In One Coffee Lampineung yang diikuti 89 orang peserta terdiri dari mahasiswa Unsyiah, UIN Ar-Raniry, Komunitas Forum Aceh Menulis, Perwakilan Media, dan Masyarakat Umum.

Ketua Somada, Abdul Haris Piyeung dalam laporannya mengatakan  seminar tersebut menghadirkan tiga narasumber di antaranya, Kurniawan SSH LLM, Direktur Eksekutif Pusat dan Pengembangan Kebijakan Aceh (P3KA), Drs Fuad Mardhatillah MA, Akademisi UIN Ar-Raniry, dan Tgk Muhazzir Budiman, Akademisi STISNU Aceh.

Kurniawan menyajikan materi “Eksistensi Kelompok Radikalisme Pada Pemilu Serentak 2019, Solusi dan Alternatif”.

Dalam paparannya ia menyebutkan radikalisme di era ini sudah berkamuflase dengan semua partai politik di Indonesia. “Sikap menghalalkan segala cara untuk mencapai suatu kemenangan dengan menggunakan kekerasan adalah bagian dari radikalisme,” tegasnya.

“Pendidikan tinggi tidak menentukan orang-orang tersebut tidak bisa terpengaruh radikalisme dan lemahnya regulasi menyebabkan mudahnya muncul radikalisme di Indonesia,” ungkap Kurniawan.

Sementara Fuad Mardhatillah membahas “Isu Relasi Keterlibatan Kelompok Radikalisme Pada Pemilu Serentak 2019”.

Fuad mengungkapkan radikalisme tidak selalu identik dengan negatif. Definisi filsafat adalah radikalisme bersifat positif. “Radikalisme terjadi akibat adanya pemaksaan kehendak (fanatisme),” ungkap Fuad.

“Radikalisme ditolak karena sifatnya tertutup, menolak diskusi, merasa diri paling benar dan menganggap orang lain di luar kelompoknya tidak benar, bahkan hingga berani mengkafirkan,” tegas Fuad.

Narasumber ketiga, Tgk Muhazzir Budiman dengan materi ” Partisipasi Masyarakat dalam Mempersempit Ruang Terhadap Keterlibatan Kelompok Radikal Pada Pemilu 2019″.

Muhazzir memaparkan setiap yang baik itu selalu di tengah-tengah di antara kebodohan dan kecerobohan. “Paham radikalisme muncul karena disebabkan kajian bidang yang berbeda namun mengambil rujukan quran dan hadis tanpa mengetahui sepenuhnya dari apa yang dikutipnya,” ujar Muhazzir.

“Ada sebagian ormas yang telah disusupi kaum radikalisme dan ada sebagian yang sudah dibubarkan. Musuh kita sekarang kafir harbi (kafir yang sedang berperang) dan kaum radikalisme,” pungkas Muhazzir.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Stay Connected

31,112FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Must Read

Related News

Indonesia
6,051,850
Total confirmed cases
Updated on May 19, 2022 22:07
Indonesia
156,510
Total deaths
Updated on May 19, 2022 22:07
Indonesia
3,766
Total active cases
Updated on May 19, 2022 22:07