fbpx

Pemikiran Hermeneutika Amina Wadud Muhsin, Agama Keadilan Ditengah Ketidakadilan

KABARDAILY.COM  |  OPINI  –   Perkembangan ilmu pengetahuan terjadi pada semua bidang ilmu. Tak terkecuali bidang ilmu-ilmu al-Qur’an. Di Barat lahir seorang tokoh perempuan yang menghebohkan dunia Islam pada saat itu, bahkan hingga saat ini.

Namanya adalah Amina Wadud Muhsin. Ia seorang Profesor Islamic Studies yang pernah menjadi imam shalat Jum’at. Dalam jumatan tersebut, imamnya perempuan, khatibnya perempuan dan barisan makmumnya bercampur aduk antara laki-laki dan perempuan. Sejak 1400 tahun lebih Islam di sebarkan oleh Nabi Muhammad, baru Amina Wadud-lah orang yang berani menjadi imam shalat Jum’at. Amina Wadud melakukan hal tersebut tentu bukan asal-asalan, namun juga memiliki dasar. Dasar yang di pakai olehnya adalah hermeneutika tauhid. Dalam hal ibadah, seseorang tidak boleh di halangi hanya karena jenis kemanin, asalkan bertauhid, ia boleh beribadah.

Amina Wadud lahir pada 25 September 1952, dengan nama Maria Teasley di Bethesda Maryland Amerika Serikat yang terletak di bagian barat laut Washington DC. Ayahnya adalah seorang Methodist menteri dan ibunya keturunan dari budak Muslim Arab, Berber dan Afrika. Pada tahun 1972 ia mengucapkan syahadat dan menerima Islam dan pada tahun 1974 namanya resmi diubah menjadi Amina Wadud dipilih untuk mencerminkan afiliasi Agamanya. Ia menerima gelar BS, dari The University of Pensylvania, antara tahun 1970 dan 1975. Dalam karir akademiknya, Amina Wadud pernah menjadi Professor of Religion and Philosophy (Profesor Agama dan Filsafat di Virginia Common Wealth University).

Amina Wadud memperoleh Ijazah Doktor Filsafat dari Universitas Michigan dan mempelajari Bahasa Arab di Universitas Amerika dan Universitas Al-Azhar, di Kairo Mesir. Penjelajahan intelektualnya berlanjut sampai menuntun Wadud mempelajari tafsir Alquran di Universitas Kairo dan filsafat di Universitas Al-Azhar. Wadud sempat bekerja sebagai asisten profesor di Universitas Islam Internasional Malaysia pada 1989 hingga 1992 dan menerbitkan disertasinya berjudul Quran dan Perempuan: Membaca Ulang Ayat Suci dari Pandangan Perempuan. Penerbitan buku itu dibiayai oleh lembaga nirlaba Sisters in Islam dan menjadi panduan buat beberapa pegiat hak-hak perempuan serta akademisi. Buku itu dilarang beredar di Uni Emirat Arab karena isinya dianggap provokatif dan membangkitkan agama.

Wadud dikontrak untuk jangka waktu 3 tahun sebagai Asisten Profesor di International Islamic University Malaysia di bidang Studi Alquran di Malaysia, antara tahun 1989-1992, dia menerbitkan disertasinya Alquran dan Perempuan: membaca ulang Teks Suci dari Woman’s Perspektif, sebuah buku yang dilarang di UAE. Namun, buku tersebut terus digunakan oleh Sisters Islam di Malaysia sebagai teks dasar bagi aktivis dan akademisi. Pada periode yang sama ia juga bersama-sama mendirikan LSM Sisters In Islam. Spesialisasi penelitian Amina Wadud ini termasuk studi gender dan Alquran. Pada tahun 1992 Amina Wadud menerima posisi sebagai Profesor Agama dan Filsafat di Virginia Common wealth University, dan ia pensiun pada 2008.

*Kerangka pemikiran Amina Wadud*

*1. Menawarkan metode baru “Hermeneutika Tauhid” dan konsep takwa*

Menurut Amina, teks al-Quran sudah jelas manyatakan kesetaraan antara pria dan wanita. Hal ini termaktub dalam al-Quran surat al-Hujurat [49]: 13 sebagai berikut

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

_Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal._

Penegasan al-Quran ini menjadi salah satu kunci bagi Amina Wadud untuk mengatakan, bahwa didalam al-Quran pria-wanita itu sama-sama. oleh sebab itu, sah-sah saja bagi wanita apabila ia tampil menjadi pemimpin diberbagai bidang, baik agama maupun negara.

Selain nash al-Quran diatas, salah satu kisah dalam al-Quran juga dijadikan pedoman bahwa, dalam Islam juga ada wanita yang eksis sebagai pemimpin. Kisah ratu Bilqis yang memiliki singgasana agung juga diceritakan oleh al-Quran. ditambah lagi dengan adanya hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majjah yang mengatakan bahwa Ummi Waraqah diperintahkan oleh Nabi untuk menjadi imam bagi keluarganya Dengan demikian, yang menjadi tolak ukur dalam Islam bukanlah dari sisi jenis kelamin, akan tetapi yang menjadi ukuran adalah takwa.

Oleh sebab itu, dengan ukuran takwa inilah Amina Wadud menawarkan suatu konsep baru untuk menyama-ratakan antara pria-wanita dengan satu konsep sederhana, yakni “Tauhid” Artinya, dengan memiliki keimanan yang sama kepada Allah swt. maka seseorang telah memiliki legitimasi untuk menjadi pemimpin, tanpa harus memperhitungkan apa jenis kelaminnya.

*2. Tentang penciptaan wanita*

Surat al-Nisa ayat pertama menyatakan sebagai berikut:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِه وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

_Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu._

Amina Wadud tidak jauh berbeda dengan para tokoh hermeneutika lainnya yang mana fokus kajiannya hanya itu-itu saja, yakni tentang gender, pembolehan hukum yang dulunya haram, dan sebaliknya. Dalam penciptaan wanita misalnya, ia tidak terima jika wanita diciptakan dari tulang rusuk Adam. Sementara, Adam diciptakan oleh Tuhan dengan wujud yang sempurna. Hal inilah yang dipandang oleh Amina Wadud sebagai hasil dari interpretasi yang bias gender.

Kata kunci dalam ayat diatas yang menjadi titik tekan Amina Wadud adalah pada kata nafs wahidah, min dan zauj. Dalam pandangannya, istilah nafs itu menunjuk kepada semua asal manusia secara umum, dan bukan berarti feminim atau maskulin. Menurutnya, kisah tersebut adalah menunjukkan asal usul kejadian manusia versi al-Quran. Namun biasanya kata nafs tersebut oleh para mufasir dimaknai sebagai Adam. Padahal sebenarnya tidak ada kejelasan dalam al-Qur’an mengenai kata nafs, apakah itu Adam atau Hawa?

Sementara itu, para ulama menafsirkan kata nafs wahidah dengan Adam, sedangkan kata minha ditafsirkan dengan tulang rusuk bagian kiri Adam, yang mana pemahaman tersebut diusung dari beberapa hadis yang tercantum didalam kitab sharh Ibnu Hajar al-Athqalani, Fath al-Bari li al-Sharh Bukhari, Imam Muslim dengan Sharh Al-Nawawi.

Yang mana keduanya sama-sama memberikan suatu pemahaman bahwa nafs wahidah adalah Adam. Oleh karenanya, apa yang disampaikan oleh para pen-sharh hadis tersebut termasuk kedalam golongan mujtahid, dan oleh sebab itu wajar jika berbeda dengan mujtahid yang lain. menolak hasil ijtihad itu berbeda dengan al-Quran dan Amina Wadud tidak menolak al-Quran, akan tetapi menolak hasil pemahaman seseorang tentang al-Quran, terutama yang menyangkut masalah gender.

Kata lain yang menjadi perhatian Amina Wadud adalah lafad min. Dalam bahasa Arab, kata min itu bukan hanya memiliki arti “dari‟ yang menunjukkan bagian sesuatu. Akan tetapi min juga bisa memiliki arti “sama‟ atau semacam, yang mana dalam bahasa Arab disebut sebagai min jinsiyyah. Dalam hal ini mayoritas mufasir menuliskan min dengan arti dari, bukan min yang dimaknai “sejenis‟. Inilah yang disebut oleh Amina Wadud sebagai “penyimpangan penafsiran‟ karena didominasi oleh kaum pria.

*3. Tentang nushuz*

Amina Wadud memang orang yang sangat teliti dalam melakukan kajian, dan salah satu poin penting yang dijadikan argumentasinya untuk membela kuam wanita adalah pada saat ia menafsirkan ayat tentang nushuz. Ayat yang menjelaskan hal tersebut adalah sebagai berikut,

اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ ۗ فَالصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّٰهُ ۗوَالّٰتِيْ تَخَافُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِى الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّ ۚ فَاِنْ اَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلًا ۗاِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيْرًا

_Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar._

Kata qanitat dalam kasus nushuz, menurut Amina Wadud, kata ini bermaksud baik, yang menggambarkan suatu karakteristik atau personalitas kaum yang beriman kepada Allah. Kata ini berlaku kepada laki-laki QS al-Baqarah [2]: 238; Ali Imran [3]: 17, maupun bagi perempuan al-Nisa‟ [4]: 34, al-Ahzab [33]: 34. Kombinasi dari ayat-ayat ini menunjukkan “taat adalah menganjurkan respon pribadi, bukan mengikuti faktor eksternal.‟ Karena ayat qanitat adalah berlaku bagi laki-laki dan perempuan, maka kata tersebut tidak boleh serta-merta disandarkan kepada perempuan saja. dalam hal ini Amina Wadud mengutip pendapat Sayydi Qutb, yakni nushuz dirtikan sebagai “keadaan kalut dalam keluarga.‟

Dalam al-Nisa [4]: 34 ini, jika ada permasalahan, al-Quran menekankan kepada pasangan suami istri agar tetap harmonis melalui empat tahap. Pertama, memperingatkan dengan ucapan. Kedua, melalui penengah. Ketiga, pisah ranjang, dan. Keempat, adalah dengan pemukulan. Jadi pesan utama yang ditekankan oleh al-Qur‟an adalah keharmonisan, bukan melakukan tindakan yang semena-mena yang berujung kepada kekerasan dalam rumah tangga.

Sementara itu, menurut Abdul Mustaqim, kata fadribuhun itu tidaklah harus dimaknai dengan memukul. Dalam kamus Lisan Arab, kata tersebut juga bisa berarti “berpalinglah kamu darinya‟. Oleh sebab itu, pemaknaan dengan memukul itu akan membahayakan bagi perempuan. Dan tafsir inilah yang dapat meminimalisir terjadinya kekerasan dalam rumah tangga.

*Karya-karya Amina Wadud*

Karya-karya Amina Wadud dalam bentuk buku dan artikel diantaranya:

1. Qur’an and Women: Rereading the Sacred Textform a Women’s perspective (Oxford University Press: 1999).
2. Qur’an and Women (Fajar Bakti Publication, Oxford University Press Subsidiary), Kuala Lumpur Malaysia (Original Eddition, 1992).
3. Alternatif Penafsiran Terhadap Al-Qur’an dan Strategi Kekuasaan Wanita Muslim, dalam buku “Tirai Kekuasaan: Aktivitas KeilmuanWanita Muslim”, Editorial Gisela Webb, Syracuse University Press, 1999.
4. Gender, Budaya dan Agama: Sebuah Perspektif Islam, dalam buku “Gender, Budaya dan Agama: Kesederajatan di Hadapan Tuhan dan Ketidak sederajatan di Hadapan Laki-laki”, Editorial Norani Othman dan Cecilia Ng, Persatuan Sains Sosial, Kuala lumpur Malaysia, 1995.
5. Mencari Suara Wanita dalam al-Qur’an, dalam Orbis Book, SCM Press,1998.
6. Muslim Amerika: Etnis Bangsa dan Kemajuan Islam, dalam buku”Kemajuan Islam; Keadilan, Gender dan Pluralisme” Editorial Omid Safi, Oxford: One World Publication, 2002.
7. Parameter Pengertian al-Qur’an terhadap Peran Perempuan dalam Konteks dunia Modern, dalam Jurnal “Islamic Quarterly”, edisi Juli,1992.
8. Qur’an, Gender dan Kemungkinan Penafsiran, dalam Jurnal “Kesepahaman Muslim-Kristen”, Georgetown University, Washington DC.
9. Qur’an, Syari’ah dan Hak Politik Wanita Muslim, makalah Simposium” Hukum Syari’ah dan Negara Modern”, Kuala Lumpur Malaysia, 1994.
10. Wanita Muslim: Antara Kewarganegaraan dan Keyakinan, dalam Jurnal “Women and Citizenship”.

 

Penulis : Deffa Cahyana Harits ( penggiat Tafsir kontemporer)