fbpx

Meluruskan Miskonsepsi Pembelajaran Berdiferensiasi

  • Penulis, Khairuddin MPd, Kepala SMA Negeri 1 Matangkuli

KABARDAILY.COM,OPINI – Hampir seluruh peserta Guru Berprestasi Provinsi Aceh tahun 2023 mengangkat tentang Pembelajaran Berdiferensiasi. Lalu hampir semua pula yang mengunggulkan pembelajaran berdiferensiasi memulai dengan asesmen diagnostik Gaya Belajar dan membentuk kelompok belajar sesuai dengan visual, auditori dan kinestetik.

Tone yang sama dari karya ilmiah kontestan tersebut tidak lepas dari mereka memahami bahwa tema “Merdeka Belajar” berarti mengajar menggunakan pendekatan Differentiated Learning.

Setiap kurikulum memang membawa pesan, tergantung dari pendekatan besar apa setting mindset dimulai. Misalnya pada K13, menggunakan pendekatan behavior, maka pendekatan pembelajaran yang digaungkan saat itu adalah scientific approach atau pendekatan saintifik yang kita kenal sebagai 5M.
Sementara pada Kurikulum Merdeka, pola keluwesan dalam menentukan capaian pembelajaran menggunakan taksonomi Wiggins dan Tighe, maka pendekatan yang digunakan berbasis kontruktivisme. Sehingga pendekatan pembelajaran yang ditawarkan adalah Differentiated Learning.

Differentiated Learning atau pembelajaran berdiferensiasi, sejatinya bukan hal yang baru meski tidak selalu mudah diterapkan. Saya sendiri sudah mengenal pendekatan ini di tahun 2011, melalui pelatihan SEAMEO QITEP in Mathematics, bernama Differentiated Instruction. Memberikan intruksi yang berbeda sesuai dengan kebutuhan belajar siswa.

Pembelajaran berdiferensiasi sendiri memiliki karakteristik belajar yang memerdekakan potensi siswa, pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas siswa. Sehingga siswa diharapkan memiliki pengetahuan yang berkembang, dinamis dan gemar belajar karena memahami potensi diri. Diferensiasi dalam pelaksanaan pembelajaran terdiri dari (1) Diferensiasi Konten, (2) Diferensiasi Proses, (3) Diferensiasi Produk, sebagian teori menambahkan juga (4) Diferensiasi Lingkungan Belajar.

Namun ketiga atau keempat aspek diferensiasi tersebut tidak mutlak harus hadir dalam setiap pembelajaran. Tergantung kebutuhan pembelajaran yang mampu mengakomodasi kepentingan potensi siswa. Hal ini kita sepakat semua. Clear.

Lalu mulailah miskonsepsi terjadi, diantaranya, apakah setiap pembelajaran dalam kurikulum merdeka mengharuskan dengan pendekatan pembelajaran berdiferensiasi ?!. Tentu saja tidak. Namanya pendekatan, sesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran. Jika pada materi yang dianggap dapat dipahami mudah oleh siswa setiap tingkatan kognitif atau disebut dengan pemahaman awal konsep, tentu saja tidak perlu pembelajaran berdiferensiasi.

Lalu apakah dalam memulai pembelajaran berdiferensiasi harus diikuti oleh asesmen diagnostik kognitif maupun non kognitif ?!. Tentu saja tidak. Buat apa membuat asesmen selalu jika guru sudah data awal. Semisal data gaya belajar, tak perlu bukan harus diuji setiap memulai pembelajaran. Data kognitif siswa juga dapat diperoleh pada data sebelumnya yang dapat dijadikan sandaran awal tindakan pembelajaran berikutnya. Toh guru bukan tukang riset dadakan bukan ?!. Kemampuan siswa secara kognitif sudah tergambar jelas jika pembelajaran sudah dilakukan secara berkesinambungan.

Apakah gaya belajar siswa mutlak diperlukan dalam pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi ?!. Lagi-lagi tentu saja tidak. Gaya belajar siswa dapat digunakan dalam pendekatan pembelajaran apa pun. Pembelajaran berdiferensiasi pun tidak mesti harus dimulai dari asesmen non kognitif gaya belajar. Dapat juga dimulai dari data kognitif siswa. Pembelajaran berdiferensiasi yang dimulai dari kognitif siswa lalu diberi tindakan intensitas pembelajaran disebut Teaching at the Right Level (TaRL).

Apakah pengelompokan belajar siswa dalam pembelajaran berdiferensiasi dilakukan berdasarkan gaya belajar siswa ?!. Miskonsepsi ini paling bias !!. Hampir seluruh kontestan saya di atas melakukan pembelajaran dengan mengelompokkan siswa berdasarkan visual, auditori dan kinestetik.

Jadi sebelum pembelajaran, guru memetakan siswa melalui asesmen diagnostik gaya belajar. Sehingga diperoleh siswa dengan gaya belajar visual, auditori dan kinestetik. Siswa yang visual dibentuk dalam kelompok visual, begitu pula dengan siswa yang auditori dan kinestetik. Dibentuk dalam kelompok masing-masing sesuai gaya belajar. Lalu guru memberi konten dan intruksi yang berbeda. Tagihan pembelajaran pun berbeda sesuai dengan gaya belajar.

Lalu saya bertanya, dasar teorinya apa ?!, pertanyaan yang sama ketika saya mengisi banyak kegiatan yang kemudian sebagian guru penggerak memiliki pengetahuan tanpa dasar teori seperti di atas. Lalu mereka menyalahkan sanad ilmu mereka yang mengharuskan mereka menerapkan seperti di atas. Saya tidak tahu dasar biasnya dari siapa. Bukan hanya kontestan gupres saja, rerata guru penggerak menerapkan seperti pola di atas.

Misal, seorang guru Kimia memaparkan pembelajaran diferensiasi di hadapan saya. Menceritakan bahwa dia membentuk tiga kelompok belajar dari hasil asesmen gaya belajar yaitu visual, auditori dan kinestetik. Lalu anak visual diberi konten materi melalui video pembelajaran, belajar melalui kelompok, proses diskusi kelompok. Audirori diberi bahan bacaan berbentuk dokumen (konten), salah satu dari siswa membaca hingga teman-teman kelompoknya paham (proses). Sementara anak-anak kinestetik diberi mikroskop, mengamati pergerakan melalui mikroskop, diskusi kelompok dan mengambil kesimpulan. Setiap kelompok siswa presentasi dan mengumpulkan tugas sesuai gaya belajar mereka (diferensiasi produk). Maaf, mendengar saja pada saat itu sudah terasa bagi saya, beliau sedang ngarang.

Tidak seperti itu kita memahami. Dalam buku Quantum Learning dan beberapa referensi di Elsevier misalnya jelas disebut bahwa gaya belajar diperuntukkan bagi penanganan siswa secara pribadi, bukan dijadikan pengelompokan. Perlu dipahami bahwa gaya belajar hanyalah suatu kecenderungan. Bukan sesuatu yang mutlak. Namanya cenderung, tentu saja seorang anak tidak hanya visual, dia juga dapat auditori bersamaan, atau kinestetik. Anak hanya memiliki dominan dari visual, auditori atau kinestetik, bisa jadi juga tidak ada yang dominan, bisa jadi ada dua yang dominan namun unsur lain tetap muncul.
Sehingga untuk pembentukan kelompok belajar, gaya belajar tidak dapat dijadikan panduan. Lagian bagaimana membentuk gaya belajar jika misalnya kecenderungan itu tidak relatif berimbang pada jumlah siswa. Apa mungkin jika hanya dua anak yang kinestetik, lalu hanya dua orang yang memegang mikroskop ?!. Bentuklah kelompok dengan anak yang beragam, kehidupan mereka sehari-hari menuntut mereka untuk berbaur membangun kolaborasi. Buatlah kelompok belajar semisal dengan hasil kognitif mereka yang beragam. Dalam satu kelompok ada yang kemampuan tinggi, sedang dan rendah, lalu guru memberi penanganan secara individu berdasarkan gaya belajar siswa.

Apakah kelompok dapat dibentuk jika anak pintar dalam kelompok pintar, anak sedang sesama anak sedang, anak berkemampuan lemah memiliki kelompok sendiri ?!. Boleh saja, namun jangan lakukan di awal pertemuan. Pembentukan kelompok dengan pola seperti itu pun hanya bersifat sementara, untuk memberikan intensitas pembelajaran yang berbeda-beda.

Sebenarnya pembelajaran berdiferensiasi sudah kerap dilakukan oleh guru. Siswa dibentuk dalam kelompok untuk saling berkolaborasi. Terkadang guru mendekati beberapa siswa yang masih lemah dalam suatu kelompok untuk dijelaskan kembali konsep pembelajaran. Pendekatan individual tersebut merupakan contoh diferensiasi proses. Apalagi jika guru misalnya menarik materi sedikit ke belakang agar terjadi apersepsi bagi siswa, diberikan materi tertentu untuk mengingat kembali dan menguatkan pengetahuan baru, langkah tersebut disebut diferensiasi konten. Bukankah sudah sering dilakukan guru ?!.

Tagihan tugas biarkan secara merdeka dilakukan oleh siswa, kecenderungan gaya belajar akan memudahkan siswa dalam membuat produk pembelajaran mereka. Boleh jadi siswa membuat dalam bentuk video, infografis, teks dokumen. Tanpa perlu memandang gaya belajar mereka apa.herudbudi@gmail.com