28.7 C
Banda Aceh
BerandaLainnyaBudayaAku, Malaikatku, dan Bidadariku

Aku, Malaikatku, dan Bidadariku

Oleh : Muklis Puna 

SANTERDAILY.COM | BANDA ACEH—-Perjalanan menuju Koetaraja berlangsung di hulu subuh. Malam perlahan merambat menuju pagi. Nyanyian jangkrik riuh merebut waktu mengusir keheningan. Udara di ujung malam semakin dingin menggigit kulit. Aku dan dua malaikat kecilku melawan arus pagi menuju kota sejarah peninggalan Belanda. Perjalanan ku dan dua malaikat kecilku adalah menjemput bidadari yang sedang mengikuti pelatihan dari tugas yang diembannya.

Kemarin… Ketika malaikat kecilku yang bungsu kujemput dari pondok pesantren terkenal di kotaku, kubisiikan satu untaian kalimat ajakan di telinganya yang suci” Dek..? Mau gak kita berangkat ke Banda Aceh untuk menjemput bidadari sambil melihat – lihat kegiatan Pekan Kebudayaan Aceh ( PKA) ke- 7 yang sedang berlangsung? Seperti tanah kerontang dihujam air dari langit, jawaban membusur bagai panah melesat dari induknya, Mau yah!, Mau sangaaat…” Emang Bunda dimana Yah? Karena sudah tiga hari yang lalu Sang bidadari ku berangkat, kami sengaja tidak memberitahukan dia.

Dengan menumpangi mobil pribadi Aku dan dua malaikat kecilku berangkat menuju tujuan berharap jumpa dengan bidadari di ujung perjalanan. Malaikat kecilku yang sering kusebut ratu jalanan tampak begitu sumringah. Pukul 4 dini hari dia sudah membangunkanku. Bangun tidur jam 4 dinihari sudah jadi kebiasaan baginya selama ia berada di pesantren. Lalu ia begitu gesit dan lincah mengaruk- ngaruk pintu kamar abangnya agar bersiap -siap untuk berangkat.

Jarum jam menunjukkan arah pukul 4.30. Kamipun berangkat penuh harap. Pikiran dan rasa sudah duluan dikirim lewat angin dalam balutan pesan kepada bidadari. Semua perlengkapan perjalanan sudah disiapkan dari sore hari. Pagi begitu dingin perasaan ngantuk menyerang bola mata . Malaikat kecilku yang pertama adalah cowok , dia adalah calon insiyurku masa depan. Tidur adalah segala galanya baginya. Tanpa basa-basi ia langsung mengambil posisi di samping Aku untuk menenami sang supir. Dua puluh menit mobil merayap di atas aspal ia langsung menyambung mimpi yang tersisa. Tinggal lah aku dan malaikat kecilku yang punya kegemaran jalan- jalan dan cita cita kuliah di negeri Istambul ini menemaniku dalam perjalanan.

Untuk menghindari kebuntuan dalam perjalanan panjang berliku, malaikat kecilku yang lagi belajar di kelas VIII MTs. Ia berceloteh panjang lebar tentang novel- novel islami yang telah dibaca sekitar 14 novel. Hobinya membaca telah mengekor pada sejak dia masih belajar di TK. Novel Novel milik Tere Liye dan Andrea Hirata yang mengulas kisah kisah anak brilian telah dia lahap hingga otaknya begitu lancar ketika mengulang kaji. Sesekali kupancing dengan guyonan agar sarafnya merangsang menghidari kekakuan isi cerita yang disampaikan.

Mobilku terus saja bergulat dengan jalan berkelok dan berliku. Matahari tampak samar samar diufuk timur. Sorotan cahaya bening menyoroti dari arah belakang.Kota kota bersejarah sudah kami taklukkan. Mata semakin berat, ngantuk datang lagi melambai mesra, malakat kecilku tampak pulas di kursi belakang. Entah kapan ceritanya terputus akupun tidak begitu paham.. Kuputuskan berhenti di kota milik sang pahlawan nasional T.Chik Di Tiro di sebuah SPBU untuk merajang matahari pagi dan meluruskan kaki yang kelelahan mencium kloping, pedal rem dan dan pedal gas .

Tiba tiba dari jauh tampaklah sebuah tempat pengisian bahan bakar dan minyak . Aku berbelok, mobilku yange ngos-ngosan berlari kuberi dia jeda untuk rehat sambil melepas keram yang pada roda roda jalanan. Aku, mobilku, dan dua malaikat ku berhenti melepas penatnya perjalanan malam menuju matahari menerpa bumi. Kulihat dua malaikat ku terlelap pulas menata mimpi dalam kepompong sutra. Tak kuasa membangunkan ke dua, akhirnya kuputuskan untuk turun dan menyeruput segelas kopi pengusir kantuk sambil menikmati sebatang lisong pelepas kebuntuan pagi.

Matahari terus merangsek mendaki siang, Aku dan dua malaikat ku terus menapaki lika liku lembah gunung Seulawah Agam dan Selawah Dara. Hawa gunung mulia mengelus elus kulit ari. Pelan- pelan merayap dalam .Di l antara ragam gundukan kokoh yang satu lagi bunting lahar dan lava satu lagi terpaku mendongak langit penuh harap. Hawa dingin menguap menutupi pucuk pucuk daun. Kabut kabut tipis mengarsir jalanan dengan sinar mentari. Aku dan malaikat ku terus melaju menuju Kutaraja.

Bayangan riuh pikuk perayaan budaya masyarakat Aceh di jantung kota tua yrrusy saja menjalar dalam pikiran. Pameran budaya, tarian dari berbagai daerah seolah menggetarkan langit-langit Koetaraja. Aku dan malaikatku terus saja merangsek membelah angin yang menghadang perjalanan menuju bidadari. Sesekali handphone ku berdering menanyakan kabar tentar berapa batas aspal yang telah kutingggalkan sejak malam mengulum matahari dan siang mengusir bulan. Perjalanan begitu asik dan melegakan, sebentar sekejap ada saja pertanyaan dari mulut mulut mungil tentang keberadaan bidadari yang menjadi harapan akhir dari petualangan ini.

Matahari sudah bergeser 45 derjat lintang timur, selawah dara mulai kuturuni sampai ke lembah lembah. Jalan berkelok dihiasi tebing dan jurang kulewati dengan manja. Patahan sinar mematri pungung punggung mobil yang lalu-lalang. Akhirnya aku dan malaikatku sampai juga di gerbang kota yang menelan puluhan jendral Belanda dalam perang panjang menhadapi gerakan heroik dari bangsa yang beradab. Pedal gas kubenam agak dalam biar roda berputar mengalahkan sumbu menuju penginapan sang bidadari. Malaikat kecilku menyapu segala bukti bukti sejarah dengan mata dan jiwa penuh kagum.

Jeda beberapa menit, tiba tiba aku dan dua malaikatku sampai pada kerinduan yang tertahan selama tiga hari bumi mengitari bulan. Bidadari cantik berbalut gaun merah tampak berdiri penuh senyum menyapa kedatanganku. Senyum bibir penuh haru dan rindu mulai memburai keseluruh tubuh. Raut wajah merah jambu dibalut kerudung menambah kegairahan mata dalam menantap dari kejauhan. Malaikat kecilku sudah lama menambang rindu, tiba tiba melompat dan turun dari mobil lalu mendekap bidadari dalam dentingan menit melepas kerinduan.

Perjalanan menjemput bidadari bersama dua malaikatku seperti melipat jarak antara Lhokseumawe dan Kutaraja seolah berlangsung begitu lama dan penuh tantangan.
Akhirnya Aku, malaikatku dan bidadari langsung melepas kangen selama dua hari di Kutaraja.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Stay Connected

31,112FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Must Read

Related News

Indonesia
6,051,205
Total confirmed cases
Updated on May 18, 2022 09:48
Indonesia
156,481
Total deaths
Updated on May 18, 2022 09:48
Indonesia
3,898
Total active cases
Updated on May 18, 2022 09:48